CATATANKU ERICKTJONG adalah blog yang berisi tentang catatan reflektif spiritual dan catatan-catatan kritis mengenai berbagai-bagai pokok persoalan.
Rabu, 24 Desember 2014
Natal, Kristus Lahir? Berefleksi Dari Efesus 3:14-17
Pembaca yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kalau kita mengamati secara harafiah tema ini, kita mungkin akan bertanya kenapa tema ini justru mempertanyakan tentang kelahiran Kristus? Bukankah natal memang merupakan sebuah peringatan dan perayaan akan kelahiran Kristus? Tapi kenapa tema ini justru mempertanyakan akan hal itu?
Saudara-saudara, saya justru ingin menegaskan kepada kita sekalian bahwa tema ini sama sekali bukan untuk mempertanyakan kebenaran tentang sejarah kelahiran Tuhan Yesus Kristus sebagaimana dipersaksikan di dalam Alkitab, Firman Allah. Penulis (red’saya) tentulah sangat percaya dan mengimani sepenuhnya kebenaran Firman Tuhan yang adalah ya dan amin. Jadi sangat tidak mungkin saya ingin mempertanyakan kebenaran tentang kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia dalam perspektif sejarah Tuhan sebagaimana dipersaksikan kebenarannya di dalam Alkitab. Namun yang ingin saya tuju dan soroti di sini adalah justru perihal kelahiran Tuhan Yesus Kristus di dalam hati setiap kita sebagai orang percaya. Karena saya percaya bahwa natal tidak hanya berhenti pada peringatan dan perayaan kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia secara fisik semata, melainkan akan berlanjut pada pertanyaan dan pergumulan tentang apakah Yesus Kristus sudah benar-benar lahir, hadir, meraja dan memerintah di dalam hati kita?
Saudara-saudara, sebagai orang percaya tentu kita beriman dan percaya kepada-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Iman percaya kita itu pun didukung oleh kebenaran Firman Tuhan yang mempersaksikan kebenaran-Nya yang hakiki. Salah satunya kita bisa lihat di dalam Injil Yohanes 3:16, dimana dikatakan di sana bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dengan demikian beriman dan percaya kepada Tuhan menjadi hal yang sangat penting bagi setiap kita. Memelihara iman dan percaya kita kepada Tuhan pun menjadi hal yang sangat penting. Pun mengaplikasikan iman percaya kita dalam tindakan nyata di dalam keseharian hidup kita juga menjadi hal yang sangat penting. Karena melalui tindakan nyata kitalah maka sesungguhnya kita sedang mempersaksikan kebenaran iman kita kepada sesama kita, terutama bagi mereka yang belum percaya. Dengan demikian iman kita bukanlah menjadi iman yang mati melainkan menjadi iman yang hidup (bdk.Yakobus 2:14-26). Dalam kaitan pemeliharaan iman kita secara pribadi pun Tuhan senantiasa mengingatkan kepada kita melalui Firman-Nya agar kita tidak sekali-kali pun menjauhkan diri dari persekutuan ibadah (bdk. Ibrani 10:25). Karena hanya melalui persekutuan ibadahlah kita dapat senantiasa disegarkan akan kebenaran Firman Tuhan bagi pertumbuhan dan penyegaran iman kita (bdk.1 Korintus 3:6). Dalam 1 Korintus 3:6 memang dikatakan bahwa Allah yang memberi pertumbuhan. Tetapi Allah juga memakai setiap orang yang dipilih dan dipakai-Nya sebagai rekan sekerja di ladang-Nya untuk bersama-sama membangun jemaat dan memberi penyegaran di dalam pertumbuhan, perkembangan dan penyegaran iman jemaat. Dalam masa-masa sekarang ini kita dapat melihat peran tersebut khususnya dalam peran pendeta dan para pekabar Injil. Dengan demikian tidak seharusnya membuat setiap kita yang bukan merupakan pejabat khusus gerejawi (red’pendeta) menjadi perlu dan harus berkecil hati. Karena setiap kita pun dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi. Yerusalem acap kali mau menggambarkan tentang internal diri kita sendiri, keluarga kita dan orang-orang yang dekat dengan kita. Memang benar saudara-saudara bahwa sebelum Tuhan mempercayakan kita perkara yang besar, Tuhan acap kali ingin melihat kesetiaan kita di dalam perkara yang lebih kecil terlebih dahulu. Barulah Ia akan mempercayakan kita perkara yang lebih besar sesuai dengan waktu, kehendak dan rencana-Nya. Demikian pun sebelum kita berbicara tentang perkara membangun jemaat dan atau membangun bangsa dan negara dalam konteks yang lebih luas, maka kita acap kali perlu diuji perihal kemampuan kita membangun diri kita sendiri dan atau keluarga kita. Karena keluarga adalah merupakan bagian terkecil dari jemaat dan atau negara. Jadi jangan tunda waktunya untuk menjadi saksi-Nya. Langkah pertama adalah di dalam dan melalui keluarga kita sendiri. Marilah kita terus berupaya membangun keluarga kita sehingga keluarga kita dapat menjadi keluarga yang mampu mempersaksikan kasih, kemurahan dan kuasa Tuhan bagi sesama dan jemaat. Marilah kita menjadikan bahtera keluarga kita menjadi bagian dari bahtera keluarga Kerajaan Allah. Marilah kita benar-benar menyadari bahwa kita adalah warga Kerajaan Allah yang ditempatkan Tuhan di tengah dunia ini untuk menjadi perpanjangan tangan dan mulut Allah. Dengan kesadaran akan hal itu kita akan senantiasa terdorong untuk mempersaksikan kebenaran, keadilan dan kasih Allah bagi dunia dimanapun kita ditempatkan. Jangan pernah menganggap kecil peran kita bagi kemuliaan nama-Nya, melainkan apapun peran kita lakukanlah itu untuk kemuliaan nama Tuhan dan menjadi kesaksian tentang-Nya. Apapun yang kita perbuat, perbuatlah dengan segenap hati kita seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (lihat Kolose 3:23). Dengan demikian jelaslah bahwa kita perlu mempersembahkan seluruh hidup dan diri kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan karena itu adalah ibadah kita yang sejati (lihat Roma 12:1). Jadi jelaslah bahwa hidup kita bukanlah milik kita lagi melainkan hidup kita adalah milik Tuhan. Karena kita adalah orang-orang yang telah ditebus Tuhan dan harganya telah lunas dibayar.Dengan demikian sekarang kita menjadi milik kepunyaan-Nya. Jadi menjadi hal yang sangat wajar ketika Tuhan menuntut kita untuk menjadi saksi-Nya, perpanjangan tangan dan mulut-Nya. Menjadi hal yang sangat wajar ketika Tuhan meminta kita melayani-Nya melalui apapun talenta yang diberikan-Nya kepada kita. Terlebih ketika Kristus sungguh-sungguh lahir di dalam hati kita. Maka setiap kita dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi kitab-kitab terbuka yang dapat dibaca oleh sesama kita. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan dalam rangka menunjukkan identitas keberimanan kita kepada Tuhan, baik dalam kaitan hubungan vertikal kita dengam Tuhan maupun dalam hubungan horisontal kita dengan sesama? Jawabannya ada di dalam Efesus 3:14-17. Dalam kaitan hubungan vertikal kita dengan Tuhan maka kita perlu terus menjaga relasi dan komunikasi kita dengan Bapa. Kita perlu terus berdoa kepada-Nya supaya Ia menurut kekayaan kemuliaan-Nya menguatkan dan meneguhkan iman kita melalui Roh Kudus-Nya di dalam batin kita (lihat ayat 14-16). Barulah dengan demikian kita dapat benar-benar mengalami bahwa Kristus diam di dalam hati kita dan kita dapat berakar serta berdasar di dalam kasih. Setelah itu kita pasti akan dimampukan untuk mempersaksikan kasih Allah di dalam hidup kita dan melalui hidup kita kepada sesama.
Saudara-saudara, natal niscaya akan senantiasa berbicara dan mengungkapkan tentang kasih. Tanpa kasih Allah yang begitu besar akan dunia ini, maka Kristus tidak akan terlahir ke dalam dunia untuk melaksanakan karya penyelamatan Allah atas umat manusia dan keutuhan ciptaan. Hal ini juga sudah pasti akan mempersaksikan kebenaran tentang hakikat Allah yang adalah kasih. Bahkan dikatakan di dalam 1 Yohanes 4:16 bahwa barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan demikian natal seharusnya senantiasa mengingatkan kita akan kasih Allah dan meneguhkan keterpanggilan kita untuk menjadi agen-agen penyalur kasih Allah atas dunia ini. Ketika kita mengatakan bahwa Kristus telah lahir di dalam hati kita, maka pastilah yang akan terpancar dari dalam diri kita adalah kasih, kebenaran dan keadilan Allah. Dan itulah yang pasti akan senantiasa kita wujudnyatakan di dalam hidup kita bersama dengan sesama dimanapun dan kapanpun. Oleh karena itu, melalui renungan ini saya mengajak kita sekalian secara bersama-sama mengintrospeksi diri dan merefleksikan diri kita. Sudahkah yang terbaik kita berikan bagi Tuhan? Berapa yang terhilang telah kita cari? Sudahkah kita bebaskan yang terbelenggu? Atau justru kita biarkan tegar mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan tangan Tuhan melalui keberadaan kita? Melalui renungan ini kita diajak untuk bersama-sama merenungkan, meresapi dan melakukan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan ingin agar ketika kita sungguh-sungguh sadar bahwa Kristus telah lahir di dalam hati kita, maka kita pun mau sungguh-sungguh mewartakan kasih, kebenaran dan keadilan Tuhan kepada sesama. Bukan hanya melalui mulut kita. Tetapi juga melalui tindakan nyata kita kepada sesama kita. Ketika kita sungguh-sungguh menyadari bahwa di tengah masyarakat kita dan dunia masih ada begitu banyak orang terbelenggu yang perlu ditolong, maka kita juga akan siap dipanggil dan ditempatkan Tuhan di tengah-tengah keberadaan mereka. Bukan justru mengambil jarak atas keberadaan mereka dan tetap mau berada di dalam kondisi kenyamanan kita. Melainkan mau terjun dan ambil bagian dalam ketidaknyamanan sesama kita dan menolong mereka keluar dari kondisi ketidaknyamanan yang mereka alami. Mau berbagi dan berbela rasa dengan mereka sebagaimana Kristus juga mau berbagi dan berbela rasa dengan umat manusia. Itulah yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan, terutama di dalam kita menyambut natal yang menjadi momentum kelahiran Kristus ke dalam dunia, dan bahkan menjadi momentum kelahiran Kristus di dalam hati kita. Sebagaimana Filipi 2:1-3 mengatakan: Jadi karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. Perhatikan ayat yang ke-3. Selamat natal 2014 dan tahun baru 2015. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
Rabu, 03 Desember 2014
Minggu, 30 November 2014
IRI HATI MEMADAMKAN CINTA (KEJADIAN 37:1-11; 27-28 & 36)
Saudara-saudara kekasih Kristus, bagi saudara yang
suka nonton sinetron atau nonton di youtube, maka kita pasti tahu ada satu lagu
yang sedang buming saat ini yaitu sakitnya tuh di sini. Ada begitu banyak orang
suka mendengarkan lagu itu dan bahkan mensubscribe tayangan video Youtube
tersebut. Yah, oke lah kalau memang mau dibilang bahwa dari segi musikalitasnya
bagi sebagian orang sangat bagus dan enak untuk dinikmati. Terutama bagi para
penikmat genre musik dangdut. It’s oke. Just for fun. Tapi menurut saya
keberadaan lagu ini sesungguhnya menggambarkan kondisi dan keberadaan nyata
manusia yang kesemuanya pasti punya hati. Oleh karena itu tiap-tiap manusia
punya kemungkinan untuk bisa merasakan dan mengalami sakit hati.
Hal yang sama
dialami juga oleh saudara-saudara Yusuf dalam bagian bacaan kita saudara. Kita
tahu berdasarkan kesaksian Alkitab bahwa Yusuf yang adalah anak kesayangan
Yakub yang kemudian diganti namanya oleh Tuhan menjadi Israel (lihat Kejadian
32:22-32). Terutama di ayat yang ke-28. Di situlah kita dapat menemukan arti
kata Israel yaitu engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia; dan engkau
menang. Arti nama Israel yang dikenakan Allah pada diri Yakub ini berbeda
sekali dengan arti nama Yakub itu sendiri yang berarti seorang penipu
(bdk.Kejadian 27:36).
Saudara-saudara,
kembali kepada kisah Yusuf. Bagian bacaan kita mengungkapkan bahwa kala itu Yusuf
bermimpi dan ia menceritakan semua mimpinya itu kepada saudara-saudaranya.
Mimpi yang pertama yang ia ceritakan adalah mimpi tentang berkas Yusuf yang
tegak berdiri sementara berkas-berkas saudaranya sujud menyembah kepadanya. Dan
mimpi yang kedua yang juga ia ceritakan kepada saudara-saudaranya adalah
tentang matahari, bulan dan sebelas bintang yang sujud menyembah kepadanya.
Mendengar kedua cerita itu maka muncullah rasa iri di dalam hati
saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf. Dan singkat cerita saudara-saudaranya
meluapkan kebencian dan rasa iri hati mereka terhadap Yusuf dalam sebuah niatan
untuk mencelakai dan membunuh Yusuf. Kita tahu latar belakang dari kelanjutan
cerita ini adalah ketika Yusuf disuruh oleh ayahnya Israel untuk pergi bersama
saudara-saudaranya ke hutan untuk berburu. Di sanalah saudara-saudara Yusuf
bersiasat untuk mencelakai dan membunuh Yusuf. Namun Ruben, salah satu saudara
Yusuf yang saat itu berhasrat untuk melepaskan Yusuf dari tangan
saudara-saudaranya yang lain akhirnya mengatakan agar Yusuf jangan dibunuh.
Singkat cerita Yusuf yang saat itu sudah sempat dimasukkan ke dalam sumur oleh
saudara-saudaranya akhirnya diangkat dari dalam sumur dan akhirnya dijual
kepada orang-orang Midian yang lewat di situ. Orang-orang Midian itu pun pada
akhirnya menjual Yusuf kepada Potifar, seorang pengawal istana Firaun, kepala
pengawal raja di Mesir. Tentu kita yang sudah seringkali mendengar akan kisah
ini pasti tahu bagaimana kelanjutan hidup Yusuf setelah itu. Dalam kisah
selanjutnya ada kisah dimana Yusuf menjadi orang kepercayaan Potifar di
rumahnya. Ada juga kisah tentang Yusuf yang difitnah oleh istri Potifar dan
Yusuf di dalam penjara.
Namun Tuhan tidak
pernah meninggalkan Yusuf dalam segala keadaan hidupnya karena Tuhan tahu bahwa
Yusuf adalah orang yang setia kepada Tuhan. Bahkan segala penderitaan yang
Yusuf alami dapat dipakai Tuhan untuk menyatakan kasih dan penyertaan Tuhan
atas diri Yusuf, dimana kasih dan penyertaan Tuhan itu sangat luar biasa,
Kenyataan hidup Yusuf hendak menyatakan maksud Tuhan bahwa manusia bisa
merancangkan segala sesuatu yang jahat tetapi Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, terutama bagi mereka yang percaya
kepada-Nya. Demikian juga dengan Yusuf. Ia sudah dapat membuktikan kesetiaan
imannya kepada Tuhan dalam segala keadaan hidupnya. Tidak pernah sedetik pun ia
meninggalkan Tuhan dan berpaling dari Tuhan. Ia selalu mengandalkan Tuhan dalam
hidupnya, baik dalam suka maupun duka. Oleh karena itu tidak heran kalau Allah
begitu mengasihi dia dan senantiasa menyertainya. Kenyataan ini mungkin berbeda
dengan kebanyakan orang dunia khususnya di zaman sekarang ini, dimana orang
baru akan ingat Tuhan dalam keadaan susah semata. Sementara dalam keadaan
senang dan sukses kebanyakan orang melupakan Tuhan dan hanya berupaya
menonjolkan dirinya semata. Tentu tidak demikian dengan setiap kita yang
mendengarkan Firman Tuhan ini saat ini.
Saudara-saudara,
Yusuf dalam pengandalan dirinya kepada Tuhan telah diberikan oleh Tuhan hikmat
dan kemampuan untuk melakukan hal-hal besar dan ajaib. Salah satunya ketika
Yusuf dimampukan Tuhan untuk menafsirkan mimpi Firaun akan adanya kekeringan di
Mesir. Dan pada akhirnya Yusuf pun diangkat menjadi penguasa di Mesir.
Tentu semua bukan
karena kuat dan gagah Yusuf sendiri, melainkan semua karena pemberian dan
rencana Allah atas dirinya. Karena rencana Allah terutama atas orang-orang
percaya senantiasa membawa kepada hidup. Berbeda halnya dengan akibat dosa yang
senantiasa berujung kepada maut. Demikian pun Yusuf dipakai Tuhan untuk menjadi
alat Tuhan atas Bangsa Mesir dan sekitarnya, terutama ketika mereka harus
menghadapi masa-masa kekeringan dan kelaparan.
Saudara-saudara,
kenyataan hidup Yusuf telah mempersaksikan di hadapan kita sekalian bahwa Tuhan
bisa memakai siapa pun dan peristiwa hidup apapun di dalam segenap kehidupan
kita untuk menyatakan kemuliaan, kebesaran dan maksud tujuan Tuhan atas kita
pribadi dan kita sekalian. Terlebih ketika di dalam kisah Yusuf kita dapat
mengamati bahwa Yusuf tidak balik membenci saudara-saudaranya tetapi ia tetap
mengasihi mereka. Bahkan ia sadar benar bahwa apa yang ia alami merupakan
bagian dari rencana Tuhan yang memang telah mempersiapkan dirinya untuk dipakai
menjadi alat Tuhan ketika Bangsa Mesir dan sekitarnya harus menghadapi
kekeringan dan kelaparan.
Saudara-saudara,
kelembutan hati Yusuf yang penuh kasih terhadap saudara-saudaranya yang telah
berlaku jahat terhadapnya seyogyanya juga menjadi bagian dari teladan atas
sikap hidup kita terhadap sesama kita dan bahkan kepada musuh kita sekalipun.
Alkitab berkata kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan
kasihilah musuhmu serta berdoalah bagi mereka. Kasih itulah yang merupakan ciri
utama iman Kristen saudara. Bahkan di antara iman, pengharapan dan kasih maka
kasih mengandung keutamaan nilai dari antara ketiganya. Bahkan dikatakan dalam
1 Korintus 13:1 bahwa sekalipun aku dapat berkata-kata dalam semua bahasa
manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama
dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Saudara-saudara,
bukankah kasih adalah buah Roh yang pertama selain sukacita, damai sejahtera
dan seterusnya? Bukankah Allah adalah kasih, dimana barangsiapa tinggal di
dalam kasih ia tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia? Firman Tuhan
senantiasa menyatakan agar kita saling mengasihi seorang terhadap yang lain.
Tetapi kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk mengikuti keinginan
daging mereka yang sudah jelas berlawanan dengan keinginan Roh. Kebanyakan
orang di dunia ini lebih memilih untuk memelihara dan bahkan membudayakan
geram, iri hati dan dengki seorang terhadap yang lain. Kebanyakan orang di
dunia ini lebih memilih untuk mengikuti prinsip homo homini lupus ketimbang saling
mengasihi dan mengampuni.
Kalau kita melihat
keberadaan bangsa kita di era reformasi yang nota bene hendak mengarahkan
kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan penuh dengan damai sejahtera, namun
kenyataan yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik. Ada begitu banyak
kekisruhan dan perpecahan yang bisa kita rasakan terjadi di sekitar kita. Sebut
saja pada saat pilpres 2014 lalu terjadi perpecahan antara kubu Prabowo
Subianto dengan kubu Presiden Jokowi saat ini. Meskipun demikian kita patut
berbangga karena kini keduanya bisa menunjukkan sikap kenegarawanannya
masing-masing dan berkomitmen untuk saling dukung satu sama lain. Bahkan Bpk
Prabowo Subianto dengan tegas mengatakan bahwa dirinya akan mendukung
pemerintahan Jokowi-JK yang telah terpilih secara sah. Tidak berhenti sampai di
situ, kita juga diperhadapkan dengan perpecahan antara koalisi merah putih
dengan koalisi Indonesia hebat di DPR. Namun bersyukur juga karena proses
pendamaian dan penyatuan antara keduanya bisa berjalan dengan baik hingga
sekarang. Mari kita terus doakan agar para legislator itu dapat benar-benar
bekerja untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk kepentingan golongan. Dari
kancah partai politik kita diperhadapkan juga dengan perpecahan yang sempat
terjadi di tubuh PPP yang kini telah islah dan berdamai. Pun kini Partai Golkar
mengalami perpecahan serupa yang masih diupayakan proses pendamaiannya antara
pihak-pihak yang berseteru. Mari kita doakan agar pendamaian dan penyatuan
kembali pihak-pihak yang bertikai itu dapat terwujud dengan baik sehingga
kedamaian, persatuan dan kesatuan dapat dirasakan secara holistik oleh seluruh
komponen bangsa.
Saudara-saudara,
kalau kita mau mengamati dengan jeli apa sebenarnya faktor yang menyebabkan
perpecahan demi perpecahan bisa terjadi, maka jawabannya adalah karena adanya
rasa iri dan dengki satu terhadap yang lain. Ada juga rasa ingin menjadi yang
superior satu terhadap yang lain.
Saudara-saudara,
hal itu tentu tidak akan terjadi ketika kita mau memelihara etos hidup seturut
kebenaran Firman Tuhan, yaitu etos hidup yang berlandaskan kasih. Sebagaimana
Yusuf yang tidak menaruh dendam terhadap saudara-saudaranya yang telah berbuat
jahat kepadanya, maka kita pun diajak untuk mempraktekkan kasih itu bukan hanya
kepada sesama yang juga mengasihi kita melainkan juga kepada musuh kita. Kita
diminta untuk mengasihi dan mendoakan mereka. Bahkan kita diminta untuk tidak
membalas perlakuan orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita karena
pembalasan adalah hak Tuhan. Firman Tuhan dengan jelas berkata: Jika pipi
kirimu ditampar maka berikanlah juga pipi kananmu. Mudah untuk dikatakan tetapi
sulit untuk dilakukan. Untuk itu kita perlu meminta pimpinan dan kemampuan yang
daripada Tuhan. Marilah kita menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki yang
dapat memadamkan cinta. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
Minggu, 16 November 2014
YANG MUDA YANG BEKERJA (KOLOSE 3:23)
“Apapun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia
(Kolose 3:23).”
Saudara-saudara,
orang muda pada umumnya dikenal sebagai orang-orang yang ‘energic’ dan punya semangat
hidup yang tinggi. Dan salah satu bukti nyatanya tergambar melalui kegemaran
orang-orang muda dalam bekerja serta menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam
setiap hal yang dikerjakannya. Ada banyak orang-orang muda Indonesia
berprestasi yang dapat kita kenal melalui media. Dan tentunya hal itu membuat
kita sebagai bagian dari pemuda Indonesia dapat turut berbangga dan berbesar
hati. Bahkan terlebih lagi seharusnya kita juga termotivasi dalam hal mengukir
prestasi yang dapat membanggakan bagi diri kita sendiri, keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara. Dan lebih utama lagi adalah membanggakan dan mempermuliakan
nama Tuhan.
Saudara-saudara,
itulah spirit etos kerja Kristiani. Kerja tidak hanya dipandang sebagai hal
yang dapat membanggakan dan memberi kepuasan pada diri sendiri. Kerja juga
tidak hanya dipandang sebagai hal yang dapat membawa manfaat dan kemaslahatan
bagi orang lain. Tetapi kerja juga dipandang sebagai hal yang semestinya
membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Dalam bahasa latin kita kenal istilah ora et
labora atau berdoa dan bekerja. Tetapi juga ada istilah ora est labora atau
berdoa adalah bekerja. Dari kedua istilah ini, ora et labora dan ora est
labora, maka jelaslah bahwa tiap-tiap kita sebagai insan kristiani hendaknya
mempersembahkan diri kita, tubuh kita dan hidup kita sebagai persembahan yang
hidup, kudus dan berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang
sejati. Tentunya termasuk juga dengan kerja, karya dan karsa kita sepatutnya
kita persembahkan bagi Tuhan sebagai bagian dari persembahan kita yang hidup,
kudus dan berkenan bagi Allah (lihat Roma 12:1). Dengan demikian ibadah bukan
sekedar seremonial belaka. Tetapi melalui hidup, kerja, karya dan karsa kita
pun kita sedang beribadah kepada Tuhan. Dengan demikian ibadah yang kita
lakukan tiap-tiap hari dan khususnya tiap-tiap minggu di gereja dapat menjadi
ibadah yang nyata, dimana buah dari ibadah itu dapat terlihat nyata melalui
hidup, kerja, karya dan karsa kita. Dengan demikian kita sedang mempersembahkan
yang terbaik bagi Tuhan. Dengan demikian kita sedang mempersembahkan ibadah
kita yang sejati bagi Tuhan. Oleh karena itu penting bagi kita para pemuda
untuk mau dan mampu mengobarkan etos kerja di dalam hati, pikiran dan diri
kita, yaitu sebuah etos kerja yang sesuai dengan Firman Tuhan sebagaimana
ditegaskan dalam bagian bacaan kita bahwa apapun yang kamu perbuat, perbuatlah
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bahkan
Alkitab juga menegaskan tentang ini. Yaitu bahwa kita harus mempermuliakan Tuhan
dengan harta kita. Dan dengan hasil pertama dari segala penghasilan kita (lihat
Amsal 3:9). Tentu saudara-saudara, yang dimaksud dengan harta dan penghasilan
di sini adalah apa yang kita hasilkan dari kerja kita. Jadi manusia memang pada
hakikatnya adalah manusia-manusia yang bekerja. Bahkan Alkitab katakan yang
tidak bekerja maka ia tidak akan makan (lihat 2 Tesalonika 3:10). Jadi nyata
benar bahwa Allah sangat menghargai orang-orang rajin. Allah sangat menghargai
orang-orang yang mau bekerja, karena sekali lagi saya tekankan bahwa pada
hakikatnya manusia adalah orang-orang yang bekerja. Bahkan Allah sendiri pun
sebagai pencipta kita bukanlah Allah yang diam melainkan Allah yang terus turut
bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Dia adalah gembala kita yang baik yang terus bekerja menjaga dan memelihara
kita. Bahkan Dia adalah gembala yang terus mencari domba-domba-Nya yang hilang.
Bahkan Yesus Kristus semasa hidup-Nya sampai dengan wafat-Nya di kayu salib dan
kebangkitan-Nya telah memberi bukti nyata dimana Tuhan bekerja di antara
manusia. Dia mengajar, membuat mujizat dan menyembuhkan banyak orang. Bahkan
Dia membangkitka n orang mati dengan kuasa-Nya yang berasal dari Sorga. Dan Dia
sampai akhir karya-Nya di muka bumi ini telah berhasil melakukan karya
penyelamatan Allah bagi semua orang, terutama orang percaya.
Saudara-saudara,
sekali lagi saya tekankan kepada kita semua bahwa Yesus Kristus tidak hanya
menujukan semua karya-Nya bagi orang-orang di zaman-Nya, tetapi juga bagi kita
sekalian. Bahkan ketika Yesus Kristus di waktu keberadaan-Nya di dunia di
tengah manusia telah berhasil menyatakan kuasa Allah dengan membangkitkan orang
mati, maka Dia pun ingin supaya kita saat ini juga mengalami kebangkitan dari
tidur panjang kerohanian kita. Dari kematian spiritualitas kita. Bahkan dalam
kehidupan keberimanan kita pun Dia mau supaya kita mengerjakan keselamatan kita
dengan takut dan gentar. Oleh karena itu sekaranglah saatnya kita mengerjakan
segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Persembahkanlah
yang terbaik bagi Tuhan, bukan hanya dalam bentuk persembahan materi. Melainkan
lebih daripada itu adalah persembahan diri, persembahan hidup dengan seluruh
kerja, karya dan karsa kita, dimana melaluinya kita mempermuliakan nama Tuhan.
Itulah yang akan menjadi bukti nyata bahwa kita mencintai Tuhan. Itulah yang
akan menjadi bukti nyata bahwa kita menempatkan Tuhan di tempat yang utama dan
yang pertama. Pun ketika kita menjadikan Tuhan sebagai landasan di dalam tiap
karya kita. Pun ketika kita menjadikan Roh Kudus sebagai pembakar semangat kita
dalam bekerja dan melayani Tuhan. Selamat menjadi orang-orang yang terus mau
bekerja. Marilah kita kerja, kerja dan kerja! Tuhan memberkati kita sekalian.
Amin.
Sabtu, 20 September 2014
HIDUP DALAM KEKAYAAN KEMURAHAN TUHAN (ROMA 2:1-16)
Nats: Maukah engkau menganggap
sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah
engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada
pertobatan? (ayat 4).
Saudara-saudara,
melalui bagian bacaan kita saat ini saya mengajak kita sekalian untuk
merenungkan sebuah tema yaitu hidup dalam kekayaan kemurahan Tuhan.
Saudara-saudara, kalau kita bicara soal kekayaan, maka percayakah saudara bahwa
kekayaan di dunia ini adalah tidak tak terbatas? Artinya kekayaan di dunia ini
pasti ada batasnya. Kalau kita lihat dari angka dasarnya saja, maka angka
paling mendasar hanya ada di kisaran 0-9. Persoalan bahwa angka tersebut bisa
divariasi dan diulang-ulang, itu mungkin adalah persoalan yang berbeda. Dengan
demikian keterbatasan kekayaan di dunia ini acap kali membuat definisi kaya
menjadi sangat relatif. Sekalipun memang mungkin ada banyak orang di dunia ini
yang acap kali merasa tidak puas dengan kekayaan yang dimilikinya dan
senantiasa ingin mencari yang lebih dan lebih lagi.
Saudara-saudara,
tidak demikian dengan kekayaan kemurahan Tuhan. Dalam ayat yang keempat yang
menjadi nats bagian bacaan kita digambarkan betapa kayanya kekayaan kemurahan
Tuhan itu. Dan kekayaan kemurahan Tuhan tentu tidak boleh kita anggap sepi.
Demikian juga dengan kesabaran dan kelapangan hati-Nya. Kekayaan kemurahan Tuhan senantiasa ingin
menuntun kita kepada pertobatan. Bahkan dari ayat yang pertama sampai dengan
ayat yang ketiga dengan jelas
diungkapkan mengenai hal menghakimi orang lain. Dimana dikatakan di sana bahwa
engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab
dalam menghakimi orang lain engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau
yang menghakimi orang lain melakukan hal-hal yang sama. Penegasan yang sama
diungkapkan juga dalam Matius 7 ayat yang pertama. Dimana dikatakan di sana
jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.
Saudara-saudara,
bicara soal penghakiman, mungkin secara sadar atau tidak sadar kita pun sering
melakukannya. Salah satunya adalah ketika kita memberikan stereotype kepada
orang lain. Si A pasti begini. Si B pasti begitu. Dan seterusnya, dan
seterusnya tanpa kita benar-benar mau masuk ke dalam pergumulan yang sesungguhnya
dari orang-orang yang kita berikan stereotype tersebut.
Saudara-saudara,
bukankah hukum yang pertama dan terutama adalah hukum kasih sebagaimana yang
Kristus ajarkan kepada kita sekalian, dimana kita diminta untuk mengasihi
sesama kita seperti diri kita sendiri, dan bahkan mengasihi musuh kita dan
berdoa bagi mereka? Jika hal itu bisa benar-benar tercapai maka saya percaya
bahwa benturan-benturan di dalam kehidupan ini akan dapat terminimalisir
dan bahkan ternihilkan dari antara
kehidupan kita bersama dengan semua orang tanpa terkecuali. Persoalannya adalah
bahwa kita masih seringkali dikuasai dengan keegoisan diri kita sendiri. Bahkan
kita melupakan kasih mula-mula yang seharusnya mendasari kehidupan kita sebagai
manusia dan sebagai orang percaya.
Saudara-saudara,
melalui bagian bacaan kita saat ini hendak diingatkan kepada kita sekalian
bahwa baiklah kita senantiasa melakukan hukum-hukum Tuhan, dimana di dalam ayat
yang ke-13 digambarkan dengan jelas bahwa bukanlah orang yang mendengar hukum
taurat yang benar di hadapan Allah tetapi orang yang melakukan hukum tauratlah
yang akan dibenarkan. Hukum taurat yang dimaksudkan di sini berarti hukum-hukum
Tuhan. Dan hukum Tuhan yang utama dan terutama adalah hukum kasih. Oleh karena
itu baiklah kita mendasari seluruh kehidupan kita dengan hukum kasih tersebut.
Dimana sifat-sifat kasih adalah lemah lembut, memaafkan dan murah hati. Itulah
sifat kasih Kristus. Kasih itu jugalah yang perlu terus terpelihara di dalam
kehidupan persekutuan orang percaya. Sebagaimana Filipi 2:1-3 dikatakan bahwa
karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan
Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Karena itu sempurnakanlah sukacitaku
dengan ini. Hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu
tujuan. Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih
utama daripada dirinya sendiri.
Saudara-saudara,
mungkin di antara kita masih ada begitu banyak orang yang belum begitu sempurna
dalam melakukan kasih sebagaimana yang Kristus ajarkan. Oleh karena itu baiklah
kita sungguh-sungguh bertobat dalam kerangka kita menikmati kekayaan kemurahan
Tuhan. Baiklah kita tidak menganggap sepi kekayaan kemurahan Tuhan itu. Baiklah
kita berlomba-lomba dalam melakukan kasih. Kiranya Tuhan memberkati kita
sekalian. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)
