Rabu, 24 Desember 2014

Natal, Kristus Lahir? Berefleksi Dari Efesus 3:14-17

Pembaca yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kalau kita mengamati secara harafiah tema ini, kita mungkin akan bertanya kenapa tema ini justru mempertanyakan tentang kelahiran Kristus? Bukankah natal memang merupakan sebuah peringatan dan perayaan akan kelahiran Kristus? Tapi kenapa tema ini justru mempertanyakan akan hal itu? Saudara-saudara, saya justru ingin menegaskan kepada kita sekalian bahwa tema ini sama sekali bukan untuk mempertanyakan kebenaran tentang sejarah kelahiran Tuhan Yesus Kristus sebagaimana dipersaksikan di dalam Alkitab, Firman Allah. Penulis (red’saya) tentulah sangat percaya dan mengimani sepenuhnya kebenaran Firman Tuhan yang adalah ya dan amin. Jadi sangat tidak mungkin saya ingin mempertanyakan kebenaran tentang kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia dalam perspektif sejarah Tuhan sebagaimana dipersaksikan kebenarannya di dalam Alkitab. Namun yang ingin saya tuju dan soroti di sini adalah justru perihal kelahiran Tuhan Yesus Kristus di dalam hati setiap kita sebagai orang percaya. Karena saya percaya bahwa natal tidak hanya berhenti pada peringatan dan perayaan kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia secara fisik semata, melainkan akan berlanjut pada pertanyaan dan pergumulan tentang apakah Yesus Kristus sudah benar-benar lahir, hadir, meraja dan memerintah di dalam hati kita? Saudara-saudara, sebagai orang percaya tentu kita beriman dan percaya kepada-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Iman percaya kita itu pun didukung oleh kebenaran Firman Tuhan yang mempersaksikan kebenaran-Nya yang hakiki. Salah satunya kita bisa lihat di dalam Injil Yohanes 3:16, dimana dikatakan di sana bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dengan demikian beriman dan percaya kepada Tuhan menjadi hal yang sangat penting bagi setiap kita. Memelihara iman dan percaya kita kepada Tuhan pun menjadi hal yang sangat penting. Pun mengaplikasikan iman percaya kita dalam tindakan nyata di dalam keseharian hidup kita juga menjadi hal yang sangat penting. Karena melalui tindakan nyata kitalah maka sesungguhnya kita sedang mempersaksikan kebenaran iman kita kepada sesama kita, terutama bagi mereka yang belum percaya. Dengan demikian iman kita bukanlah menjadi iman yang mati melainkan menjadi iman yang hidup (bdk.Yakobus 2:14-26). Dalam kaitan pemeliharaan iman kita secara pribadi pun Tuhan senantiasa mengingatkan kepada kita melalui Firman-Nya agar kita tidak sekali-kali pun menjauhkan diri dari persekutuan ibadah (bdk. Ibrani 10:25). Karena hanya melalui persekutuan ibadahlah kita dapat senantiasa disegarkan akan kebenaran Firman Tuhan bagi pertumbuhan dan penyegaran iman kita (bdk.1 Korintus 3:6). Dalam 1 Korintus 3:6 memang dikatakan bahwa Allah yang memberi pertumbuhan. Tetapi Allah juga memakai setiap orang yang dipilih dan dipakai-Nya sebagai rekan sekerja di ladang-Nya untuk bersama-sama membangun jemaat dan memberi penyegaran di dalam pertumbuhan, perkembangan dan penyegaran iman jemaat. Dalam masa-masa sekarang ini kita dapat melihat peran tersebut khususnya dalam peran pendeta dan para pekabar Injil. Dengan demikian tidak seharusnya membuat setiap kita yang bukan merupakan pejabat khusus gerejawi (red’pendeta) menjadi perlu dan harus berkecil hati. Karena setiap kita pun dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi. Yerusalem acap kali mau menggambarkan tentang internal diri kita sendiri, keluarga kita dan orang-orang yang dekat dengan kita. Memang benar saudara-saudara bahwa sebelum Tuhan mempercayakan kita perkara yang besar, Tuhan acap kali ingin melihat kesetiaan kita di dalam perkara yang lebih kecil terlebih dahulu. Barulah Ia akan mempercayakan kita perkara yang lebih besar sesuai dengan waktu, kehendak dan rencana-Nya. Demikian pun sebelum kita berbicara tentang perkara membangun jemaat dan atau membangun bangsa dan negara dalam konteks yang lebih luas, maka kita acap kali perlu diuji perihal kemampuan kita membangun diri kita sendiri dan atau keluarga kita. Karena keluarga adalah merupakan bagian terkecil dari jemaat dan atau negara. Jadi jangan tunda waktunya untuk menjadi saksi-Nya. Langkah pertama adalah di dalam dan melalui keluarga kita sendiri. Marilah kita terus berupaya membangun keluarga kita sehingga keluarga kita dapat menjadi keluarga yang mampu mempersaksikan kasih, kemurahan dan kuasa Tuhan bagi sesama dan jemaat. Marilah kita menjadikan bahtera keluarga kita menjadi bagian dari bahtera keluarga Kerajaan Allah. Marilah kita benar-benar menyadari bahwa kita adalah warga Kerajaan Allah yang ditempatkan Tuhan di tengah dunia ini untuk menjadi perpanjangan tangan dan mulut Allah. Dengan kesadaran akan hal itu kita akan senantiasa terdorong untuk mempersaksikan kebenaran, keadilan dan kasih Allah bagi dunia dimanapun kita ditempatkan. Jangan pernah menganggap kecil peran kita bagi kemuliaan nama-Nya, melainkan apapun peran kita lakukanlah itu untuk kemuliaan nama Tuhan dan menjadi kesaksian tentang-Nya. Apapun yang kita perbuat, perbuatlah dengan segenap hati kita seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (lihat Kolose 3:23). Dengan demikian jelaslah bahwa kita perlu mempersembahkan seluruh hidup dan diri kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan karena itu adalah ibadah kita yang sejati (lihat Roma 12:1). Jadi jelaslah bahwa hidup kita bukanlah milik kita lagi melainkan hidup kita adalah milik Tuhan. Karena kita adalah orang-orang yang telah ditebus Tuhan dan harganya telah lunas dibayar.Dengan demikian sekarang kita menjadi milik kepunyaan-Nya. Jadi menjadi hal yang sangat wajar ketika Tuhan menuntut kita untuk menjadi saksi-Nya, perpanjangan tangan dan mulut-Nya. Menjadi hal yang sangat wajar ketika Tuhan meminta kita melayani-Nya melalui apapun talenta yang diberikan-Nya kepada kita. Terlebih ketika Kristus sungguh-sungguh lahir di dalam hati kita. Maka setiap kita dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi kitab-kitab terbuka yang dapat dibaca oleh sesama kita. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan dalam rangka menunjukkan identitas keberimanan kita kepada Tuhan, baik dalam kaitan hubungan vertikal kita dengam Tuhan maupun dalam hubungan horisontal kita dengan sesama? Jawabannya ada di dalam Efesus 3:14-17. Dalam kaitan hubungan vertikal kita dengan Tuhan maka kita perlu terus menjaga relasi dan komunikasi kita dengan Bapa. Kita perlu terus berdoa kepada-Nya supaya Ia menurut kekayaan kemuliaan-Nya menguatkan dan meneguhkan iman kita melalui Roh Kudus-Nya di dalam batin kita (lihat ayat 14-16). Barulah dengan demikian kita dapat benar-benar mengalami bahwa Kristus diam di dalam hati kita dan kita dapat berakar serta berdasar di dalam kasih. Setelah itu kita pasti akan dimampukan untuk mempersaksikan kasih Allah di dalam hidup kita dan melalui hidup kita kepada sesama. Saudara-saudara, natal niscaya akan senantiasa berbicara dan mengungkapkan tentang kasih. Tanpa kasih Allah yang begitu besar akan dunia ini, maka Kristus tidak akan terlahir ke dalam dunia untuk melaksanakan karya penyelamatan Allah atas umat manusia dan keutuhan ciptaan. Hal ini juga sudah pasti akan mempersaksikan kebenaran tentang hakikat Allah yang adalah kasih. Bahkan dikatakan di dalam 1 Yohanes 4:16 bahwa barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan demikian natal seharusnya senantiasa mengingatkan kita akan kasih Allah dan meneguhkan keterpanggilan kita untuk menjadi agen-agen penyalur kasih Allah atas dunia ini. Ketika kita mengatakan bahwa Kristus telah lahir di dalam hati kita, maka pastilah yang akan terpancar dari dalam diri kita adalah kasih, kebenaran dan keadilan Allah. Dan itulah yang pasti akan senantiasa kita wujudnyatakan di dalam hidup kita bersama dengan sesama dimanapun dan kapanpun. Oleh karena itu, melalui renungan ini saya mengajak kita sekalian secara bersama-sama mengintrospeksi diri dan merefleksikan diri kita. Sudahkah yang terbaik kita berikan bagi Tuhan? Berapa yang terhilang telah kita cari? Sudahkah kita bebaskan yang terbelenggu? Atau justru kita biarkan tegar mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan tangan Tuhan melalui keberadaan kita? Melalui renungan ini kita diajak untuk bersama-sama merenungkan, meresapi dan melakukan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan ingin agar ketika kita sungguh-sungguh sadar bahwa Kristus telah lahir di dalam hati kita, maka kita pun mau sungguh-sungguh mewartakan kasih, kebenaran dan keadilan Tuhan kepada sesama. Bukan hanya melalui mulut kita. Tetapi juga melalui tindakan nyata kita kepada sesama kita. Ketika kita sungguh-sungguh menyadari bahwa di tengah masyarakat kita dan dunia masih ada begitu banyak orang terbelenggu yang perlu ditolong, maka kita juga akan siap dipanggil dan ditempatkan Tuhan di tengah-tengah keberadaan mereka. Bukan justru mengambil jarak atas keberadaan mereka dan tetap mau berada di dalam kondisi kenyamanan kita. Melainkan mau terjun dan ambil bagian dalam ketidaknyamanan sesama kita dan menolong mereka keluar dari kondisi ketidaknyamanan yang mereka alami. Mau berbagi dan berbela rasa dengan mereka sebagaimana Kristus juga mau berbagi dan berbela rasa dengan umat manusia. Itulah yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan, terutama di dalam kita menyambut natal yang menjadi momentum kelahiran Kristus ke dalam dunia, dan bahkan menjadi momentum kelahiran Kristus di dalam hati kita. Sebagaimana Filipi 2:1-3 mengatakan: Jadi karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. Perhatikan ayat yang ke-3. Selamat natal 2014 dan tahun baru 2015. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 30 November 2014

IRI HATI MEMADAMKAN CINTA (KEJADIAN 37:1-11; 27-28 & 36)


Saudara-saudara kekasih Kristus, bagi saudara yang suka nonton sinetron atau nonton di youtube, maka kita pasti tahu ada satu lagu yang sedang buming saat ini yaitu sakitnya tuh di sini. Ada begitu banyak orang suka mendengarkan lagu itu dan bahkan mensubscribe tayangan video Youtube tersebut. Yah, oke lah kalau memang mau dibilang bahwa dari segi musikalitasnya bagi sebagian orang sangat bagus dan enak untuk dinikmati. Terutama bagi para penikmat genre musik dangdut. It’s oke. Just for fun. Tapi menurut saya keberadaan lagu ini sesungguhnya menggambarkan kondisi dan keberadaan nyata manusia yang kesemuanya pasti punya hati. Oleh karena itu tiap-tiap manusia punya kemungkinan untuk bisa merasakan dan mengalami sakit hati.
                Hal yang sama dialami juga oleh saudara-saudara Yusuf dalam bagian bacaan kita saudara. Kita tahu berdasarkan kesaksian Alkitab bahwa Yusuf yang adalah anak kesayangan Yakub yang kemudian diganti namanya oleh Tuhan menjadi Israel (lihat Kejadian 32:22-32). Terutama di ayat yang ke-28. Di situlah kita dapat menemukan arti kata Israel yaitu engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia; dan engkau menang. Arti nama Israel yang dikenakan Allah pada diri Yakub ini berbeda sekali dengan arti nama Yakub itu sendiri yang berarti seorang penipu (bdk.Kejadian 27:36).
                Saudara-saudara, kembali kepada kisah Yusuf. Bagian bacaan kita mengungkapkan bahwa kala itu Yusuf bermimpi dan ia menceritakan semua mimpinya itu kepada saudara-saudaranya. Mimpi yang pertama yang ia ceritakan adalah mimpi tentang berkas Yusuf yang tegak berdiri sementara berkas-berkas saudaranya sujud menyembah kepadanya. Dan mimpi yang kedua yang juga ia ceritakan kepada saudara-saudaranya adalah tentang matahari, bulan dan sebelas bintang yang sujud menyembah kepadanya. Mendengar kedua cerita itu maka muncullah rasa iri di dalam hati saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf. Dan singkat cerita saudara-saudaranya meluapkan kebencian dan rasa iri hati mereka terhadap Yusuf dalam sebuah niatan untuk mencelakai dan membunuh Yusuf. Kita tahu latar belakang dari kelanjutan cerita ini adalah ketika Yusuf disuruh oleh ayahnya Israel untuk pergi bersama saudara-saudaranya ke hutan untuk berburu. Di sanalah saudara-saudara Yusuf bersiasat untuk mencelakai dan membunuh Yusuf. Namun Ruben, salah satu saudara Yusuf yang saat itu berhasrat untuk melepaskan Yusuf dari tangan saudara-saudaranya yang lain akhirnya mengatakan agar Yusuf jangan dibunuh. Singkat cerita Yusuf yang saat itu sudah sempat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya akhirnya diangkat dari dalam sumur dan akhirnya dijual kepada orang-orang Midian yang lewat di situ. Orang-orang Midian itu pun pada akhirnya menjual Yusuf kepada Potifar, seorang pengawal istana Firaun, kepala pengawal raja di Mesir. Tentu kita yang sudah seringkali mendengar akan kisah ini pasti tahu bagaimana kelanjutan hidup Yusuf setelah itu. Dalam kisah selanjutnya ada kisah dimana Yusuf menjadi orang kepercayaan Potifar di rumahnya. Ada juga kisah tentang Yusuf yang difitnah oleh istri Potifar dan Yusuf di dalam penjara.
                Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan Yusuf dalam segala keadaan hidupnya karena Tuhan tahu bahwa Yusuf adalah orang yang setia kepada Tuhan. Bahkan segala penderitaan yang Yusuf alami dapat dipakai Tuhan untuk menyatakan kasih dan penyertaan Tuhan atas diri Yusuf, dimana kasih dan penyertaan Tuhan itu sangat luar biasa, Kenyataan hidup Yusuf hendak menyatakan maksud Tuhan bahwa manusia bisa merancangkan segala sesuatu yang jahat tetapi Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, terutama bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Demikian juga dengan Yusuf. Ia sudah dapat membuktikan kesetiaan imannya kepada Tuhan dalam segala keadaan hidupnya. Tidak pernah sedetik pun ia meninggalkan Tuhan dan berpaling dari Tuhan. Ia selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, baik dalam suka maupun duka. Oleh karena itu tidak heran kalau Allah begitu mengasihi dia dan senantiasa menyertainya. Kenyataan ini mungkin berbeda dengan kebanyakan orang dunia khususnya di zaman sekarang ini, dimana orang baru akan ingat Tuhan dalam keadaan susah semata. Sementara dalam keadaan senang dan sukses kebanyakan orang melupakan Tuhan dan hanya berupaya menonjolkan dirinya semata. Tentu tidak demikian dengan setiap kita yang mendengarkan Firman Tuhan ini saat ini.
                Saudara-saudara, Yusuf dalam pengandalan dirinya kepada Tuhan telah diberikan oleh Tuhan hikmat dan kemampuan untuk melakukan hal-hal besar dan ajaib. Salah satunya ketika Yusuf dimampukan Tuhan untuk menafsirkan mimpi Firaun akan adanya kekeringan di Mesir. Dan pada akhirnya Yusuf pun diangkat menjadi penguasa di Mesir.
                Tentu semua bukan karena kuat dan gagah Yusuf sendiri, melainkan semua karena pemberian dan rencana Allah atas dirinya. Karena rencana Allah terutama atas orang-orang percaya senantiasa membawa kepada hidup. Berbeda halnya dengan akibat dosa yang senantiasa berujung kepada maut. Demikian pun Yusuf dipakai Tuhan untuk menjadi alat Tuhan atas Bangsa Mesir dan sekitarnya, terutama ketika mereka harus menghadapi masa-masa kekeringan dan kelaparan.
                Saudara-saudara, kenyataan hidup Yusuf telah mempersaksikan di hadapan kita sekalian bahwa Tuhan bisa memakai siapa pun dan peristiwa hidup apapun di dalam segenap kehidupan kita untuk menyatakan kemuliaan, kebesaran dan maksud tujuan Tuhan atas kita pribadi dan kita sekalian. Terlebih ketika di dalam kisah Yusuf kita dapat mengamati bahwa Yusuf tidak balik membenci saudara-saudaranya tetapi ia tetap mengasihi mereka. Bahkan ia sadar benar bahwa apa yang ia alami merupakan bagian dari rencana Tuhan yang memang telah mempersiapkan dirinya untuk dipakai menjadi alat Tuhan ketika Bangsa Mesir dan sekitarnya harus menghadapi kekeringan dan kelaparan.
                Saudara-saudara, kelembutan hati Yusuf yang penuh kasih terhadap saudara-saudaranya yang telah berlaku jahat terhadapnya seyogyanya juga menjadi bagian dari teladan atas sikap hidup kita terhadap sesama kita dan bahkan kepada musuh kita sekalipun. Alkitab berkata kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan kasihilah musuhmu serta berdoalah bagi mereka. Kasih itulah yang merupakan ciri utama iman Kristen saudara. Bahkan di antara iman, pengharapan dan kasih maka kasih mengandung keutamaan nilai dari antara ketiganya. Bahkan dikatakan dalam 1 Korintus 13:1 bahwa sekalipun aku dapat berkata-kata dalam semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
                Saudara-saudara, bukankah kasih adalah buah Roh yang pertama selain sukacita, damai sejahtera dan seterusnya? Bukankah Allah adalah kasih, dimana barangsiapa tinggal di dalam kasih ia tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia? Firman Tuhan senantiasa menyatakan agar kita saling mengasihi seorang terhadap yang lain. Tetapi kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk mengikuti keinginan daging mereka yang sudah jelas berlawanan dengan keinginan Roh. Kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk memelihara dan bahkan membudayakan geram, iri hati dan dengki seorang terhadap yang lain. Kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk mengikuti prinsip homo homini lupus ketimbang saling mengasihi dan mengampuni.
                Kalau kita melihat keberadaan bangsa kita di era reformasi yang nota bene hendak mengarahkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan penuh dengan damai sejahtera, namun kenyataan yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik. Ada begitu banyak kekisruhan dan perpecahan yang bisa kita rasakan terjadi di sekitar kita. Sebut saja pada saat pilpres 2014 lalu terjadi perpecahan antara kubu Prabowo Subianto dengan kubu Presiden Jokowi saat ini. Meskipun demikian kita patut berbangga karena kini keduanya bisa menunjukkan sikap kenegarawanannya masing-masing dan berkomitmen untuk saling dukung satu sama lain. Bahkan Bpk Prabowo Subianto dengan tegas mengatakan bahwa dirinya akan mendukung pemerintahan Jokowi-JK yang telah terpilih secara sah. Tidak berhenti sampai di situ, kita juga diperhadapkan dengan perpecahan antara koalisi merah putih dengan koalisi Indonesia hebat di DPR. Namun bersyukur juga karena proses pendamaian dan penyatuan antara keduanya bisa berjalan dengan baik hingga sekarang. Mari kita terus doakan agar para legislator itu dapat benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk kepentingan golongan. Dari kancah partai politik kita diperhadapkan juga dengan perpecahan yang sempat terjadi di tubuh PPP yang kini telah islah dan berdamai. Pun kini Partai Golkar mengalami perpecahan serupa yang masih diupayakan proses pendamaiannya antara pihak-pihak yang berseteru. Mari kita doakan agar pendamaian dan penyatuan kembali pihak-pihak yang bertikai itu dapat terwujud dengan baik sehingga kedamaian, persatuan dan kesatuan dapat dirasakan secara holistik oleh seluruh komponen bangsa.
                Saudara-saudara, kalau kita mau mengamati dengan jeli apa sebenarnya faktor yang menyebabkan perpecahan demi perpecahan bisa terjadi, maka jawabannya adalah karena adanya rasa iri dan dengki satu terhadap yang lain. Ada juga rasa ingin menjadi yang superior satu terhadap yang lain.
                Saudara-saudara, hal itu tentu tidak akan terjadi ketika kita mau memelihara etos hidup seturut kebenaran Firman Tuhan, yaitu etos hidup yang berlandaskan kasih. Sebagaimana Yusuf yang tidak menaruh dendam terhadap saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat kepadanya, maka kita pun diajak untuk mempraktekkan kasih itu bukan hanya kepada sesama yang juga mengasihi kita melainkan juga kepada musuh kita. Kita diminta untuk mengasihi dan mendoakan mereka. Bahkan kita diminta untuk tidak membalas perlakuan orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita karena pembalasan adalah hak Tuhan. Firman Tuhan dengan jelas berkata: Jika pipi kirimu ditampar maka berikanlah juga pipi kananmu. Mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dilakukan. Untuk itu kita perlu meminta pimpinan dan kemampuan yang daripada Tuhan. Marilah kita menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki yang dapat memadamkan cinta. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.


Minggu, 16 November 2014

YANG MUDA YANG BEKERJA (KOLOSE 3:23)

                                                            
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).”

                Saudara-saudara, orang muda pada umumnya dikenal sebagai orang-orang yang ‘energic’ dan punya semangat hidup yang tinggi. Dan salah satu bukti nyatanya tergambar melalui kegemaran orang-orang muda dalam bekerja serta menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam setiap hal yang dikerjakannya. Ada banyak orang-orang muda Indonesia berprestasi yang dapat kita kenal melalui media. Dan tentunya hal itu membuat kita sebagai bagian dari pemuda Indonesia dapat turut berbangga dan berbesar hati. Bahkan terlebih lagi seharusnya kita juga termotivasi dalam hal mengukir prestasi yang dapat membanggakan bagi diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dan lebih utama lagi adalah membanggakan dan mempermuliakan nama Tuhan.
                Saudara-saudara, itulah spirit etos kerja Kristiani. Kerja tidak hanya dipandang sebagai hal yang dapat membanggakan dan memberi kepuasan pada diri sendiri. Kerja juga tidak hanya dipandang sebagai hal yang dapat membawa manfaat dan kemaslahatan bagi orang lain. Tetapi kerja juga dipandang sebagai hal yang semestinya membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Dalam bahasa latin kita kenal istilah ora et labora atau berdoa dan bekerja. Tetapi juga ada istilah ora est labora atau berdoa adalah bekerja. Dari kedua istilah ini, ora et labora dan ora est labora, maka jelaslah bahwa tiap-tiap kita sebagai insan kristiani hendaknya mempersembahkan diri kita, tubuh kita dan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Tentunya termasuk juga dengan kerja, karya dan karsa kita sepatutnya kita persembahkan bagi Tuhan sebagai bagian dari persembahan kita yang hidup, kudus dan berkenan bagi Allah (lihat Roma 12:1). Dengan demikian ibadah bukan sekedar seremonial belaka. Tetapi melalui hidup, kerja, karya dan karsa kita pun kita sedang beribadah kepada Tuhan. Dengan demikian ibadah yang kita lakukan tiap-tiap hari dan khususnya tiap-tiap minggu di gereja dapat menjadi ibadah yang nyata, dimana buah dari ibadah itu dapat terlihat nyata melalui hidup, kerja, karya dan karsa kita. Dengan demikian kita sedang mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Dengan demikian kita sedang mempersembahkan ibadah kita yang sejati bagi Tuhan. Oleh karena itu penting bagi kita para pemuda untuk mau dan mampu mengobarkan etos kerja di dalam hati, pikiran dan diri kita, yaitu sebuah etos kerja yang sesuai dengan Firman Tuhan sebagaimana ditegaskan dalam bagian bacaan kita bahwa apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bahkan Alkitab juga menegaskan tentang ini. Yaitu bahwa kita harus mempermuliakan Tuhan dengan harta kita. Dan dengan hasil pertama dari segala penghasilan kita (lihat Amsal 3:9). Tentu saudara-saudara, yang dimaksud dengan harta dan penghasilan di sini adalah apa yang kita hasilkan dari kerja kita. Jadi manusia memang pada hakikatnya adalah manusia-manusia yang bekerja. Bahkan Alkitab katakan yang tidak bekerja maka ia tidak akan makan (lihat 2 Tesalonika 3:10). Jadi nyata benar bahwa Allah sangat menghargai orang-orang rajin. Allah sangat menghargai orang-orang yang mau bekerja, karena sekali lagi saya tekankan bahwa pada hakikatnya manusia adalah orang-orang yang bekerja. Bahkan Allah sendiri pun sebagai pencipta kita bukanlah Allah yang diam melainkan Allah yang terus turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dia adalah gembala kita yang baik yang terus bekerja menjaga dan memelihara kita. Bahkan Dia adalah gembala yang terus mencari domba-domba-Nya yang hilang. Bahkan Yesus Kristus semasa hidup-Nya sampai dengan wafat-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya telah memberi bukti nyata dimana Tuhan bekerja di antara manusia. Dia mengajar, membuat mujizat dan menyembuhkan banyak orang. Bahkan Dia membangkitka n orang mati dengan kuasa-Nya yang berasal dari Sorga. Dan Dia sampai akhir karya-Nya di muka bumi ini telah berhasil melakukan karya penyelamatan Allah bagi semua orang, terutama orang percaya.
                Saudara-saudara, sekali lagi saya tekankan kepada kita semua bahwa Yesus Kristus tidak hanya menujukan semua karya-Nya bagi orang-orang di zaman-Nya, tetapi juga bagi kita sekalian. Bahkan ketika Yesus Kristus di waktu keberadaan-Nya di dunia di tengah manusia telah berhasil menyatakan kuasa Allah dengan membangkitkan orang mati, maka Dia pun ingin supaya kita saat ini juga mengalami kebangkitan dari tidur panjang kerohanian kita. Dari kematian spiritualitas kita. Bahkan dalam kehidupan keberimanan kita pun Dia mau supaya kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Oleh karena itu sekaranglah saatnya kita mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan, bukan hanya dalam bentuk persembahan materi. Melainkan lebih daripada itu adalah persembahan diri, persembahan hidup dengan seluruh kerja, karya dan karsa kita, dimana melaluinya kita mempermuliakan nama Tuhan. Itulah yang akan menjadi bukti nyata bahwa kita mencintai Tuhan. Itulah yang akan menjadi bukti nyata bahwa kita menempatkan Tuhan di tempat yang utama dan yang pertama. Pun ketika kita menjadikan Tuhan sebagai landasan di dalam tiap karya kita. Pun ketika kita menjadikan Roh Kudus sebagai pembakar semangat kita dalam bekerja dan melayani Tuhan. Selamat menjadi orang-orang yang terus mau bekerja. Marilah kita kerja, kerja dan kerja! Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

                

Sabtu, 20 September 2014

HIDUP DALAM KEKAYAAN KEMURAHAN TUHAN (ROMA 2:1-16)

                                              

Nats: Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (ayat 4).

                Saudara-saudara, melalui bagian bacaan kita saat ini saya mengajak kita sekalian untuk merenungkan sebuah tema yaitu hidup dalam kekayaan kemurahan Tuhan. Saudara-saudara, kalau kita bicara soal kekayaan, maka percayakah saudara bahwa kekayaan di dunia ini adalah tidak tak terbatas? Artinya kekayaan di dunia ini pasti ada batasnya. Kalau kita lihat dari angka dasarnya saja, maka angka paling mendasar hanya ada di kisaran 0-9. Persoalan bahwa angka tersebut bisa divariasi dan diulang-ulang, itu mungkin adalah persoalan yang berbeda. Dengan demikian keterbatasan kekayaan di dunia ini acap kali membuat definisi kaya menjadi sangat relatif. Sekalipun memang mungkin ada banyak orang di dunia ini yang acap kali merasa tidak puas dengan kekayaan yang dimilikinya dan senantiasa ingin mencari yang lebih dan lebih lagi.
                Saudara-saudara, tidak demikian dengan kekayaan kemurahan Tuhan. Dalam ayat yang keempat yang menjadi nats bagian bacaan kita digambarkan betapa kayanya kekayaan kemurahan Tuhan itu. Dan kekayaan kemurahan Tuhan tentu tidak boleh kita anggap sepi. Demikian juga dengan kesabaran dan kelapangan hati-Nya.  Kekayaan kemurahan Tuhan senantiasa ingin menuntun kita kepada pertobatan. Bahkan dari ayat yang pertama sampai dengan ayat yang ketiga  dengan jelas diungkapkan mengenai hal menghakimi orang lain. Dimana dikatakan di sana bahwa engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab dalam menghakimi orang lain engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain melakukan hal-hal yang sama. Penegasan yang sama diungkapkan juga dalam Matius 7 ayat yang pertama. Dimana dikatakan di sana jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.
                Saudara-saudara, bicara soal penghakiman, mungkin secara sadar atau tidak sadar kita pun sering melakukannya. Salah satunya adalah ketika kita memberikan stereotype kepada orang lain. Si A pasti begini. Si B pasti begitu. Dan seterusnya, dan seterusnya tanpa kita benar-benar mau masuk ke dalam pergumulan yang sesungguhnya dari orang-orang yang kita berikan stereotype tersebut.
                Saudara-saudara, bukankah hukum yang pertama dan terutama adalah hukum kasih sebagaimana yang Kristus ajarkan kepada kita sekalian, dimana kita diminta untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, dan bahkan mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka? Jika hal itu bisa benar-benar tercapai maka saya percaya bahwa benturan-benturan di dalam kehidupan ini akan dapat terminimalisir dan  bahkan ternihilkan dari antara kehidupan kita bersama dengan semua orang tanpa terkecuali. Persoalannya adalah bahwa kita masih seringkali dikuasai dengan keegoisan diri kita sendiri. Bahkan kita melupakan kasih mula-mula yang seharusnya mendasari kehidupan kita sebagai manusia dan sebagai orang percaya.
                Saudara-saudara, melalui bagian bacaan kita saat ini hendak diingatkan kepada kita sekalian bahwa baiklah kita senantiasa melakukan hukum-hukum Tuhan, dimana di dalam ayat yang ke-13 digambarkan dengan jelas bahwa bukanlah orang yang mendengar hukum taurat yang benar di hadapan Allah tetapi orang yang melakukan hukum tauratlah yang akan dibenarkan. Hukum taurat yang dimaksudkan di sini berarti hukum-hukum Tuhan. Dan hukum Tuhan yang utama dan terutama adalah hukum kasih. Oleh karena itu baiklah kita mendasari seluruh kehidupan kita dengan hukum kasih tersebut. Dimana sifat-sifat kasih adalah lemah lembut, memaafkan dan murah hati. Itulah sifat kasih Kristus. Kasih itu jugalah yang perlu terus terpelihara di dalam kehidupan persekutuan orang percaya. Sebagaimana Filipi 2:1-3 dikatakan bahwa karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini. Hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.
                Saudara-saudara, mungkin di antara kita masih ada begitu banyak orang yang belum begitu sempurna dalam melakukan kasih sebagaimana yang Kristus ajarkan. Oleh karena itu baiklah kita sungguh-sungguh bertobat dalam kerangka kita menikmati kekayaan kemurahan Tuhan. Baiklah kita tidak menganggap sepi kekayaan kemurahan Tuhan itu. Baiklah kita berlomba-lomba dalam melakukan kasih. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.