CATATANKU ERICKTJONG adalah blog yang berisi tentang catatan reflektif spiritual dan catatan-catatan kritis mengenai berbagai-bagai pokok persoalan.
Minggu, 18 Oktober 2015
TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH (KELUARAN 20:1-17)
Nats: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (ayat ke-3).
Saudara-saudara kekasih Kristus, berdasarkan bagian bacaan dan nats ini saya ingin mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema, yaitu: Tidak ada Tuhan selain Allah. Ya saudara, mungkin dan bahkan dapat dipastikan bahwa kita semua pernah mendengar kumandangan atas pernyataan ini. Paling tidak kita pasti pernah mendengarnya dalam kumandangan adzan magrib yang biasa disiarkan di televisi. Dalam Bahasa Arab ungkapan ini sering dikumandangkan dengan ungkapan la ilaha illallah. Apakah pernyataan ini salah? Tentu tidak saudara. Bahkan Alkitab kita pun menegaskannya. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jadi memang hanya Allah sajalah yang patut kita sembah, karena hanya Dialah satu-satunya Sang Khalik, Sang Pencipta yang menciptakan seluruh ciptaan dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Termasuk juga kita di dalamnya. Bahkan Kitab Kejadian pasal yang pertama juga menyebutkan dalam bahasa aslinya: Beresyit bara Ellohim et hasyamayim tohu wavohu... Pada mulanya Allah menciptakan... Dan sebelum dunia ini diciptakan maka semuanya masih berada dalam keadaan tohu wavohu yang berarti kekosongan tanpa bentuk. Dalam Alkitab terjemahan LAI disebutkan bahwa dunia belum berbentuk dan kosong. Maka secara logika sederhana saja kita semestinya sudah dapat menyimpulkan dan menyadari sepenuhnya bahwa sebagai ciptaan maka sudah barang tentu dan pasti kita harus menyembah kepada pencipta kita dan bukan kepada yang lain. Bahkan bagian bacaan kita lebih lanjut memaparkan juga tentang sebuah larangan, yaitu jangan membuat bagimu patung-patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya ataupun beribadah kepadanya. Perhatikan baik-baik ungkapan selanjutnya: Sebab Aku Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Tapi tidak juga berhenti sampai di situ. Lebih lanjut Allah mengungkapkan tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Pertanyaan sederhana dilontarkan Tuhan kepada kita saat ini: Termasuk dalam golongan manakah kita? Apakah kita termasuk dalam golongan orang-orang yang membenci Allah? Ataukah kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mengasihi Allah dan senantiasa berpegang pada perintah-perintah-Nya? Secara gamblang bagian bacaan kita yang berisi tentang dasa titah memaparkan tentang hal-hal apa saja yang berkenan dan tidak berkenan dalam pandangan mata Tuhan untuk kita lakukan. Sudahkah kita mematuhinya dengan sepenuh hati? Atau kita masih menjadi orang-orang yang suam-suam kuku dalam mengikut Tuhan? Jika memang kita masih berada dalam taraf orang beriman yang suam-suam kuku, maka sekaranglah waktunya bagi kita untuk sungguh-sungguh mengalami kebangkitan di dalam Kristus, karena kebangkitan Kristus senantiasa mengisyaratkan juga tentang kebangkitan kita. Terlebih ketika kita sudah ditebus dan harga kita telah lunas dibayar. Marilah kita bersama-sama bangkit dalam iman dan kebenaran-Nya, karena kita memang diselamatkan karena iman, sehingga kita tidak boleh sekalipun meninggalkan iman kita kepada-Nya. Karena hanya Dialah, Kristus yang merupakan jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Marilah juga dengan iman kita nyatakan kasih sebagai tindakan dalam kebenaran, karena memang hukum yang utama dan terutama yang diajarkan oleh Kristus kepada kita semua adalah hukum kasih, dimana kita diminta untuk mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Kita pun diminta untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dan kita juga diminta untuk mengasihi musuh kita serta berdoa bagi orang yang menganiaya kita.
Saudara, hidup kristen memang tidak ringan. Terlebih kalau memang kita sungguh-sungguh menjalaninya dan bukan sekedar beragama, karena kristen memang bukanlah sebuah agama melainkan pola hidup, dimana kita diminta untuk meneladani Kristus di dalam hidup kita. Dimana kita diminta untuk menjadi semakin serupa dengan Dia. Dalam hal ini pasti kita akan banyak menemukan tantangan dan pergumulan. Bahkan tidak jarang juga penolakan, penderitaan dan penganiayaan. Tetapi berdirilah teguh dan jangan goyah. Tetaplah kerjakan keselamatanmu, kata Firman Tuhan. Karena memang iman bertumbuh dalam penganiayaan dan dalam pembacaan Kitab Suci. Sebagai orang percaya kita diminta untuk tahan menderita. Bahkan kita diminta untuk menjadikan penderitaan Kristus sebagai teladan. Sekali lagi, hidup kristen memang tidak mudah. Bahkan di dalam menjalani hidup meneladani Kristus pun ada kalanya kita mengalami jatuh bangun. Tapi yakin dan percayalah bahwa jalan hidup orang benar diterangi oleh cahya Firman Tuhan. Jalan hidup orang benar semakin terang hingga remang tengah hari. Apabila ia jatuh tidakkan dibiarkan sampai tergeletak. Sbab tangan Tuhan jua yang menopangnya dan membangunkan dia kembali. Yang terpenting bagi kita ialah jangan sekali-kalipun kita meninggalkan Tuhan atau membelakangi Dia, karena Dia pun adalah Tuhan yang tidak pernah sedetik pun meninggalkan atau membelakangi kita. Dia adalah Tuhan yang senantiasa memberkati dan melindungi kita. Dia menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia. Dia menghadapkan wajah-Nya kepada kita dan memberi kita damai sejahtera. Itulah Dia, Tuhan semesta alam. Itulah Dia, Tuhan kita Yesus Kristus. Temuilah Dia selama Ia berkenan untuk ditemui. Teruslah nyatakan iman, pengharapan dan kasih kita kepada-Nya. Jangan pernah berhenti berharap pada-Nya, karena Dia adalah Tuhan, Sang Gembala Agung kita dan kita adalah umat gembalaan-Nya. Maka sudah barang tentu kita perlu terus bergantung pada-Nya seperti ranting yang selalu bergantung pada pokok anggurnya. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
Penutup:
Lagu pujian “Tuhan Raja Maha Besar.”
Minggu, 06 September 2015
HIDUP DALAM SUKACITA YANG SEMPURNA (FILIPI 2:1-11)
Saudara-saudara kekasih Kristus, jujur saja ketika saya mempersiapkan tema ini maka saya berada dalam pergumulan besar. Saya tidak langsung menemukan tema ini. Tetapi saya mengalami perjalanan pergumulan sampai akhirnya saya menemukan tema ini. Dan saya percaya bahwa ini merupakan bagian dari iluminasi Tuhan yang dianugerahkan-Nya kepada saya sehingga hari ini saya bisa dan rindu mengajak kita sekalian untuk merenungkan tema ini, yaitu hidup dalam sukacita yang sempurna berlandaskan pada bagian bacaan kita yang terambil dari Surat Filipi 2:1-11.
Saudara-saudara kekasih Kristus, sudah barang tentu di dalam hidup ini tiap-tiap insan pasti mendambakan kesempurnaan bukan? Misalnya saja kesempurnaan materi, kesempurnaan cinta, kesempurnaan pasangan hidup, dan sebagainya. Makanya ada lagu yang mengatakan oh sayangku kau begitu sempurna dari Andra & The Backbone.
Ya saudara, tiap orang pasti akan berlomba-lomba mengejar kesempurnaan. Bahkan Alkitab sendiri berkata agar kita menjadi sempurna karena Dia, Tuhan Allah kita sempurna. Alkitab juga menggambarkan bahwa hidup ini bak sebuah arena pertandingan, dimana tiap-tiap orang diminta untuk bertanding dan bahkan berlari ke arah Kristus. Pun setiap kita diminta untuk berjuang sehingga pada akhirnya Dia akan mendapati kita tetap setia. Kita percaya dan kita tahu bersama bahwa Kristus adalah kesempurnaan hidup kristen atau para pengikut Kristus. Dia begitu semprna dalam hal spiritualitas, mentalitas maupun aksi nyata-Nya. Dia begitu sempurna di dalam His Life, His Work dan His Teaching. Dan kita berada di sini saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk belajar daripada-Nya. Karena Alkitab berkata dalam Matius 11:29 yang berbunyi demikian: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Apakah yang dapat kita pelajari dari bagian bacaan kita berkaitan dengan hidup dalam sukacita yang sempurna? Yang pertama yang dapat kita pelajari adalah bahwa sumber kesempurnaan kita tidak lain adalah Kristus itu sendiri karena di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Oleh karena itu saudara, kita diminta untuk menyempurnakan sukacita kita dengan ini, yaitu hendaklah kita sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri tetapi kepentingan orang lain juga.
Poin yang kedua adalah hendaklah kita dalam hidup kita bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia Ia telah merendahkan diri- Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. Dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
SPIRITUALITAS, MENTALITAS DAN AKSIO-ANTROPOSENTRIS
Pengantar
Mungkin kita masih ingat dengan sebuah iklan di televisi yang mengedepankan jargon: “Ekspresinya mana?” Ya saudara, ekspresi memang merupakan satu bagian penting dalam hidup. Dan ekspresi pun menggambarkan bahwa seorang manusia memang sungguh-sungguh hidup. Bahkan tidak bisa kita pungkiri bahwa ekspresi dan tindakan yang kita nyatakan sesungguhnya menyatakan bagaimana suasana dan isi hati kita. Melalui apa yang kita ekspresikan dan nyatakanlah maka sesama kita dapat mengetahui apa yang kita rasakan dan tujukan dari tiap ekspresi dan tindakan yang dapat diamati oleh sesama kita, entah itu baik maupun buruk (bdk.Yeremia 20:12). Dalam ayat ini dengan tegas dinyatakan bahwa Tuhan semesta alam menguji orang benar. Ia melihat batin dan hati. Memang benar, manusia hanya bisa melihat apa yang kelihatan tetapi Tuhan melihat hati kita. Dengan demikian tentunya ada keterkaitan yang sangat erat antara spiritualitas (iman-Roh), mentalitas (jiwa/psyche; hati) & aksio-antroposentris (tindakan nyata manusia). Inilah judul yang akan kita bahas saat ini: Spiritualitas, Mentalitas & Aksio-Antroposentris (bdk.Yohanes 11:35; Roma 12:15; Yohanes 2:15).(1). Ayat-ayat ini dengan jelas menggambarkan bahwa Tuhan juga adalah Tuhan yang sangat ekspresif.
Spiritualitas Kristus Sebagai Spiritualitas Yang Benar
Apa yang dimaksudkan dengan spiritualitas Kristus? Yang dimaksud dengan spiritualitas Kristus adalah dimana Kristus menjadi satu-satunya role model dari spiritualitas orang percaya dan bahkan juga bagi semua orang tanpa terkecuali. Karena tiap-tiap kita yang telah menjadi percaya sesungguhnya dan seyogyanya meyakini bahwa Dialah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Dalam poin itulah kita sebagai orang-orang percaya perlu terus menyediakan diri untuk terus dipakai Tuhan menjadi alat-Nya, menjadi saksi-Nya, menjadi garam dan terang dunia, terutama bagi mereka yang belum percaya kepada-Nya. Dalam poin itulah maka hidup kita pun perlu dan patut untuk menjadi kitab-kitab terbuka yang dapat dibaca oleh sesama kita dimana mereka akan dapat melihat Kristus di dalam dan melalui hidup kita.
Berbicara tentang spiritualitas di dalam dan melalui diri Kristus, maka kita tentunya tidak perlu meragukannya lagi. Dia telah membuktikan bahwa diri-Nya begitu taat kepada Bapa-Nya, bahkan Dia taat sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa setiap kita. Dan kini Dia telah menjadi Kristus Victor, Kristus yang menang. Dia telah menang atas dosa dan maut. Karena kemenangan-Nya itu, maka tiap-tiap kita sebagai orang yang benar-benar percaya kepada-Nya dapat berkata: “Hai maut, dimanakah sengatmu?” Kita tidak perlu takut lagi terhadap kuasa maut, karena kuasa dosa telah dikalahkan dan dipatahkan oleh Tuhan sendiri melalui perantaraan Tuhan kita Yesus Kristus. Kini, kita telah diperdamaikan dengan Dia dan kita bukan lagi menjadi seteru Allah melainkan kita adalah kawan sekerja Allah yang ditempatkan Tuhan di dalam dunia untuk memberitakan kepada dunia tentang sukacita Sorga, dan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat. Untuk itu kita diminta untuk memberitakan dan membawa tiap-tiap orang kepada pertobatan yang sejati. Kita diminta Tuhan untuk menjadi pewarta keselamatan dan hidup kekal yang akan diterima oleh setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Percaya di sini bukan sekedar tindakan pasif melainkan aktif, dimana tiap-tiap kita diminta untuk mempercayakan diri dan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan jangan bersandar kepada pengertian dan kekuatanmu sendiri. Berbicara tentang pengertian berarti kita berbicara tentang hikmat, dimana kita diminta untuk memakai hikmat dari atas dan bukan hikmat dari bumi. Berbicara tentang kekuatan berarti kita berbicara tentang Roh Kudus sebagai sumber kekuatan hidup kita (bdk. dengan lagu Kekuatan di Hidupku). Dalam penggalan lagu itu jelas dikatakan bahwa kekuatan di hidupku kudapat dalam Yesus.
Berbicara tentang mentalitas, maka tidak perlu kita ragukan lagi karena Kristus adalah 100 persen Allah dan 100 persen manusia. Justru Dialah yang akan menjadi satu-satunya jalan penebusan dan keselamatan yang akan dinyatakan Allah bagi semua orang terutama bagi tiap-tiap orang yang percaya kepada-Nya. Dan barangsiapa percaya kepada-Nya maka ia tidak akan binasa melainkan akan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Bahkan melalui ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa-Nya Dia telah membuktikan dimana hati dan jiwa-Nya berada dan diserahkan, yaitu satu-satunya hanya kepada Bapa di Sorga. Kita pun dapat belajar melalui ungkapan-Nya di Taman Getsemani: “Bukanlah kehendak-Ku yang jadi melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Berdasarkan teladan hidup Kristus itulah sesungguhnya dan seyogyanya setiap kita dapat sungguh-sungguh berkaca dan berefleksi bersama: apakah hati dan jiwa kita sudah benar-benar kita arahkan hanya semata-mata kepada Kristus? Apakah kita sudah benar-benar dan sungguh-sungguh melakukan kehendak-Nya dan berjalan sesuai dengan keinginan-Nya? Apakah motivasi diri dan hidup kita sudah benar-benar lurus bagi-Nya sehingga kita dapat berkata dengan penuh kesungguhan hati bahwa aku telah menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan? Pertanyaan dan refleksi diri ini penting untuk kita pertanyakan di dalam hati kita masing-masing, karena sekalipun kita telah ditebus dan harga kita telah lunas dibayar oleh-Nya, namun di dalam hidup ini kita masih memiliki sifat dosa, sehingga masih sangat mungkin bagi kita untuk melakukan dosa dan kesalahan. Masih sangat mungkin bagi hati kita untuk menjadi bengkok. Ketika saya mengutarakan tentang hal ini maka sejujurnya bukan berarti bahwa saya sudah sempurna, tetapi saya ingin mengajak kepada kita sekalian untuk sama-sama belajar menjadi sempurna. Karena Alkitab dengan jelas mengatakan: “Sempurnalah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu sempurna (Matius 5:48). Di samping itu kita perlu terus belajar dari Tuhan karena memang sebagaimana pemazmur katakan bahwa aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali (Mazmur 119:96). Dalam Mazmur 19:7 juga dikatakan bahwa taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa...
Oleh karena itu menjadi penting bagi kita untuk terus meminta Tuhan menyelidiki hati kita apakah kita sungguh-sungguh men gasihi-Nya. Menjadi penting juga bagi kita untuk terus bertekun dan belajar akan Firman-Nya, baik secara pribadi maupun di dalam persekutuan-persekutuan ibadah. Mari kita menyukai apa yang disukai Tuhan dan membenci apa yang dibenci Tuhan. Kiranya Tuhan akan senantiasa membentuk kita untuk menjadi semakin serupa dengan Dia. Ingatlah selalu bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
Catatan:
(1). Berbicara soal marah, maka ada beberapa catatan soal marah, yaitu: 1. Marah boleh sepanjang kita mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Tuhan benci. 2. Ketika kita marah maka ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (a). Jangan sampai matahari terbenam (jangan berlarut-larut bahkan sampai menjadi dendam (bdk.Mazmur 103:9), dan (b). Jangan sampai kita berbuat dosa. Selama kita belum bisa memenuhi syarat tersebut maka akan jauh lebih baik kalau kita hidup dalam kasih dan pengendalian diri, karena kasih dan pengendalian diri merupakan bagian dari buah-buah Roh.
Senin, 17 Agustus 2015
MEMAHAMI TEOLOGI BENCANA DALAM SPIRIT KEBEBASAN
Pembaca yang budiman, sebagai orang percaya kita pasti yakin dan percaya bahwa Allah kita adalah Allah pemelihara bukan? Bahkan Alkitab kita pun menegaskannya (bdk.Mazmur 138:8). Dalam nats tersebut terlihat jelas keyakinan iman pemazmur bahwa Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kau tinggalkan perbuatan tangan-Mu. Bahkan ungkapan itu jugalah yang acap kali kita dengar dalam ungkapan votum dan salam ketika ibadah berlangsung, bahwa pertolongan kita ialah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang tidak pernah meninggalkan buatan tangan-Nya, yang kasih setia-Nya tetap turun-temurun. Namun dalam kenyataan hidup yang kita alami, hadapi dan saksikan, kita masih acap kali berjumpa dengan realitas bencana dimana-mana. Sebut saja yang baru-baru ini terjadi adalah bencana gempa bumi di Nepal. Dan atau bencana tanah longsor di Pangalengan-Bandung. Pun tentunya masih banyak bencana-bencana di tempat lain yang tidak bisa kita rinci dan sebutkan satu demi satu. Tapi nyatanya bencana masih tetap terjadi di tengah realitas iman kita yang meyakini bahwa Allah adalah Sang Pemelihara. Bagaimana kemudian kita harus memahami tentang teologi bencana, termasuk dalam spirit kebebasan dan kemerdekaan?
Kalau kita mau menilik pada peristiwa air bah dan Nuh, maka akan sangat jelas tergambar di sana bahwa terjadinya bencana adalah karena pelanggaran manusia (lihat Kejadian 6:12-13). Di sana dengan jelas dikatakan bahwa Allah menilik bumi itu dan sesungguhnya rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka. Jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Ya, bahkan sejak awal manusia jatuh ke dalam dosa, maka sejak itulah manusia kehilangan kemuliaan Allah dan hal itu pun berdampak pada keutuhan ciptaan. Manusia pun jadi harus bekerja keras seumur hidupnya dengan mengusahakan tanah, dimana semak duri dan rumput durilah yang akan menjadi hasil dari tanah itu. Dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makanan manusia itu (lihat Kejadian 3:17-19). Hal itu terjadi sebagai kutuk atas dosa yang dilakukan oleh manusia itu, dimana mereka telah melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa justru lebih mendengarkan perkataan iblis dalam wujud ular untuk mengambil dan memakan buah itu. Pun Adam juga lebih mendengarkan perkataan Hawa istrinya untuk memakan buah tersebut. Akhirnya dosa menguasai manusia. Ular pun menerima kutukan diantara berbasgai binatang lainnya. Semua karena dosa, karena upah dosa adalah kutuk dan maut. Demikianpun kita sebagai keturunan Adam dan Hawa telah mewarisi dosa turunan tersebut. Dengan demikian kita pun perlu bekerja keras untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup kita. Kita pun perlu mengusahakan segala sesuatu yang kita perlukan dari alam yang ada di sekitar kita. Dengan demikian nyatalah bahwa hidup manusia sangat bergantung dengan alam. Manusia juga tidak bisa melepaskan diri dari realitas alam termasuk di dalamnya bencana alam yang acap kali terjadi dan sangat berpengaruh juga bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Sekali lagi saya tekankan bahwa segala sesuatunya disebabkan karena dosa manusia.
Namun sebagai orang percaya sesungguhnya kita adalah orang-orang yang telah ditebus dan harganya telah lunas dibayar oleh Tuhan, sehingga Alkitab dengan jelas berkata bahwa kita tidak perlu hidup di dalam dosa lagi. Dalam ungkapan yang lain Alkitab dengan jelas berkata agar kita tidak lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Tuhan dari perbudakan dosa dan upah dosa yang adalah maut. Dengan demikian bagaimana kita harus memandang teologi bencana terutama dalam konteks dan spirit kemerdekaan dan kebebasan yang telah kita miliki berdasarkan anugerah Tuhan? Tentu jawabannya adalah bahwa kita harus mempergunakan kebebasan dan kemerdekaan ktia dengan penuh tanggung jawab, termasuk di dalamnya dalam hal mengelola alam semesta. Karena alam yang dapat kita nikmati saat ini bukanlah milik kita melainkan titipan dari generasi-generasi setelah kita. Oleh karena itu kita harus bisa menjaga dan memelihara alam dengan sebaik-baiknya. Pun tatkala bencana terjadi, kita perlu tetap yakin dan percaya bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong. Dia akan tetap menjaga dan memelihara hidup kita sekalipun kita ada di tengah bencana. Kita perlu tetap yakin bahwa sehabis hujan kan tampak pelangi. Kita perlu tetap yakin bahwa tangan Tuhan merenda kehidupan kita senantiasa. Jangan pernah putus pengharapan kepada-Nya, karena daripada-Nyalah datangnya pertolongan kita.
Kita perlu tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah mencobai kita. Namun ketika Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi di dalam hidup kita, termasuk di dalamnya ketika Tuhan mengizinkan bencana terjadi maka yakinlah bahwa Tuhan hanya ingin melalui semua peristiwa hidup kita nama Tuhan semakin dipermuliakan, baik oleh kita maupun orang-orang di sekitar kita. Sampai akan tiba saatnya semua lutut akan bertelut dan semua lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristuslah Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah tetap bersabar menanggung segala penderitaan dan tetap berpengharapan kepada-Nya (bdk.Kisah Ayub). Ayub adalah seorang yang saleh. Namun Tuhan tetap mengizinkan segala penderitaan terjadi di dalam hidupnya. Dan melalui penderitaannya itulah Tuhan dapat benar-benar menyaksikan kesetiaan Ayub kepada-Nya. Dengan demikian Tuhan pun mengembalikan semua milik Ayub, bahkan menggantinya dengan berlipat kali ganda. Satu hal yang harus selalu kita sadari bersama bahwa dalam segala peristiwa hidup kita termasuk bencana di dalamnya, Tuhan tidak pernah salah. Oleh karena itu jangan pernah mempersalahkan Tuhan melainkan introspeksilah diri kita sendiri terlebih dahulu. Sudahkah yang terbaik kita berikan kepada Tuhan? Sudahkan kita menjaga dan memelihara alam ini dengan sebaik-baiknya? Atau justru kita mempergunakan kehendak bebas kita untuk “merusak” alam ini dengan tindakan kita yang semena-mena terhadap alam dan sekitar kita? Kiranya Tuhan memimpin, menyertaiu dan memberkati kita sekalian. Merdeka!
Minggu, 16 Agustus 2015
DIPANGGIL UNTUK MENJADI BANGSA YANG BESAR (KEJADIAN 12:1-9)
Saudara-saudara, berdasarkan bagian bacaan ini saya hendak mengajak kita sekalian untuk merenungkan sebuah tema yaitu “Dipanggil Untuk Menjadi Bangsa Yang Besar.” Tentu kita tahu bersama bahwa secara de facto dan de yure Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan adanya gugusan-gugusan kepulauan yang luas dan kekayaan alam yang hijau membentang. Bahkan pengakuan atas kebesaran dan keluasan Bangsa Indonesia tidak hanya diakui oleh warga Bangsa Indonesia sendiri termasuk kita, melainkan juga diakui oleh kalangan internasional yang berarti seluruh dunia mengakuinya. Hal ini ditandai dengan adanya ketetapan batas wilayah teritorial antar negara yang perlu dihormati oleh seluruh negara, khususnya negara-negara yang berbatasan dengan Indonesia. Memang ada fakta-fakta miris yang masih terjadi terhadap Indonesia, dimana ada saja negara-negara sahabat yang kurang menghargai dan menghormati batas wilayah teritorial Indonesia. Salah satunya dapat kita lihat melalui peristiwa akuisisi Kepulauan Sipadan dan Ligitan oleh negara tetangga kita Malaysia. Bahkan mantan presiden SBY yang selama ini memegang prinsip ziro enemy dalam kancah pergaulan Indonesia di kalangan internasional pun sampai menyerukan ganyang Malaysia. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena pemerintah kita ingin menjaga kedaulatan bangsa ini. Pun bahwa kedaulatan Bangsa Indonesia merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tatkala Bangsa Indonesia pun menghargai kedaulatan bangsa-bangsa lain, maka Bangsa Indonesia pun ingin agar kedaulatannya dapat dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Hal ini sejalan dengan perkataan Alkitab yang terdapat dalam Injil Matius 7:12, dimana dikatakan di sana bahwa segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum taurat dan kitab para nabi.
Ya saudara, sekalipun masih ada kekurangan di sana-sini, dan sekalipun masih seringkali terjadi peristiwa-peristiwa yang memilukan terhadap pengakuan dan penghormatan atas wilayah teritorial Indonesia, tapi kita patut tetap mengucap syukur karena sampai dengan usia yang ke-70 tahun ini Bangsa Indonesia boleh tetap ada sebagai bangsa yang besar dan merdeka. Dan tentunya saya secara pribadi pun mendorong sesuai dengan semangat UUD 1945 agar penjajahan di atas dunia dapat dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Terlebih lagi agar jangan ada lagi juga praktek-praktek penjajahan oleh bangsa sendiri. Biarlah kita boleh menjadi bangsa yang bersatu dalam satu visi dan misi untuk terus membangun bangsa ini dan membuktikan kepada dunia senantiasa bahwa Bangsa Indonesia akan selalu menjadi bangsa yang besar. Bangsa Indonesia akan terus menjadi bangsa yang jaya dan teguh. Karena bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Oleh karena itu kita perlu terus menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa di dalam hati sanubari kita masing-masing sebagai warga bangsa ini. Kemanapun kita pergi, walau banyak negeri kita jalani, namun Indonesia adalah rumah terindah tempat dimana lahir beta sampai beta menutup mata. Artinya dimanapun kita berada, hati dan jiwa kita tetaplah satu, indonesia!
Saudara, usia tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuktikan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Usia tujuh puluh tahun juga tentunya menggambarkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang akan terus bertumbuh dalam kedewasaannya dan dengan segudang pengalaman yang dimilikinya dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika Alkitab berkata bahwa usia manusia paling sedikit adalah tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun, maka kita pun patut berdoa, bersyukur dan berjuang dalam menjaga kelangsungan hidup bangsa ini, sehingga usia tujuh puluh tahun tidak menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang telah renta dan usang, melainkan bangsa ini akan menjadi bangsa yang terus kokoh berdiri, bahkan di tengah kencangnya terpaan angin yang menerpa bangsa ini.
Saudara, menjadi bangsa yang besar tentu saja bukan sekedar menunjukkan kebesaran secara fisik semata, melainkan kebesaran di hadapan Tuhan juga. Bagian bacaan kita menunjukkan bagaimana Abram dipanggil Allah. Saat itu Tuhan berfirman kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Tuhan berjanji bahwa Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Bahkan Tuhan juga berjanji bahwa Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Mari kita perhatikan ungkapan-ungkapan tersebut tadi saudara. Ketika Tuhan mengatakan tentang hal-hal ini kepada Abram, itu bukanlah suatu lip service belaka. Tetapi hal itu diungkapkan Tuhan dalam kaitan perjanjian Allah dengan Abram tentang keturunannya. Dan bahwa Abram yang kemudian menjadi Abraham itu telah ditetapkan Allah menjadi bapa banyak bangsa. Kita dapat membacanya dalam Surat Roma 4:17. Bahkan dalam ayat sebelumnya Abraham dikatakan sebagai bapa kita semua. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena Abraham percaya kepada Tuhan. Bahkan percaya di sini bukan sekedar tindakan pasif tetapi juga aktif. Karena dalam percaya itu Abraham dan kita semua pun dituntut untuk mau mempercayakan diri dan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Bahkan di dalam percaya itu Abraham dan kita semua pun dituntut untuk mau terus setia kepada Tuhan dan mau menjadikan Tuhan sebagai teladan hidup kita. Perjanjian Allah dengan Abraham bukanlah perjanjian yang tanpa syarat. Tetapi Tuhan menuntut ketaatan penuh dari diri Abraham dan keturunannya atas kehendak Allah. Bukti nyatanya dapat kita lihat dalam Kejadian 17:1-27 dimana dikatakan bahwa sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham. Demikian pun kita saudara, sekalipun sunat fisik sudah tidak lagi ditekankan karena keselamatan telah digenapi dalam Kristus Yesus, tetapi Alkitab tetap menekankan kepada kita tentang pentingnya sunat hati.
Saudara, sebagai anak-anak Abraham, dimana dia telah menunjukkan iman dan ketaatan yang besar dan sepenuhnya kepada Tuhan, maka kita pun dituntut untuk hidup dari iman Abraham. Dengan demikian janji Allah berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sekali lagi sebab Abraham adalah bapa kita semua. Itu berarti Bangsa Indonesia juga termasuk keturunan Abraham. Intinya adalah bahwa Bangsa Indonesia perlu dan patut menjadi bagian dari kumpulan orang percaya. Dan kita sebagai bagian dari persekutuan orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib; kita sebagai gereja yang adalah milik kepunyaan-Nya, maka tiap-tiap kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, termasuk di dalamnya menjadi terang dan garam bagi bangsa ini. Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Dengan demikian Indonesia pun perlu kita gapai agar memperoleh keselamatan sejati demi kemuliaan nama Tuhan. Mari kita sediakan diri kita untuk terus dipakai Tuhan bagi keselamatan sejati yang akan diperoleh bangsa ini di dalam Kristus. Mari kita pun terus berdoa dan berupaya bagi kesejahteraan bangsa ini, bukan semata-mata kesejahteraan yang bersifat fisik dan sementara, melainkan juga bagi damai sejahtera Allah yang bersifat kekal yang akan dialami oleh seluruh warga bangsa ini. Mari kita bangkit untuk menyerukan nama Yesus dan menyatakan kuasa-Nya. Mari kita bangkit untuk menggenapi Firman-Nya. Karena sekaranglah waktunya kita berdiri bagi bangsa ini. Mari maju umat pilihan Allah. Mari maju umat pemenang. Mari kita dorong bangsa kita menjadi bangsa yang besar, bukan hanya di mata manusia dan dunia, melainkan juga dalam pandangan mata Allah. Mari kita dorong bangsa ini menjadi bangsa yang berkenan kepada Tuhan. Mari kita dorong bangsa ini untuk menjadi bangsa yang percaya dan mau mempercayakan diri kepada Tuhan, serta meneladani Kristus dan beriman kepada-Nya, sebagaimana Abraham dan juga kita sekalian yang telah menjadi percaya. Karena Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Mari terus kita pupuk semangat kebangsaan kita dalam iman teguh kepada-Nya. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)