Senin, 17 Agustus 2015

MEMAHAMI TEOLOGI BENCANA DALAM SPIRIT KEBEBASAN

Pembaca yang budiman, sebagai orang percaya kita pasti yakin dan percaya bahwa Allah kita adalah Allah pemelihara bukan? Bahkan Alkitab kita pun menegaskannya (bdk.Mazmur 138:8). Dalam nats tersebut terlihat jelas keyakinan iman pemazmur bahwa Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kau tinggalkan perbuatan tangan-Mu. Bahkan ungkapan itu jugalah yang acap kali kita dengar dalam ungkapan votum dan salam ketika ibadah berlangsung, bahwa pertolongan kita ialah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang tidak pernah meninggalkan buatan tangan-Nya, yang kasih setia-Nya tetap turun-temurun. Namun dalam kenyataan hidup yang kita alami, hadapi dan saksikan, kita masih acap kali berjumpa dengan realitas bencana dimana-mana. Sebut saja yang baru-baru ini terjadi adalah bencana gempa bumi di Nepal. Dan atau bencana tanah longsor di Pangalengan-Bandung. Pun tentunya masih banyak bencana-bencana di tempat lain yang tidak bisa kita rinci dan sebutkan satu demi satu. Tapi nyatanya bencana masih tetap terjadi di tengah realitas iman kita yang meyakini bahwa Allah adalah Sang Pemelihara. Bagaimana kemudian kita harus memahami tentang teologi bencana, termasuk dalam spirit kebebasan dan kemerdekaan? Kalau kita mau menilik pada peristiwa air bah dan Nuh, maka akan sangat jelas tergambar di sana bahwa terjadinya bencana adalah karena pelanggaran manusia (lihat Kejadian 6:12-13). Di sana dengan jelas dikatakan bahwa Allah menilik bumi itu dan sesungguhnya rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka. Jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Ya, bahkan sejak awal manusia jatuh ke dalam dosa, maka sejak itulah manusia kehilangan kemuliaan Allah dan hal itu pun berdampak pada keutuhan ciptaan. Manusia pun jadi harus bekerja keras seumur hidupnya dengan mengusahakan tanah, dimana semak duri dan rumput durilah yang akan menjadi hasil dari tanah itu. Dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makanan manusia itu (lihat Kejadian 3:17-19). Hal itu terjadi sebagai kutuk atas dosa yang dilakukan oleh manusia itu, dimana mereka telah melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa justru lebih mendengarkan perkataan iblis dalam wujud ular untuk mengambil dan memakan buah itu. Pun Adam juga lebih mendengarkan perkataan Hawa istrinya untuk memakan buah tersebut. Akhirnya dosa menguasai manusia. Ular pun menerima kutukan diantara berbasgai binatang lainnya. Semua karena dosa, karena upah dosa adalah kutuk dan maut. Demikianpun kita sebagai keturunan Adam dan Hawa telah mewarisi dosa turunan tersebut. Dengan demikian kita pun perlu bekerja keras untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup kita. Kita pun perlu mengusahakan segala sesuatu yang kita perlukan dari alam yang ada di sekitar kita. Dengan demikian nyatalah bahwa hidup manusia sangat bergantung dengan alam. Manusia juga tidak bisa melepaskan diri dari realitas alam termasuk di dalamnya bencana alam yang acap kali terjadi dan sangat berpengaruh juga bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Sekali lagi saya tekankan bahwa segala sesuatunya disebabkan karena dosa manusia. Namun sebagai orang percaya sesungguhnya kita adalah orang-orang yang telah ditebus dan harganya telah lunas dibayar oleh Tuhan, sehingga Alkitab dengan jelas berkata bahwa kita tidak perlu hidup di dalam dosa lagi. Dalam ungkapan yang lain Alkitab dengan jelas berkata agar kita tidak lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Tuhan dari perbudakan dosa dan upah dosa yang adalah maut. Dengan demikian bagaimana kita harus memandang teologi bencana terutama dalam konteks dan spirit kemerdekaan dan kebebasan yang telah kita miliki berdasarkan anugerah Tuhan? Tentu jawabannya adalah bahwa kita harus mempergunakan kebebasan dan kemerdekaan ktia dengan penuh tanggung jawab, termasuk di dalamnya dalam hal mengelola alam semesta. Karena alam yang dapat kita nikmati saat ini bukanlah milik kita melainkan titipan dari generasi-generasi setelah kita. Oleh karena itu kita harus bisa menjaga dan memelihara alam dengan sebaik-baiknya. Pun tatkala bencana terjadi, kita perlu tetap yakin dan percaya bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong. Dia akan tetap menjaga dan memelihara hidup kita sekalipun kita ada di tengah bencana. Kita perlu tetap yakin bahwa sehabis hujan kan tampak pelangi. Kita perlu tetap yakin bahwa tangan Tuhan merenda kehidupan kita senantiasa. Jangan pernah putus pengharapan kepada-Nya, karena daripada-Nyalah datangnya pertolongan kita. Kita perlu tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah mencobai kita. Namun ketika Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi di dalam hidup kita, termasuk di dalamnya ketika Tuhan mengizinkan bencana terjadi maka yakinlah bahwa Tuhan hanya ingin melalui semua peristiwa hidup kita nama Tuhan semakin dipermuliakan, baik oleh kita maupun orang-orang di sekitar kita. Sampai akan tiba saatnya semua lutut akan bertelut dan semua lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristuslah Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah tetap bersabar menanggung segala penderitaan dan tetap berpengharapan kepada-Nya (bdk.Kisah Ayub). Ayub adalah seorang yang saleh. Namun Tuhan tetap mengizinkan segala penderitaan terjadi di dalam hidupnya. Dan melalui penderitaannya itulah Tuhan dapat benar-benar menyaksikan kesetiaan Ayub kepada-Nya. Dengan demikian Tuhan pun mengembalikan semua milik Ayub, bahkan menggantinya dengan berlipat kali ganda. Satu hal yang harus selalu kita sadari bersama bahwa dalam segala peristiwa hidup kita termasuk bencana di dalamnya, Tuhan tidak pernah salah. Oleh karena itu jangan pernah mempersalahkan Tuhan melainkan introspeksilah diri kita sendiri terlebih dahulu. Sudahkah yang terbaik kita berikan kepada Tuhan? Sudahkan kita menjaga dan memelihara alam ini dengan sebaik-baiknya? Atau justru kita mempergunakan kehendak bebas kita untuk “merusak” alam ini dengan tindakan kita yang semena-mena terhadap alam dan sekitar kita? Kiranya Tuhan memimpin, menyertaiu dan memberkati kita sekalian. Merdeka!

Minggu, 16 Agustus 2015

DIPANGGIL UNTUK MENJADI BANGSA YANG BESAR (KEJADIAN 12:1-9)

Saudara-saudara, berdasarkan bagian bacaan ini saya hendak mengajak kita sekalian untuk merenungkan sebuah tema yaitu “Dipanggil Untuk Menjadi Bangsa Yang Besar.” Tentu kita tahu bersama bahwa secara de facto dan de yure Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan adanya gugusan-gugusan kepulauan yang luas dan kekayaan alam yang hijau membentang. Bahkan pengakuan atas kebesaran dan keluasan Bangsa Indonesia tidak hanya diakui oleh warga Bangsa Indonesia sendiri termasuk kita, melainkan juga diakui oleh kalangan internasional yang berarti seluruh dunia mengakuinya. Hal ini ditandai dengan adanya ketetapan batas wilayah teritorial antar negara yang perlu dihormati oleh seluruh negara, khususnya negara-negara yang berbatasan dengan Indonesia. Memang ada fakta-fakta miris yang masih terjadi terhadap Indonesia, dimana ada saja negara-negara sahabat yang kurang menghargai dan menghormati batas wilayah teritorial Indonesia. Salah satunya dapat kita lihat melalui peristiwa akuisisi Kepulauan Sipadan dan Ligitan oleh negara tetangga kita Malaysia. Bahkan mantan presiden SBY yang selama ini memegang prinsip ziro enemy dalam kancah pergaulan Indonesia di kalangan internasional pun sampai menyerukan ganyang Malaysia. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena pemerintah kita ingin menjaga kedaulatan bangsa ini. Pun bahwa kedaulatan Bangsa Indonesia merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tatkala Bangsa Indonesia pun menghargai kedaulatan bangsa-bangsa lain, maka Bangsa Indonesia pun ingin agar kedaulatannya dapat dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Hal ini sejalan dengan perkataan Alkitab yang terdapat dalam Injil Matius 7:12, dimana dikatakan di sana bahwa segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum taurat dan kitab para nabi. Ya saudara, sekalipun masih ada kekurangan di sana-sini, dan sekalipun masih seringkali terjadi peristiwa-peristiwa yang memilukan terhadap pengakuan dan penghormatan atas wilayah teritorial Indonesia, tapi kita patut tetap mengucap syukur karena sampai dengan usia yang ke-70 tahun ini Bangsa Indonesia boleh tetap ada sebagai bangsa yang besar dan merdeka. Dan tentunya saya secara pribadi pun mendorong sesuai dengan semangat UUD 1945 agar penjajahan di atas dunia dapat dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Terlebih lagi agar jangan ada lagi juga praktek-praktek penjajahan oleh bangsa sendiri. Biarlah kita boleh menjadi bangsa yang bersatu dalam satu visi dan misi untuk terus membangun bangsa ini dan membuktikan kepada dunia senantiasa bahwa Bangsa Indonesia akan selalu menjadi bangsa yang besar. Bangsa Indonesia akan terus menjadi bangsa yang jaya dan teguh. Karena bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Oleh karena itu kita perlu terus menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa di dalam hati sanubari kita masing-masing sebagai warga bangsa ini. Kemanapun kita pergi, walau banyak negeri kita jalani, namun Indonesia adalah rumah terindah tempat dimana lahir beta sampai beta menutup mata. Artinya dimanapun kita berada, hati dan jiwa kita tetaplah satu, indonesia! Saudara, usia tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuktikan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Usia tujuh puluh tahun juga tentunya menggambarkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang akan terus bertumbuh dalam kedewasaannya dan dengan segudang pengalaman yang dimilikinya dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika Alkitab berkata bahwa usia manusia paling sedikit adalah tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun, maka kita pun patut berdoa, bersyukur dan berjuang dalam menjaga kelangsungan hidup bangsa ini, sehingga usia tujuh puluh tahun tidak menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang telah renta dan usang, melainkan bangsa ini akan menjadi bangsa yang terus kokoh berdiri, bahkan di tengah kencangnya terpaan angin yang menerpa bangsa ini. Saudara, menjadi bangsa yang besar tentu saja bukan sekedar menunjukkan kebesaran secara fisik semata, melainkan kebesaran di hadapan Tuhan juga. Bagian bacaan kita menunjukkan bagaimana Abram dipanggil Allah. Saat itu Tuhan berfirman kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Tuhan berjanji bahwa Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Bahkan Tuhan juga berjanji bahwa Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Mari kita perhatikan ungkapan-ungkapan tersebut tadi saudara. Ketika Tuhan mengatakan tentang hal-hal ini kepada Abram, itu bukanlah suatu lip service belaka. Tetapi hal itu diungkapkan Tuhan dalam kaitan perjanjian Allah dengan Abram tentang keturunannya. Dan bahwa Abram yang kemudian menjadi Abraham itu telah ditetapkan Allah menjadi bapa banyak bangsa. Kita dapat membacanya dalam Surat Roma 4:17. Bahkan dalam ayat sebelumnya Abraham dikatakan sebagai bapa kita semua. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena Abraham percaya kepada Tuhan. Bahkan percaya di sini bukan sekedar tindakan pasif tetapi juga aktif. Karena dalam percaya itu Abraham dan kita semua pun dituntut untuk mau mempercayakan diri dan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Bahkan di dalam percaya itu Abraham dan kita semua pun dituntut untuk mau terus setia kepada Tuhan dan mau menjadikan Tuhan sebagai teladan hidup kita. Perjanjian Allah dengan Abraham bukanlah perjanjian yang tanpa syarat. Tetapi Tuhan menuntut ketaatan penuh dari diri Abraham dan keturunannya atas kehendak Allah. Bukti nyatanya dapat kita lihat dalam Kejadian 17:1-27 dimana dikatakan bahwa sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham. Demikian pun kita saudara, sekalipun sunat fisik sudah tidak lagi ditekankan karena keselamatan telah digenapi dalam Kristus Yesus, tetapi Alkitab tetap menekankan kepada kita tentang pentingnya sunat hati. Saudara, sebagai anak-anak Abraham, dimana dia telah menunjukkan iman dan ketaatan yang besar dan sepenuhnya kepada Tuhan, maka kita pun dituntut untuk hidup dari iman Abraham. Dengan demikian janji Allah berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sekali lagi sebab Abraham adalah bapa kita semua. Itu berarti Bangsa Indonesia juga termasuk keturunan Abraham. Intinya adalah bahwa Bangsa Indonesia perlu dan patut menjadi bagian dari kumpulan orang percaya. Dan kita sebagai bagian dari persekutuan orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib; kita sebagai gereja yang adalah milik kepunyaan-Nya, maka tiap-tiap kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, termasuk di dalamnya menjadi terang dan garam bagi bangsa ini. Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Dengan demikian Indonesia pun perlu kita gapai agar memperoleh keselamatan sejati demi kemuliaan nama Tuhan. Mari kita sediakan diri kita untuk terus dipakai Tuhan bagi keselamatan sejati yang akan diperoleh bangsa ini di dalam Kristus. Mari kita pun terus berdoa dan berupaya bagi kesejahteraan bangsa ini, bukan semata-mata kesejahteraan yang bersifat fisik dan sementara, melainkan juga bagi damai sejahtera Allah yang bersifat kekal yang akan dialami oleh seluruh warga bangsa ini. Mari kita bangkit untuk menyerukan nama Yesus dan menyatakan kuasa-Nya. Mari kita bangkit untuk menggenapi Firman-Nya. Karena sekaranglah waktunya kita berdiri bagi bangsa ini. Mari maju umat pilihan Allah. Mari maju umat pemenang. Mari kita dorong bangsa kita menjadi bangsa yang besar, bukan hanya di mata manusia dan dunia, melainkan juga dalam pandangan mata Allah. Mari kita dorong bangsa ini menjadi bangsa yang berkenan kepada Tuhan. Mari kita dorong bangsa ini untuk menjadi bangsa yang percaya dan mau mempercayakan diri kepada Tuhan, serta meneladani Kristus dan beriman kepada-Nya, sebagaimana Abraham dan juga kita sekalian yang telah menjadi percaya. Karena Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Mari terus kita pupuk semangat kebangsaan kita dalam iman teguh kepada-Nya. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 19 Juli 2015

MENGATASI KONFLIK KEPENTINGAN DALAM KEKRISTENAN (MATIUS 22:34-40; MATIUS 26:38-39)

Saudara-saudara kekasih Kristus, berdasarkan bagian bacaan kita saat ini saya mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema yaitu mengatasi konflik kepentingan dalam kekristenan. Mengapa tema ini menjadi penting? Tidak lain adalah karena memang di dalam kehidupan kita sebagai manusia, sebagaimana bisa kita saksikan melalui pengalaman hidup orang-orang di sekitar kita, dan bahkan ketika kita sendiri mengalaminya, maka kita akan tersadar bahwa hidup kita memang senantiasa diperhadapkan dengan konflik kepentingan. Dalam kehidupan keluarga misalnya. Antara suami dan istri bisa saja terjadi konflik kepentingan. Demikian pun antara kakak dan adik. Bahkan tidak jarang konflik kepentingan yang terjadi itu berujung pada cek-cok. Pun sampai berujung kepada tindak kriminal. Berdasarkan berita yang beredar di masyarakat melalui media, kita ketahui bersama bahwa motif pembunuhan Angeline, seorang anak yang berusia delapan tahun di Bali itu dikabarkan adalah karena soal pembagian harta warisan yang tidak adil dan tidak merata. Dan pasti di dalamnya terjadi yang namanya konflik kepentingan. Antara kepentingan pihak yang satu dengan kepentingan pihak yang lain, yang kesemuanya berharap untuk dapat dipenuhi sesuai dengan keinginan dan ekspektasinya. Padahal sudah menjadi rahasia umum bersama semua manusia dimana kehidupan ini mengajarkan bahwa tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi dan tercapai. Bahkan dunia ini juga mengajarkan bahwa kalau kita ingin mencapai keinginan kita maka kita perlu bekerja keras. Pun Alkitab juga mengajarkan bahwa orang yang tidak bekerja maka ia tidak akan makan. Tapi kenyataannya, masih banyak orang di sekitar kita yang menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginan dan kepentingan pribadinya, termasuk di dalamnya melakukan tindakan kriminal dan berbagai hal lain yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sungguh miris ketika kita melihat keadaan di sekitar kita yang sedemikian. Tapi tentu setiap kita sebagai orang-orang percaya mau terus belajar dan diajar Tuhan supaya kita tidak hanya mencari berkat yang membuat kita dapat menghalalkan segala cara untuk memperolehnya, tetapi kita mau hidup bersama dan di dalam Sang Sumber berkat yang adalah Tuhan sendiri. Bahkan kita mau mempermuliakan Tuhan senantiasa, termasuk melalui harta yang kita miliki. Sehingga cara untuk memperoleh harta itu pun kita lakukan dengan cara-cara yang berkenan kepada-Nya. Bahkan lebih daripada itu, kita mau mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka kita yakin dan percaya bahwa segala sesuatu akan ditambahkan Tuhan di dalam hidup kita. Mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya berarti kita mau hidup mengutamakan Tuhan. Kita mau menempatkan Tuhan di tempat yang pertama dan terutama. Dan memang kata kunci di dalam mengatasi konflik kepentingan di dalam kekristenan adalah dengan menempatkan Tuhan di tempat yang pertama dan terutama. Saudara-saudara, tentu kita dapat sama-sama mengerti, memahami dan menyadari mengapa konflik kepentingan dapat seringkali terjadi di dalam kehidupan kita. Bahkan bukan hanya dengan sesama melainkan juga dengan Tuhan. Karena tidak jarang orang percaya juga seringkali protes kepada Tuhan apabila apa yang Tuhan berikan kepadanya tidak sesuai dengan keinginannya. Dan secara sadar maupun tidak sadar, di dalam tindakan protes tersebut maka manusia tersebut sudah memunculkan konflik kepentingan, yaitu antara kepentingan pemenuhan kehendak Tuhan dan kepentingan pemenuhan kehendak bebas manusia. Jadi kenapa konflik kepentingan dapat seringkali terjadi dan cenderung tidak bisa kita hindari? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena setiap manusia diciptakan dengan kehendak bebas. Dan bahwa setiap manusia memiliki keinginan daging. Saudara-saudara, Alkitab berkata bahwa keinginan daging acap kali berlawanan dengan keinginan Roh. Bahkan lebih jauh lagi Alkitab berkata bahwa barangsiapa bersahabat dengan dunia berarti menjadi musuh Allah. Jadi apa yang harus kita lakukan di dalam mengatasi konflik kepentingan berdasarkan kacamata iman Kristen? Tadi kita sudah bahas tentang poin menempatkan Tuhan di tempat yang pertama dan terutama. Maka poin yang kedua adalah hidup menurut Roh dan bukan hidup menurut daging. Untuk itu kita perlu untuk terus mau membuka diri kita agar kita senantiasa diubahkan oleh Tuhan, sehingga kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, melainkan kita dapat berubah menurut pembaharuan budi kita. Semua bukan karena hasil usaha kita sendiri, sehingga tidak ada seorang pun diantara kita yang patut memegahkan diri. Semua adalah karena anugerah Tuhan. Semua adalah karena pemberian Allah, sehingga kita patut bermegah di dalam Dia. Pun kita patut mempermuliakan Dia senantiasa di dalam dan melalui hidup kita. Sepatutnyalah kita mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang kudus, yang harum dan berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Sepatutnyalah kita mau menyediakan diri kita untuk terus dipakai-Nya menjadi saluran berkat bagi sesama kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Bahkan terlebih lagi bagi mereka yang belum percaya kepada-Nya. Karena Dia menginginkan kita menjadi terang dan garam dunia. Karena Dia menginginkan kita menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan bahkan sampai ke ujung bumi. Pun Dia berjanji bahwa Dia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Jadi sampai kapan tugas kita berakhir? Jawabannya adalah sampai kesudahan segala sesuatu. Sampai akan tiba waktunya semua lutut akan bertelut dan semua lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristuslah Tuhan, Sang Juruselamat. Saudara-saudara, sebagaimana tercantum jelas di dalam bagian bacaan kita tentang hukum yang terutama, dimana kita diminta untuk mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita. Pun kita diminta untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, maka di dalam kesemua hukum ini tidak ada konflik kepentingan sama sekali. Hukum ini adalah hukum yang Theosentris. Semua mengacu kepada Tuhan. Semua mengacu kepada pendahuluan kepentingan dan kehendak Tuhan. Bahkan ketika kita diperintahkan untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena tidak akan mungkin orang dapat berkata bahwa aku mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan kalau ia tidak mengasihi sesamanya yang kelihatan. Oleh karena itu Alkitab juga menekankan bahwa ketika kita melakukan segala sesuatu termasuk ketika kita menyatakan kasih kita kepada sesama kita melalui perbuatan kita, maka lakukanlah semuanya itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Sungguh jelas bagi kita nilai Theosentris dari hukum yang terutama yang Yesus Kristus ajarkan kepada kita melalui Firman-Nya. Bahkan Yesus Kristus sendiri meneladankan melalui sikap hidup-Nya ketika Dia berada di Taman Getsemani menjelang penangkapan dan penyaliban-Nya. Sekalipun hati-Nya merasa sangat sedih bahkan seperti mau mati rasanya. Sekalipun Dia berkata kepada Bapa-Nya: Ya, Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu daripada-Ku. Tetapi ungkapan-Nya tidak berhenti sampai di situ. Dalam ungkapan selanjutnya Dia menunjukkan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa-Nya. Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki. Kristus yang adalah Allah sendiri saja sudah mau menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya. Bahkan Dia taat sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa setiap kita milik kepunyaan-Nya. Dan kini Dia telah menjadi Kristus yang bangkit dan menang di dalam dan melalui ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa-Nya. Sekarang, Dia pun mengajak kepada kita agar kita mau menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk dapat mengatasi konflik kepentingan yang ada di dalam hidup kita dengan cara mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya dan hidup menurut tuntunan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 14 Juni 2015

MENGIKUTI MAUNYA TUHAN

Saudara-saudara kekasih Kristus, Pada umumnya manusia tentu akan merasa ill fill bukan dengan sesamanya yang banyak maunya? Ya, dan memang manusia pada umumnya sungguh banyak maunya. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena manusia memang diciptakan bukan seperti robot, melainkan manusia memiliki kehendak bebas. Manusia adalah mahluk ciptaan yang paling sempurna karena manusia memiliki akal pikiran dan juga hati. Manusia juga diperlengkapi dengan kemampuan untuk berangan-angan dan bercita-cita. Berangkat dari angan dan cita-cita inilah manusia berhasrat untuk mewujudnyatakan segala kemauannya di dalam kehidupan nyata mereka. Oleh karena itu tidak salah kalau ada ungkapan bahwa keberhasilan berawal dari mimpi. Ya, itulah keberadaan manusia secara adikodrati. Tapi bagaimana dengan Tuhan sendiri? Apa sebenarnya maunya Tuhan atas kita sehingga Dia menciptakan kita beserta dengan keutuhan ciptaan lainnya dengan begitu sempurna dan baik adanya? Maka saya mendapati bahwa maunya Tuhan hanya satu, yaitu agar kita mempermuliakan Dia. Dengan ungkapan yang lain bisa dikatakan bahwa itulah visi utama Tuhan atas kita dan keutuhan ciptaan-Nya. Barulah kemudian visi utama itu dijabarkan ke dalam misi atau langkah-langkah yang telah dijabarkan secara jelas di dalam Alkitab mulai dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru. Adapun beberapa poin utama misi Tuhan secara garis besar sebagaimana telah dituturkan di dalam Alkitab dapat saya sebutkan sebagai berikut: 1. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan juga kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 2. Gembalakanlah domba-domba-Ku sebagai wujud bahwa engkau mengasihi Aku, kata Tuhan. Lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 3. Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar. Baiklah kamu dalam segala keberadaan hidupmu tetap menjaga kekudusanmu sebab Aku, Tuhan Allahmu kudus, kata Tuhan. 4. Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah karena itulah ibadahmu yang sejati. 5. Ikutlah Dia dengan setia dan layanilah Dia senantiasa. Itulah lima poin garis besar misi Tuhan yang dapat saya jabarkan dari sekian banyak misi, perintah dan ketetapan Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Tentunya keseluruhan misi ini pasti seiring sejalan dengan visi Tuhan agar kita mempermuliakan Dia. Kiranya tulisan ini sedikit banyak dapat membantu kita untuk mengerti dan memahami apa sesungguhnya maunya Tuhan atas kita. Dan pada akhirnya kita dimampukan Tuhan untuk senantiasa mengikuti maunya Tuhan di dalam hidup kita dan melalui hidup kita. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 24 Mei 2015

KENAIKAN KRISTUS MENJADIKAN KITA PEMENANG DALAM KEBENARAN (Yesaya 33:14-16; Kisah Para Rasul 1:8-11)

Saudara-saudara kekasih Kristus, kita baru saja melewati peringatan dan perayaan kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Sorga, dan saat ini kita berada dalam peringatan pentakosta atau turunnya Roh Kudus atas diri para murid dan juga tentunya atas diri kita. Sehingga kiranya di waktu-waktu ini kita mau, mampu dan semakin dimampukan Tuhan untuk menyelami bagaimana hidup dalam kepenuhan Roh. Bagaimana hidup di dalam Roh, menurut Roh dan bukan menurut daging. Tentu berbicara tentang hidup di dalam Roh dan menurut Roh berarti kita dapat langsung mengaitkannya dengan hidup di dalam kebenaran dan menurut kebenaran Allah, dimana tolak ukurnya adalah Alkitab, Firman Allah. Dan pada saat ini saya ingin mengajak kita sekalian untuk merenungkan sebuah tema berdasarkan bagian bacaan kita, yaitu: Kenaikan Kristus Menjadikan Kita Pemenang Dalam Kebenaran. Saya ingin kita sekalian semakin mendalami makna tentang kenaikan Kristus ke Sorga terutama dalam kaitannya dengan menjadikan kita sebagai pemenang dalam kebenaran. Saudara-saudara, kalau kita berbicara mengenai kenaikan Kristus ke Sorga, tentu peristiwa ini bukanlah tanpa makna. Kenaikan Kristus ke Sorga merupakan bagian dari rangkaian perjalanan karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang dimulai dari kelahiran-Nya ke dalam dunia sebagai bayi Yesus, karya kenabian-Nya di tengah dunia, kematian-Nya di atas kayu salib, kebangkitan-Nya dari antara orang mati sampai kepada kenaikan-Nya ke Sorga. Rangkaian peristiwa ini merupakan kesatuan, kebulatan dan keutuhan yang tidak bisa dilepaskan satu terhadap yang lain. Bahkan Alkitab dengan jelas memaparkan bahwa tujuan kenaikan-Nya ke Sorga adalah untuk menyediakan tempat bagi kita di sana, supaya pada saatnya nanti kita benar-benar dapat bertemu muka dengan muka dengan Tuhan., dimana di Sorga nanti digambarkan tidak ada lagi ratap tangis ataupun kertak gigi. Yang ada adalah kesukacitaan dan kegirangan bersama Tuhan untuk selama-lamanya. Dan itu adalah upah bagi setiap orang yang percaya dan setia kepada-Nya. Karena kepada setiap hamba yang setia Dia akan berkata: “Ikutlah bersama-Ku dalam kebahagiaan Tuanmu.” Itulah janji-Nya yang disaksikan di dalam Alkitab, Firman Allah yang tentunya kita percaya. Karena orang Kristiani atau pengikut Kristus adalah orang-orang yang hidup karena percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya. Demikianpun kita sekarang, memang belum ada di antara kita yang bisa melihat dan mengalami Surga dalam fakta yang nyata. Namun tentunya situasi Sorgawi dapat kita bangun dan rasakan sejak sekarang ketika kita masih hidup di dalam dunia ini. Untuk itulah kita dipanggil oleh Tuhan, yaitu untuk menjadi pewarta-pewarta sukacita Kerajaan Sorga. Untuk itulah kita dipanggil menjadi saksi-saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi. Mempersaksikan sukacita Sorga dalam kebenaran. Karena memang orang-orang yang akan masuk dan berbagian di dalam Kerajaan Sorga adalah orang-orang yang telah dibenarkan dan dimenangkan oleh Tuhan. Tetapi juga adalah orang-orang yang mau terus dimampukan Tuhan untuk memelihara hidup berkemenangan di dalam koridor kebenaran Allah yang hakiki. Sehingga kita benar-benar menjadi orang-orang yang kudus di hadapan Allah sampai kepada kesudahannya. Sehingga kita benar-benar menjadi anak-anak terang dan bukan anak-anak kegelapan. Sehingga kita benar-benar menjadi hamba kebenaran dan bukan hamba dosa. Untuk itu kita perlu berdiri teguh dan tidak goyah di dalam mengerjakan keselamatan kita. Ingat saudara, yang namanya menjadi saksi Kristus berarti menjadi saksi-saksi-Nya yang benar. Bukan menjadi saksi-saksi palsu. Oleh karena itu Tuhan sendiri menjanjikan bahwa Roh Kudus akan turun ke atas kita. Roh Kuduslah yang akan memimpin dan membimbing kita agar kita dapat benar-benar menjadi saksi-Nya yang benar. Dialah yang akan menjadi penolong yang lain yang dijanjikan-Nya sebelum Dia naik ke Sorga. Oleh karena itu tema ini menjadi penting untuk kita renungkan dan gumuli bersama. Kenaikan Kristus menjadikan kita penenang dalam kebenaran. Benarkah kenaikan Kristus sudah benar-benar menjadikan kita pemengang dan bukan pecundang? Benarkah kenaikan Kristus sudah benar-benar menjadikan kita hidup di dalam kebenaran dan tidak lagi menjadi hamba dosa? Bukankah kita acap kali berkata sebagaimana tertulis juga di dalam Alkitab: Roh sih memang penurut, tetapi daging lemah Tuhan! Bagaimana caranya aku harus hidup menurut Roh dan bukan menurut daging? Bagaimana caranya aku harus mematikan kedaginganku Tuhan? Caranya tidak lain dan tidak bukan adalah dengan hidup berpadanan dengan Firman, kata Tuhan. Hidup berpadanan dengan Injil karena Injil adalah kekuatan Allah. Hidup bergaul karib dan akrab dengan Tuhan dan tidak meninggalkan persekutuan ibadah. Melalui hal-hal itulah kita akan dibangun oleh Tuhan. Ingat saudara, kalau bukan Tuhan yang membangun rumah maka sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Segenap kehidupan kita perlu terus dibangun oleh Tuhan. Kita senantiasa memerlukan Tuhan dan tidak akan pernah bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu marilah kita buka diri kita di hadapan Tuhan, dan kita katakan: Tak tersembunyi kuasa Allah. Tak tersembunyi pertolongan Tuhan, dimana kamu ditolong, saya juga. Dari manakah datangnya pertolongan kita kalau bukan dari Tuhan pencipta langit dan bumi, yang tidak pernah meninggalkan buatan tangan-Nya. Yang kasih seta-Nya kekal selama-lamanya. Saudara, mengikrarkan bahwa kita akan masuk Sorga sebagai orang percaya memang mudah. Tetapi ingatlah saudara, Kristus sendiri menggambarkan di dalam Alkitab bahwa lebih mudah unta masuk ke dalam lobang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Itu berarti berbicara tentang masuk ke dalam Kerajaan Sorga bukan sekedar berbicara mengenai seberapa kaya dan terpandangnya kita di tengah dunia, tetapi seberapa jauh kita hidup di dalam kebenaran dan memelihara kebenaran itu di sepanjang nafas hidup kita. Saudara, kenaikan Kristus berarti Dia sedang menyediakan tempat bagi kita. Dengan demikian berarti Dia ingin agar kita turut serta di dalam kemenangan-Nya, bahkan Dia ingin menjadikan kita lebih daripada pemenang. Masalah dan pergumulan boleh ada, tetapi kita percaya bahwa Tuhan kita jauh lebih besar dari segala masalah dan pergumulan hidup kita. Dan kita mau terus dibangun oleh Dia dan di dalam Dia, sehingga segala sesuatu yang kita jalani di dalam hidup ini tidak sia-sia. Marilah sekali lagi kita jadikan spirit kenaikan Kristus dan juga Pentakosta ini supaya kita dapat menjadi pemenang di dalam kebenaran. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.