Minggu, 30 November 2014

IRI HATI MEMADAMKAN CINTA (KEJADIAN 37:1-11; 27-28 & 36)


Saudara-saudara kekasih Kristus, bagi saudara yang suka nonton sinetron atau nonton di youtube, maka kita pasti tahu ada satu lagu yang sedang buming saat ini yaitu sakitnya tuh di sini. Ada begitu banyak orang suka mendengarkan lagu itu dan bahkan mensubscribe tayangan video Youtube tersebut. Yah, oke lah kalau memang mau dibilang bahwa dari segi musikalitasnya bagi sebagian orang sangat bagus dan enak untuk dinikmati. Terutama bagi para penikmat genre musik dangdut. It’s oke. Just for fun. Tapi menurut saya keberadaan lagu ini sesungguhnya menggambarkan kondisi dan keberadaan nyata manusia yang kesemuanya pasti punya hati. Oleh karena itu tiap-tiap manusia punya kemungkinan untuk bisa merasakan dan mengalami sakit hati.
                Hal yang sama dialami juga oleh saudara-saudara Yusuf dalam bagian bacaan kita saudara. Kita tahu berdasarkan kesaksian Alkitab bahwa Yusuf yang adalah anak kesayangan Yakub yang kemudian diganti namanya oleh Tuhan menjadi Israel (lihat Kejadian 32:22-32). Terutama di ayat yang ke-28. Di situlah kita dapat menemukan arti kata Israel yaitu engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia; dan engkau menang. Arti nama Israel yang dikenakan Allah pada diri Yakub ini berbeda sekali dengan arti nama Yakub itu sendiri yang berarti seorang penipu (bdk.Kejadian 27:36).
                Saudara-saudara, kembali kepada kisah Yusuf. Bagian bacaan kita mengungkapkan bahwa kala itu Yusuf bermimpi dan ia menceritakan semua mimpinya itu kepada saudara-saudaranya. Mimpi yang pertama yang ia ceritakan adalah mimpi tentang berkas Yusuf yang tegak berdiri sementara berkas-berkas saudaranya sujud menyembah kepadanya. Dan mimpi yang kedua yang juga ia ceritakan kepada saudara-saudaranya adalah tentang matahari, bulan dan sebelas bintang yang sujud menyembah kepadanya. Mendengar kedua cerita itu maka muncullah rasa iri di dalam hati saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf. Dan singkat cerita saudara-saudaranya meluapkan kebencian dan rasa iri hati mereka terhadap Yusuf dalam sebuah niatan untuk mencelakai dan membunuh Yusuf. Kita tahu latar belakang dari kelanjutan cerita ini adalah ketika Yusuf disuruh oleh ayahnya Israel untuk pergi bersama saudara-saudaranya ke hutan untuk berburu. Di sanalah saudara-saudara Yusuf bersiasat untuk mencelakai dan membunuh Yusuf. Namun Ruben, salah satu saudara Yusuf yang saat itu berhasrat untuk melepaskan Yusuf dari tangan saudara-saudaranya yang lain akhirnya mengatakan agar Yusuf jangan dibunuh. Singkat cerita Yusuf yang saat itu sudah sempat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya akhirnya diangkat dari dalam sumur dan akhirnya dijual kepada orang-orang Midian yang lewat di situ. Orang-orang Midian itu pun pada akhirnya menjual Yusuf kepada Potifar, seorang pengawal istana Firaun, kepala pengawal raja di Mesir. Tentu kita yang sudah seringkali mendengar akan kisah ini pasti tahu bagaimana kelanjutan hidup Yusuf setelah itu. Dalam kisah selanjutnya ada kisah dimana Yusuf menjadi orang kepercayaan Potifar di rumahnya. Ada juga kisah tentang Yusuf yang difitnah oleh istri Potifar dan Yusuf di dalam penjara.
                Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan Yusuf dalam segala keadaan hidupnya karena Tuhan tahu bahwa Yusuf adalah orang yang setia kepada Tuhan. Bahkan segala penderitaan yang Yusuf alami dapat dipakai Tuhan untuk menyatakan kasih dan penyertaan Tuhan atas diri Yusuf, dimana kasih dan penyertaan Tuhan itu sangat luar biasa, Kenyataan hidup Yusuf hendak menyatakan maksud Tuhan bahwa manusia bisa merancangkan segala sesuatu yang jahat tetapi Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, terutama bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Demikian juga dengan Yusuf. Ia sudah dapat membuktikan kesetiaan imannya kepada Tuhan dalam segala keadaan hidupnya. Tidak pernah sedetik pun ia meninggalkan Tuhan dan berpaling dari Tuhan. Ia selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, baik dalam suka maupun duka. Oleh karena itu tidak heran kalau Allah begitu mengasihi dia dan senantiasa menyertainya. Kenyataan ini mungkin berbeda dengan kebanyakan orang dunia khususnya di zaman sekarang ini, dimana orang baru akan ingat Tuhan dalam keadaan susah semata. Sementara dalam keadaan senang dan sukses kebanyakan orang melupakan Tuhan dan hanya berupaya menonjolkan dirinya semata. Tentu tidak demikian dengan setiap kita yang mendengarkan Firman Tuhan ini saat ini.
                Saudara-saudara, Yusuf dalam pengandalan dirinya kepada Tuhan telah diberikan oleh Tuhan hikmat dan kemampuan untuk melakukan hal-hal besar dan ajaib. Salah satunya ketika Yusuf dimampukan Tuhan untuk menafsirkan mimpi Firaun akan adanya kekeringan di Mesir. Dan pada akhirnya Yusuf pun diangkat menjadi penguasa di Mesir.
                Tentu semua bukan karena kuat dan gagah Yusuf sendiri, melainkan semua karena pemberian dan rencana Allah atas dirinya. Karena rencana Allah terutama atas orang-orang percaya senantiasa membawa kepada hidup. Berbeda halnya dengan akibat dosa yang senantiasa berujung kepada maut. Demikian pun Yusuf dipakai Tuhan untuk menjadi alat Tuhan atas Bangsa Mesir dan sekitarnya, terutama ketika mereka harus menghadapi masa-masa kekeringan dan kelaparan.
                Saudara-saudara, kenyataan hidup Yusuf telah mempersaksikan di hadapan kita sekalian bahwa Tuhan bisa memakai siapa pun dan peristiwa hidup apapun di dalam segenap kehidupan kita untuk menyatakan kemuliaan, kebesaran dan maksud tujuan Tuhan atas kita pribadi dan kita sekalian. Terlebih ketika di dalam kisah Yusuf kita dapat mengamati bahwa Yusuf tidak balik membenci saudara-saudaranya tetapi ia tetap mengasihi mereka. Bahkan ia sadar benar bahwa apa yang ia alami merupakan bagian dari rencana Tuhan yang memang telah mempersiapkan dirinya untuk dipakai menjadi alat Tuhan ketika Bangsa Mesir dan sekitarnya harus menghadapi kekeringan dan kelaparan.
                Saudara-saudara, kelembutan hati Yusuf yang penuh kasih terhadap saudara-saudaranya yang telah berlaku jahat terhadapnya seyogyanya juga menjadi bagian dari teladan atas sikap hidup kita terhadap sesama kita dan bahkan kepada musuh kita sekalipun. Alkitab berkata kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan kasihilah musuhmu serta berdoalah bagi mereka. Kasih itulah yang merupakan ciri utama iman Kristen saudara. Bahkan di antara iman, pengharapan dan kasih maka kasih mengandung keutamaan nilai dari antara ketiganya. Bahkan dikatakan dalam 1 Korintus 13:1 bahwa sekalipun aku dapat berkata-kata dalam semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
                Saudara-saudara, bukankah kasih adalah buah Roh yang pertama selain sukacita, damai sejahtera dan seterusnya? Bukankah Allah adalah kasih, dimana barangsiapa tinggal di dalam kasih ia tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia? Firman Tuhan senantiasa menyatakan agar kita saling mengasihi seorang terhadap yang lain. Tetapi kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk mengikuti keinginan daging mereka yang sudah jelas berlawanan dengan keinginan Roh. Kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk memelihara dan bahkan membudayakan geram, iri hati dan dengki seorang terhadap yang lain. Kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk mengikuti prinsip homo homini lupus ketimbang saling mengasihi dan mengampuni.
                Kalau kita melihat keberadaan bangsa kita di era reformasi yang nota bene hendak mengarahkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan penuh dengan damai sejahtera, namun kenyataan yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik. Ada begitu banyak kekisruhan dan perpecahan yang bisa kita rasakan terjadi di sekitar kita. Sebut saja pada saat pilpres 2014 lalu terjadi perpecahan antara kubu Prabowo Subianto dengan kubu Presiden Jokowi saat ini. Meskipun demikian kita patut berbangga karena kini keduanya bisa menunjukkan sikap kenegarawanannya masing-masing dan berkomitmen untuk saling dukung satu sama lain. Bahkan Bpk Prabowo Subianto dengan tegas mengatakan bahwa dirinya akan mendukung pemerintahan Jokowi-JK yang telah terpilih secara sah. Tidak berhenti sampai di situ, kita juga diperhadapkan dengan perpecahan antara koalisi merah putih dengan koalisi Indonesia hebat di DPR. Namun bersyukur juga karena proses pendamaian dan penyatuan antara keduanya bisa berjalan dengan baik hingga sekarang. Mari kita terus doakan agar para legislator itu dapat benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk kepentingan golongan. Dari kancah partai politik kita diperhadapkan juga dengan perpecahan yang sempat terjadi di tubuh PPP yang kini telah islah dan berdamai. Pun kini Partai Golkar mengalami perpecahan serupa yang masih diupayakan proses pendamaiannya antara pihak-pihak yang berseteru. Mari kita doakan agar pendamaian dan penyatuan kembali pihak-pihak yang bertikai itu dapat terwujud dengan baik sehingga kedamaian, persatuan dan kesatuan dapat dirasakan secara holistik oleh seluruh komponen bangsa.
                Saudara-saudara, kalau kita mau mengamati dengan jeli apa sebenarnya faktor yang menyebabkan perpecahan demi perpecahan bisa terjadi, maka jawabannya adalah karena adanya rasa iri dan dengki satu terhadap yang lain. Ada juga rasa ingin menjadi yang superior satu terhadap yang lain.
                Saudara-saudara, hal itu tentu tidak akan terjadi ketika kita mau memelihara etos hidup seturut kebenaran Firman Tuhan, yaitu etos hidup yang berlandaskan kasih. Sebagaimana Yusuf yang tidak menaruh dendam terhadap saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat kepadanya, maka kita pun diajak untuk mempraktekkan kasih itu bukan hanya kepada sesama yang juga mengasihi kita melainkan juga kepada musuh kita. Kita diminta untuk mengasihi dan mendoakan mereka. Bahkan kita diminta untuk tidak membalas perlakuan orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita karena pembalasan adalah hak Tuhan. Firman Tuhan dengan jelas berkata: Jika pipi kirimu ditampar maka berikanlah juga pipi kananmu. Mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dilakukan. Untuk itu kita perlu meminta pimpinan dan kemampuan yang daripada Tuhan. Marilah kita menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki yang dapat memadamkan cinta. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.


Minggu, 16 November 2014

YANG MUDA YANG BEKERJA (KOLOSE 3:23)

                                                            
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).”

                Saudara-saudara, orang muda pada umumnya dikenal sebagai orang-orang yang ‘energic’ dan punya semangat hidup yang tinggi. Dan salah satu bukti nyatanya tergambar melalui kegemaran orang-orang muda dalam bekerja serta menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam setiap hal yang dikerjakannya. Ada banyak orang-orang muda Indonesia berprestasi yang dapat kita kenal melalui media. Dan tentunya hal itu membuat kita sebagai bagian dari pemuda Indonesia dapat turut berbangga dan berbesar hati. Bahkan terlebih lagi seharusnya kita juga termotivasi dalam hal mengukir prestasi yang dapat membanggakan bagi diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dan lebih utama lagi adalah membanggakan dan mempermuliakan nama Tuhan.
                Saudara-saudara, itulah spirit etos kerja Kristiani. Kerja tidak hanya dipandang sebagai hal yang dapat membanggakan dan memberi kepuasan pada diri sendiri. Kerja juga tidak hanya dipandang sebagai hal yang dapat membawa manfaat dan kemaslahatan bagi orang lain. Tetapi kerja juga dipandang sebagai hal yang semestinya membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Dalam bahasa latin kita kenal istilah ora et labora atau berdoa dan bekerja. Tetapi juga ada istilah ora est labora atau berdoa adalah bekerja. Dari kedua istilah ini, ora et labora dan ora est labora, maka jelaslah bahwa tiap-tiap kita sebagai insan kristiani hendaknya mempersembahkan diri kita, tubuh kita dan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Tentunya termasuk juga dengan kerja, karya dan karsa kita sepatutnya kita persembahkan bagi Tuhan sebagai bagian dari persembahan kita yang hidup, kudus dan berkenan bagi Allah (lihat Roma 12:1). Dengan demikian ibadah bukan sekedar seremonial belaka. Tetapi melalui hidup, kerja, karya dan karsa kita pun kita sedang beribadah kepada Tuhan. Dengan demikian ibadah yang kita lakukan tiap-tiap hari dan khususnya tiap-tiap minggu di gereja dapat menjadi ibadah yang nyata, dimana buah dari ibadah itu dapat terlihat nyata melalui hidup, kerja, karya dan karsa kita. Dengan demikian kita sedang mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Dengan demikian kita sedang mempersembahkan ibadah kita yang sejati bagi Tuhan. Oleh karena itu penting bagi kita para pemuda untuk mau dan mampu mengobarkan etos kerja di dalam hati, pikiran dan diri kita, yaitu sebuah etos kerja yang sesuai dengan Firman Tuhan sebagaimana ditegaskan dalam bagian bacaan kita bahwa apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bahkan Alkitab juga menegaskan tentang ini. Yaitu bahwa kita harus mempermuliakan Tuhan dengan harta kita. Dan dengan hasil pertama dari segala penghasilan kita (lihat Amsal 3:9). Tentu saudara-saudara, yang dimaksud dengan harta dan penghasilan di sini adalah apa yang kita hasilkan dari kerja kita. Jadi manusia memang pada hakikatnya adalah manusia-manusia yang bekerja. Bahkan Alkitab katakan yang tidak bekerja maka ia tidak akan makan (lihat 2 Tesalonika 3:10). Jadi nyata benar bahwa Allah sangat menghargai orang-orang rajin. Allah sangat menghargai orang-orang yang mau bekerja, karena sekali lagi saya tekankan bahwa pada hakikatnya manusia adalah orang-orang yang bekerja. Bahkan Allah sendiri pun sebagai pencipta kita bukanlah Allah yang diam melainkan Allah yang terus turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dia adalah gembala kita yang baik yang terus bekerja menjaga dan memelihara kita. Bahkan Dia adalah gembala yang terus mencari domba-domba-Nya yang hilang. Bahkan Yesus Kristus semasa hidup-Nya sampai dengan wafat-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya telah memberi bukti nyata dimana Tuhan bekerja di antara manusia. Dia mengajar, membuat mujizat dan menyembuhkan banyak orang. Bahkan Dia membangkitka n orang mati dengan kuasa-Nya yang berasal dari Sorga. Dan Dia sampai akhir karya-Nya di muka bumi ini telah berhasil melakukan karya penyelamatan Allah bagi semua orang, terutama orang percaya.
                Saudara-saudara, sekali lagi saya tekankan kepada kita semua bahwa Yesus Kristus tidak hanya menujukan semua karya-Nya bagi orang-orang di zaman-Nya, tetapi juga bagi kita sekalian. Bahkan ketika Yesus Kristus di waktu keberadaan-Nya di dunia di tengah manusia telah berhasil menyatakan kuasa Allah dengan membangkitkan orang mati, maka Dia pun ingin supaya kita saat ini juga mengalami kebangkitan dari tidur panjang kerohanian kita. Dari kematian spiritualitas kita. Bahkan dalam kehidupan keberimanan kita pun Dia mau supaya kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Oleh karena itu sekaranglah saatnya kita mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan, bukan hanya dalam bentuk persembahan materi. Melainkan lebih daripada itu adalah persembahan diri, persembahan hidup dengan seluruh kerja, karya dan karsa kita, dimana melaluinya kita mempermuliakan nama Tuhan. Itulah yang akan menjadi bukti nyata bahwa kita mencintai Tuhan. Itulah yang akan menjadi bukti nyata bahwa kita menempatkan Tuhan di tempat yang utama dan yang pertama. Pun ketika kita menjadikan Tuhan sebagai landasan di dalam tiap karya kita. Pun ketika kita menjadikan Roh Kudus sebagai pembakar semangat kita dalam bekerja dan melayani Tuhan. Selamat menjadi orang-orang yang terus mau bekerja. Marilah kita kerja, kerja dan kerja! Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

                

Sabtu, 20 September 2014

HIDUP DALAM KEKAYAAN KEMURAHAN TUHAN (ROMA 2:1-16)

                                              

Nats: Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (ayat 4).

                Saudara-saudara, melalui bagian bacaan kita saat ini saya mengajak kita sekalian untuk merenungkan sebuah tema yaitu hidup dalam kekayaan kemurahan Tuhan. Saudara-saudara, kalau kita bicara soal kekayaan, maka percayakah saudara bahwa kekayaan di dunia ini adalah tidak tak terbatas? Artinya kekayaan di dunia ini pasti ada batasnya. Kalau kita lihat dari angka dasarnya saja, maka angka paling mendasar hanya ada di kisaran 0-9. Persoalan bahwa angka tersebut bisa divariasi dan diulang-ulang, itu mungkin adalah persoalan yang berbeda. Dengan demikian keterbatasan kekayaan di dunia ini acap kali membuat definisi kaya menjadi sangat relatif. Sekalipun memang mungkin ada banyak orang di dunia ini yang acap kali merasa tidak puas dengan kekayaan yang dimilikinya dan senantiasa ingin mencari yang lebih dan lebih lagi.
                Saudara-saudara, tidak demikian dengan kekayaan kemurahan Tuhan. Dalam ayat yang keempat yang menjadi nats bagian bacaan kita digambarkan betapa kayanya kekayaan kemurahan Tuhan itu. Dan kekayaan kemurahan Tuhan tentu tidak boleh kita anggap sepi. Demikian juga dengan kesabaran dan kelapangan hati-Nya.  Kekayaan kemurahan Tuhan senantiasa ingin menuntun kita kepada pertobatan. Bahkan dari ayat yang pertama sampai dengan ayat yang ketiga  dengan jelas diungkapkan mengenai hal menghakimi orang lain. Dimana dikatakan di sana bahwa engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab dalam menghakimi orang lain engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain melakukan hal-hal yang sama. Penegasan yang sama diungkapkan juga dalam Matius 7 ayat yang pertama. Dimana dikatakan di sana jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.
                Saudara-saudara, bicara soal penghakiman, mungkin secara sadar atau tidak sadar kita pun sering melakukannya. Salah satunya adalah ketika kita memberikan stereotype kepada orang lain. Si A pasti begini. Si B pasti begitu. Dan seterusnya, dan seterusnya tanpa kita benar-benar mau masuk ke dalam pergumulan yang sesungguhnya dari orang-orang yang kita berikan stereotype tersebut.
                Saudara-saudara, bukankah hukum yang pertama dan terutama adalah hukum kasih sebagaimana yang Kristus ajarkan kepada kita sekalian, dimana kita diminta untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, dan bahkan mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka? Jika hal itu bisa benar-benar tercapai maka saya percaya bahwa benturan-benturan di dalam kehidupan ini akan dapat terminimalisir dan  bahkan ternihilkan dari antara kehidupan kita bersama dengan semua orang tanpa terkecuali. Persoalannya adalah bahwa kita masih seringkali dikuasai dengan keegoisan diri kita sendiri. Bahkan kita melupakan kasih mula-mula yang seharusnya mendasari kehidupan kita sebagai manusia dan sebagai orang percaya.
                Saudara-saudara, melalui bagian bacaan kita saat ini hendak diingatkan kepada kita sekalian bahwa baiklah kita senantiasa melakukan hukum-hukum Tuhan, dimana di dalam ayat yang ke-13 digambarkan dengan jelas bahwa bukanlah orang yang mendengar hukum taurat yang benar di hadapan Allah tetapi orang yang melakukan hukum tauratlah yang akan dibenarkan. Hukum taurat yang dimaksudkan di sini berarti hukum-hukum Tuhan. Dan hukum Tuhan yang utama dan terutama adalah hukum kasih. Oleh karena itu baiklah kita mendasari seluruh kehidupan kita dengan hukum kasih tersebut. Dimana sifat-sifat kasih adalah lemah lembut, memaafkan dan murah hati. Itulah sifat kasih Kristus. Kasih itu jugalah yang perlu terus terpelihara di dalam kehidupan persekutuan orang percaya. Sebagaimana Filipi 2:1-3 dikatakan bahwa karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini. Hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.
                Saudara-saudara, mungkin di antara kita masih ada begitu banyak orang yang belum begitu sempurna dalam melakukan kasih sebagaimana yang Kristus ajarkan. Oleh karena itu baiklah kita sungguh-sungguh bertobat dalam kerangka kita menikmati kekayaan kemurahan Tuhan. Baiklah kita tidak menganggap sepi kekayaan kemurahan Tuhan itu. Baiklah kita berlomba-lomba dalam melakukan kasih. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.



Minggu, 17 Agustus 2014

DIPANGGIL UNTUK MEMERDEKAKAN (YESAYA 58:1-12)



Nats: Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk (ayat 6).

                Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, tepat di hari ini 17 Agustus 2014 enam puluh sembilan tahun yang lalu Bangsa Indonesia mengikrarkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sebagai negara kesatuan yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Untuk itu dalam perenungan di hari ini dengan dasar pembacaan Alkitab yang terambil dari Yesaya 58:1-12 saya mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema, yaitu “Dipanggil Untuk Memerdekakan.”
                Saudara-saudara, tentu kita semua setuju bahwa Tuhan menciptakan kita bukanlah tanpa tujuan bukan? Tujuan besar dari penciptaan Allah atas manusia sebagai mahluk ciptaan yang sempurna yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya tidak lain dan tidak bukan adalah agar kita mempermuliakan dan menyembah-Nya. Saya sangat suka sekali dengan lagu yang mengatakan bahwa ku ada untuk menjadi penyembah-Mu. Dalam kaitan dengan tujuan besar itu maka kita juga pasti setuju bahwa di dalam diri tiap-tiap umat manusia khususnya ora ng percaya Tuhan pasti memberikan passion atau panggilan. Salah satu contohnya ketika saya dan rekan-rekan seangkatan di STT Jakarta pada saat tes wawancara calon mahasiswa baru acap kali berhadapan dengan pertanyaan ini: apa yang mendorong kamu masuk sekolah teologi? Maka banyak diantara kami yang mengatakan bahwa itu adalah panggilan pak. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan: mana surat panggilannya? Bahkan sebenarnya kalau kita mau melihat dan mengamati fakta yang ada, maka passion itu sudah ada bahkan sejak usia dini melalui cita-cita di masa kanak-kanak kita.
                Memang bukan hal yang keliru untuk bercita-cita setinggi langit. Bukan hal yang keliru juga untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya demi mencapai cita-cita itu. Sehingga tidak heran ada ungkapan yang mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Artinya memang tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Bahkan kita pahami juga bahwa sesungguhnya belajar itu tidak mengenal batas. Pun hidup kita di dunia ini acap kali dimaknai sebagai sekolah kehidupan. Itu artinya orang memang tidak boleh berhenti belajar. Dalam bahasa yang lebih Kristiani hendak dikatakan bahwa orang perlu terus bergumul dan berjuang bersama Tuhan dan di dalam Tuhan, karena Dialah Sang Guru sejati kita. Dialah sumber dari segala sumber jawaban atas segala pergumulan hidup kita. Oleh karena itu kita perlu terus mencari Dia selagi Dia masih bisa ditemui. Artinya di sepanjang kehidupan kita jangan sekali-kali pun kita melepaskan diri dari pada-Nya. Bergaul kariblah dengan Dia karena Dialah Tuhan, Bapa dan Sahabat kita. Dialah Allah yang senantiasa mengerti dan peduli akan pergumulan hidup kita. Bahkan Dia juga yang mau turut berbela rasa dengan kita. Sungguh Dialah Allah yang luar biasa. Tidak ada Allah lain yang seperti Dia.
                Yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagi kita adalah ketika Tuhan memang sungguh-sungguh telah memberikan passion yang juga diperlengkapi dengan talenta di dalam diri kita, maka apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan agar kita lakukan di dalam hidup kita atas semua yang telah dianugerahkan-Nya pada kita? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa Dia mau agar kita menyediakan diri kita untuk mendengar dan menerima panggilan-Nya. Terutama ketika kita dipanggil –Nya untuk memerdekakan sesama kita. Sebagaimana digambarkan dalam bagian bacaan kita saat ini bahwa Tuhan memerintahkan kepada Nabi Yesaya untuk menyerukan kuat-kuat dan menyaringkan suaranya kepada Bangsa Israel, kaum keturunan Yakub akan dosa-dosa mereka. Padahal Alkitab katakan bahwa betapa kaum keturunan Yakub itu adalah orang-orang yang rajin mencari Tuhan dan suka mengenal segala jalan-Nya. Mereka seperti bangsa yang melakukan yang benar dan tidak pernah meninggalkan hukum Allahnya. Mereka rajin bertanya pada Tuhan tentang hukum-hukum yang benar dan mereka suka mendekat menghadap Allah. Namun nyatanya ketika mereka berpuasa mereka sadar bahwa Tuhan tidak memperhatikannya juga. Ketika mereka merendahkan diri, Tuhan tidak mengindahkannya juga. Apa sebabnya hal itu bisa terjadi? Karena pada saat mereka melakukan  semua hal kerohanian mereka di hadapan Allah, maka pada saat yang sama mereka masih mengurusi urusan mereka sendiri. Bahkan secara konkret bagian bacaan kita menyebutkan detail tindakan mereka, dimana mereka mendesak-desak buruh yang mereka miliki. Sambil berpuasa mereka juga berbantah dan berkelahi; serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-men a. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa dengan cara-cara seperti itu maka tindakan kerohanian yang mereka lakukan di hadapan Allah menjadi sia-sia karena suara mereka tidak akan didengar di tempat tinggi. Bukan cara seperti itu yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Ayat ke-6 yang merupakan nats bagian bacaan kita mengungkapkan dengan jelas bahwa berpuasa yang Allah kehendaki adalah supaya kita membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk. Supaya kita memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk. Supaya kita memecah-mecahkan roti bagi orang yang lapar dan membawa ke rumah kita orang miskin yang tak punya rumah. Pun apabila kita melihat orang telanjang, kita memberi dia pakaian. Dan kita tidak menyembunyikan diri terhadap saudara kita sendiri. Maka pada waktu itulah terang kita akan merekah seperti fajar. Pun luka kita akan pulih dengan segera. Kebenaran menjadi barisan depan kita dan kemuliaan Tuhan barisan belakang kita. Pada waktu itulah kita akan memanggil dan Tuhan akan menjawab. Kita akan berteriak minta tolong dan Tuhan akan berkata “Ini Aku!”

                Sungguh, Tuhan kita adalah Tuhan yang senantiasa mau peduli dengan kita karena Dia sungguh mengasihi kita dengan kasih agape. Dan Dia pun tidak ingin kita hanya menjadi orang-orang yang pasif dalam menerima kasih-Nya. Melainkan Dia ingin agar kita mau menyediakan diri kita untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya sebagaimana telah tergambar di dalam bagian bacaan kita. Sebagai orang-orang percaya yang telah menerima anugerah kemerdekaan dan kebebasan dari dosa dan maut melalui karya penyelamatan dan penebusan Kristus, maka sudah pasti Dia pun memanggil kita juga untuk siap sedia dipanggil untuk memerdekakan sesama kita. Kalau dalam tradisi Perjanjian Lama kita mengenal tahun yobel yang merupakan tahun pembebasan para budak dan tanah; tahun ke-50 dari rangkaian tahun sabat, maka tradisi itu telah disempurnakan pasca kematian dan kebangkitan Kristus sampai dengan saat ini dan seterusnya. Tiap-tiap kita yang telah diselamatkan dan telah menerima janji keselamatan dan hidup kekal yang berasal daripada-Nya, kini dipanggil-Nya untuk menjadi saksi-Nya untuk membawa jiwa-jiwa yang terbelenggu dalam kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Kita diminta untuk mau mengulurkan tangan kita kepada orang-orang yang membutuhkan sebagaimana tangan Tuhan juga tidak kurang panjang untuk menolong kita. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

TUHAN MENGANGKAT KITA DARI SAMUDERA RAYA

                                               
                Rancangan tema lengkap dari artikel ini adalah “Tuhan Mengangkat Kita Dari Samudera Raya: Sebuah Refleksi Tentang Pemilihan Tuhan Atas Suku-Suku Bangsa & Dunia.” Bagi kita yang sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan event bergereja dalam skala nasional yang digawangi oleh PGI, maka kita pasti tahu bahwa tema ini merupakan tema besar pada sidang raya PGI yang ke-XVI yang diadakan di Nias pada tanggal 11-17 November 2014 pasca proses pergantian kepemimpinan nasional di Indonesia terlaksana (Sumber:  https://twitter.com/PGI_Oikoumene/status/44902160351534694). Dasar Alkitab yang melandasi pemilihan tema ini terambil dari Mazmur 71:20b yang berbunyi “Dari Samudera Raya Bumi, Tuhan mengangkat kita kembali.” Pemilihan tema ini juga seiring sejalan dengan tema sidang raya DGD ke-X di Busan Korsel, yaitu “GOD of Life, Lead Us to Justice And Peace.” Dalam terjemahan Bahasa Indonesia tema ini berbunyi: “Allah Sang Sumber Hidup Memimpin Kami Dalam Keadilan & Perdamaian.” Tema ini menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas dalam forum nasional dan dunia, karena sampai saat ini dimana-mana tempat masih banyak dapat kita temukan ketidakadilan dan ketidakdamaian dalam hidup pribadi lepas pribadi manusia maupun komunitas bersama. Pemilihan Nias sebagai tempat lokasi persidangan raya PGI ke-XVI itu sendiri terkait dengan latar belakang alasan sebagai berikut: Nias pernah mengalami terjangan gelombang tsunami pada Desember 2005 dan gempa bumi dasyat pada Juli 2007. Namun Nias dapat mengalami kebangkitan dari keterpurukannya. Di hari-hari belakangan ini kita dapat melihat geliat pertumbuhan ekonomi di Nias semakin menggembirakan. Pemekaran wilayah otonom turut mendorong akan hal ini (Sumber: http://www.satuharapan.com).   Oleh karena itu slogan yang dipakai berdasarkan sumber pemberitaan yang ada khususnya yang diperuntukkan bagi orang Nias adalah: Nias bangkit menyambut Sidang Raya. Dengan demikian pemilihan Nias sebagai tempat lokasi Sidang Raya PGI ke-XVI ini tidak lain dan tidak bukan merupakan sebuah bentuk perhatian, dukungan dan penghargaan atas upaya orang-orang Nias untuk bangkit dari keterpurukan. Sekaligus juga menjadi cerminan bagi siapapun yang masih mengalami keterpurukan hingga saat ini untuk tidak berdiam diri dalam keterpurukannya, melainkan berupaya untuk bangkit dalam tuntunan tangan dan kuasa Tuhan yang pasti mampu membangkitkan. Bandingkan dengan kisah-kisah Yesus di dalam Alkitab yang mampu membangkitkan orang mati. Ketika kata mati itu mau diterjemahkan dan diaplikasikan di dalam kehidupan kita, mungkin mati yang dimaksud bukanlah mati fisik melainkan kematian moral, kematian hati nurani dan kematian daya juang. Termasuk daya juang untuk menjadi pelaku Firman dan pekabar injil atau saksi Kristus dimanapun kita berada dan ditempatkan Tuhan; dan kapan pun juga. Kematian spirit inilah yang menyebabkan praktek-praktek ketidakadilan, makin menguatnya radikalisme dan konflik agraria serta krisis ekologis terus harus menjadi sorotan, termasuk dalam materi persidangan raya PGI ke-XVI.
                Namun dalam artikel ini penulis sendiri hendak menyoroti dan menafsirkan dari sisi yang lain. Bukan hanya sekedar berbicara mengenai kebangkitan dari keterpurukan, tetapi ungkapan bahwa Tuhan mengangkat kita dari samudera raya di sini juga hendak berbicara mengenai pemilihan Tuhan atas suku-suku bangsa di Indonesia dan di dunia. Kita ketahui bersama bahwa sejak awal penciptaan khususnya setelah manusia Adam dan Hawa diciptakan maka Allah memberikan mandat kepada mereka untuk beranak cucu dan bertambah banyak. Memenuhi bumi dan menaklukkannya. Kata menaklukkan di sini dapat ditafsirkan bukan sekedar tindakan menguasai dan mengeksploitasi tetapi juga memelihara demi keberlangsungan hidup anak cucu Adam dan Hawa ke depan, yaitu kita dan generasi-generasi berikutnya setelah kita. Oleh karena itu kita harus benar-benar menyadari bahwa alam semesta yang dapat kita nikmati sekarang merupakan titipan dari anak cucu kita yang harus kita jaga serta pelihara senantiasa. Itu adalah gambaran nilai universalitas dari kehendak Tuhan atas umat manusia ciptaan-Nya yang tinggal dan berdiam di muka bumi ini. Namun demikian bagaimana dengan gambaran spesifikasi kehendak Tuhan terutama bagi orang-orang percaya? Pada kesempatan ini penulis ingin menyoroti secara khusus akan hal ini.
                Kebenaran Alkitab dengan tegas mengungkapkan kepada setiap kita bahwa bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Sehingga terlihat jelas bahwa keterpilihan umat Allah adalah berdasarkan inisiatif dan otoritas Allah sendiri. Dialah sang penentu akan siapa-siapa orang yang dipilih-Nya dan ditentukan-Nya untuk menjadi umat pilihan-Nya dan milik kepunyaan-Nya (bandingkan dengan istilah predestinasi atau pemilihan Allah atas orang-orang yang akan diselamatkan-Nya). Ungkapan ini sungguh-sungguh ingin menunjukkan tentang kedaulatan Allah dalam kaitan kepada siapa Dia akan menyatakan anugerah-Nya. Dan ketika kita saat ini sudah menjadi bagian dari orang-orang percaya dan menjadi bagian dari anggota gereja Tuhan di muka bumi ini (dalam ungkapan yang lain menjadi bagian dari anggota tubuh Kristus) apa dan bagaimana pun latar belakangnya (baik itu Kristen sejak kecil maupun Kristen setelah dewasa) yang ditandai dengan penerimaan baptisan dan pengakuan percaya atau SIDI, maka Tuhan memerintahkan kepada kita melalui Amanat Agung-Nya: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ajarkanlah kepada mereka tentang segala apa yang telah Kuajarkan kepadamu.” Dia pun berkata lebih lanjut bahwa Dia akan menyertai langkah kita sebagai saksi-Nya di tengah dunia senantiasa dan bahkan sampai selama-lamanya. Dia memerintahkan kita untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi.” Dengan demikian pemilihan Tuhan atas kita yang sepatutnya kita syukuri sebagai sebuah anugerah yang besar dan indah itu tentu tidak hanya berhenti pada penerimaan anugerah atas diri kita semata, tetapi bagaimana kita mau membagikan anugerah dan berita keselamatan itu kepada orang-orang di sekitar kita dengan berbagai latar belakang suku, budaya dan bahasa. Sampai akan tiba saatnya nanti semua lutut akan bertelut dan semua lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristuslah Tuhan, Raja di atas segala raja. Dalam penantian akan datangnya masa itu, maka dalam keberadaan kita sebagai orang percaya di tengah dunia saat ini, mandat itu ada di pundak kita. Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku... Oleh karena itu, jangan hanya berdiam diri. Mintalah kepada Tuhan kemampuan dan kesanggupan agar kita memiliki hati yang mau melayani dan menjadi saksi yang mau melampaui batasan-batasan kesukuan, kebangsaan, bahasa dan budaya, karena siapapun mereka dengan berbagai perbedaan yang ada, mereka sama-sama adalah manusia yang diciptakan Tuhan dengan baik adanya. Mereka adalah sama-sama manusia yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah atau Imago Dei. Mereka adalah sama-sama manusia yang membutuhkan berita dan anugerah keselamatan yang datang daripada Tuhan. Oleh karena itu, jangan tunda-tunda lagi. Mulailah sekarang untuk mau berbagi dan mempersaksikan tentang siapa Tuhan kepada siapa pun sesama kita tanpa terkecuali, terutama kepada siapa pun orang yang belum mengenal-Nya. Selamat menjadi saksi-Nya senantiasa. Selamat menembus batas keberagaman dalam menjalankan fungsi dan peran kita sebagai saksi Tuhan. Tuhan memberkati kita sekalian. MERDEKA!