Minggu, 04 September 2016

INSPIRASI SANG GEMBALA

http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_305_1465471618.jpg Bulan Juni 2016 merupakan waktu berduka yang mendalam bagi Gereja Kristen Indonesia termasuk juga kita sekalian, karena salah seorang pendeta yang sudah melayani sekian lama di GKI hingga telah memasuki masa emiritusnya sampai dengan sekarang usianya mencapai 64 tahun pada saat Tuhan memanggilnya kembali ke haribaan-Nya dengan cara-Nya. Ya! http://www.satuharapan.com baru-baru ini memuat berita tentang wafatnya Pdt.Em.Peter Then dalam usianya sebagaimana tersebut di atas karena terseret ombak di Bali. Lebih lanjut satuharapan.com menyebutkan bahwa niscaya pada saat itu Pdt.Em.Peter Then sedang berada di Pantai Gelak Bali untuk membuang abu kakak iparnya. Dan terjadilah peristiwa naas itu, dimana Pdt Peter Then (alumni STT Jakarta dan saudara kembar dari Pdt.John Then itu) terhempas ombak dan ikut terbawa arus ombak tersebut. Dalam keterangan pers yang saya (*ESTJ) coba cari dan temukan memang tidak disebutkan tanggal pasti kapan peristiwa terseret ombak itu terjadi dan sampai membuat yang bersaangkutan menghembuskan nafas terakhirnya. Yang jelas di sanan diungkapkan bahwa Pdt.Em.Peter Then yang merupakan pendeta emiritus dari GKI Terusan Pasirkoja itu, pada saat sebelum peristiwa terseret ombak itu terjadi sedang menuruni tangga menuju tepi pantai untuk menabur bunga (sumber: tribunnews.com). Dilansir juga dalam berita tersebut bahwa korban meninggal ada dua orang dan salah satunya Pdt.Em.Peter Then. Yang seorang lagi tidak diketahui namanya. Sedangkan istri Pdt.Em.Peter Then, Ibu Ferina Kurniawan bersama puterinya Estherina yang ikut dalam rombongan keluarga yang terdiri dari 25 orang untuk menghadiri tabur abu itu dilaporkan selamat. Turut menjadi sumber berita yang membenarkan peristiwa wafatnya Pdt.Em.Peter Then adalah Pdt.Gomar Gultom (Sekum PGI) dan Pdt.Kuntadi Sumadikarya (mantan ketua Sinode Wilayah GKI SW Jabar. Berikut adalah kutipan kesaksian hidup dari istri Pdt.Em.Peter Then yang saya (*ESTJ) peroleh dari salah satu kiriman Whatsapp: “Kesaksian dari yang ngikutin kebaktian kemaren... CI FeI, istri dari Pak Peter Then...Ci Fei ga mau ninggalin TKP sebelum tubuh suaminya ditemukan. Dia ga bisa terima waktu dibilangin warga setempat...belum pernah jasad bisa kembali di tempat TKP. Tapi Ci Fei dan rombongan melakukan pujian penyembahan dan doa terus-menerus. Akhirnya begitu ombak reda muncul tubuh mereka kelihatan seperti diangkat naik. Melihat itu penduduk setempat bilang bahwa Tuhan kalian hebat. Biasanya mereka-mereka pakai pawang orang pintar dan sebagainya ga balik. Kalau ketemu beberapa hari itu pun di tempat lain. Luar biasa ya. Sampai akhir hidup Pdt Peter Then tetap menjadi saksi hidup buat orang lain. Mereka menyanyikan lagu Allah kuasa melakukan segala perkara di hampir satu jam. Puji Tuhan! Tuhan kita memang luar biasa! Ini kesaksian kemarin malam... Almarhum Pdt Peter Then tutup usia di usia 64 tahun. Sekitar 40 tahun lalu STT Jakarta dihebohkan dengan kedatangan duo kembar Peter Then dan John Then. Kembar identik, suaranya sama, sama-sama ramah, dua-duanya masuk sekolah teologia karena sama-sama mau jadi pendeta. Dua-duanya sama-sama pintar dan pintar main piano. Mungkin hanya mereka berdua pada masa itu yang bisa main piano. Jadi ketika kawan-kawan di STT sedang jenuh, saat mereka mendengar permainan piano duo kembar ini, langsung tahu pasti John dan Peter yang main. Dan mereka merasa sangat terhibur dengan musik yang dimainkan oleh duo kembar ini. Setelah lulus, yang sebenarnya dipanggil untuk pelayanan di GKI Kebonjati Bandung adalah Pdt.John Then. Namun saat majelis bermaksud menjemput Pdt.John Then ke Solo, yang ada di rumah adalah Pdt.Peter Then. Dan malah Pdt.Peter Then yang dibawa ke Bandung. Gagal paham kayanya majelisnya...hehehe. Tapi bersyukur banget. Karena kesalahpahaman itu akhirnya Pdt Peter lah yang ditempatkan di Bandung dan kami diberi kesempatan untuk mengenal beliau. Setelah enam tahun melayani di GKI Kebonjati beliau pindah ke GKI Pasirkoja. Hingga beliau tutup usia beliau tetap setia melayani di situ. Beliau orang pertama yang mengadakan persekutuan bagi tuna rungu di gerejanya. Bahkan ada komisi tuna rungu juga di sana yang melayani hingga saat ini. Menurut mereka Pdt Peter adalah sosok yang penuh teladan, guru, sahabat, pembimbing, penyemangat dan entah berapa banyak lagi predikat yang beliau sandang karena pengabdiannya. Proud of you, Sir. Khotbah terakhir beliau di GKI Pasirkoja tanggal 5 Juni 2016 kemarin. Seharusnya tema GKI adalah “Allah Melawat Umat-Nya.” Namun beliau meminta izin kepada majelis untuk mengubah tema khotbah Hari Minggu itu menjadi “Jangan Menangis.” Mungkin beliau sudah mendapat firasat bahwa akan dipanggil pulang oleh Bapa. Yang dapat disimpulkan dari khotbah terakhir beliau adalah teruslah bernyanyi dan banyaklah membaca Firman Tuhan. Baru kali ini datang ke rumah duka dan penatuanya sebanyak itu. Semua rela berdesak-desakan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pdt Peter Then. GKI sungguh berduka dan sangat kehilangan tokoh besar ini. Sungguh pelayanan beliau menyentuh hati banyak orang. Sekarang pak pendeta yang murah senyum ini sudah tiada. Namun pengajarannya akan selalu diingat sepanjang masa. Bersalaman dengan Pdt John Then tadi langsung seketika seperti melihat Pdt Peter Then. Senyumnya, suaranya, keramahannya, sangat identik. Benar-benar sosok pendeta yang satu ini tidak akan terlupakan. Selamat jalan pak pendeta. Terima kasih atas pelayanan dan pengabdianmu yang tulus dan membawa nuansa baru bagi seluruh gereja Tuhan di dunia. Perjuangan bapak tidak akan pernah sia-sia. Selamat bernyanyi dan memuji Tuhan di Surga. Sampai waktunya kami akan bertemu bapak di sana. Tuhan memberkatimu Pdt.Em.Peter Then. Sampai berjumpa lagi.” Jangan bersedih dan jangan menangis, sebagaimana pesan terakhir dari Pdt.Em.Peter Then sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya dari dunia ini dan dari antara kita sekalian. Yakin dan percayalah bahwa ada saatnya dimana kita akan bertemu kembali dengannya di Surga sana. Karena Tuhan kita Yesus Kristus pergi ke sana untuk menyediakan tempat juga bagi kita anak-anak-Nya. Jangan bersedih dan jangan menangis. Kenangkanlah segala kebaikan-Nya yang telah ditunjukkan di dalam dan melalui diri Pdt.Em Peter Then semasa hidupnya. Syukurilah segala kebaikan-Nya yang telah menghadirkan dia di antara kita selama ini. Dan teladanilah segala yang baik daripadanya. Karena dia akan selalu hidup di dalam lubuk hati kita yang paling dalam sekalipun dia kini telah tiada. Mari kita ucapkan bersama-sama selamat jalan pak pendeta. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Rabu, 25 Mei 2016

KEMAH SUCI SEBAGAI TEMPAT KUDUS: APA DAN BAGAIMANA?

Keluaran 40:1-16 Saudara-saudara, tentu banyak dari antara kita yang masih ingat satu slogan yang berkata: “Rumahku, Istanaku” bukan? Dan pasti setiap kita akan mencoba mengaplikasikan tempat tinggal kita sebagaimana apa yang kita impikan dan idamkan menurut gambaran ideal kita tentang apa definisi rumah bagi kita. Makanya yang namanya rumah impian masing-masing orang pasti akan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain, karena perspektifnya pun berbeda antar masing-masing orang. Tapi satu hal yang pasti, keinginan tiap-tiap orang pasti sama. Kita tentu ingin hidup dengan nyaman di rumah kita sendiri. Kita tentu ingin hidup dengan sehat, penuh sukacita dan damai sejahtera di rumah kita sendiri. Tidak akan ada yang bisa memungkiri fakta tersebut. Makanya bagi orang-orang yang tidak merasa nyaman di rumahnya sendiri seringkali disebut broken home. Kenapa broken home? Karena kondisi itu adalah kondisi yang di luar idealisme atau yang sewajarnya terjadi tentang impian dan fakta ideal sebuah rumah tinggal bagi kita dan bagi kebanyakan orang. Dan karena yang ideal sesungguhnya telah mengalami kerusakan. Saudara-saudara, hal yang sama digambarkan juga dalam bagian bacaan kita saat ini. Dengan jelas judul perikop dalam bagian bacaan kita menyebutkan tentang Musa mendirikan kemah suci. Dan yang perlu kita perhatikan saudara-saudara ialah bahwa Musa mendirikan kemah suci bukan karena keinginannya sendiri melainkan karena Tuhan yang berfirman kepadanya. Jadi dengan demikian sesungguhnya Musa sedang mewujudnyatakan keinginan dan kehendak Tuhan. Dengan kata lain Musa sedang menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mewujudkan visi dan misi Tuhan, terutama dalam hal membangun persekutuan ibadah. Karena memang yang Tuhan mau untuk kita lakukan adalah agar kita tidak sekali-kali pun meninggalkan persekutuan ibadah. Dan agar kita terus bertekun dalam doa dan pengajaran rasul-rasul. Kenapa demikian? Karena memang kita sebagai orang-orang percaya yang tidak lain adalah bejananya Tuhan perlu dan harus terus diisi oleh kebenaran Firman Tuhan. Karena Tuhan tidak mau kita menjadi bejana-bejana yang kosong. Saudara-saudara, ketika Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk membuat kemah suci atau kemah pertemuan, maka kita bisa saksikan bersama bahwa Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan turun tangan langsung dalam detail pengaturan kemah suci tersebut. Dengan kata lain Tuhan sendirilah arsiteknya sementara Musa dan orang-orang yang terlibat di dalamnya merupakan pelaksana. Bahkan sesungguhnya pembangunan kemah suci atau kemah pertemuan ini membutuhkan proses yang tidak sebentar. Makanya kalau saudara-saudara perhatikan, kisah mengenai tahap awal pendirian kemah suci sudah dimulai sejak Keluaran 35:4 dan seterusnya sampai dengan pada bagian bacaan kita saat ini. Dan kalau kita perhatikan secara seksama perintah untuk mendirikan kemah suci didahului dengan perintah untuk menguduskan hari sabat (lihat Keluaran 35:1-3). Apa pentingnya menguduskan hari sabat? Tidak lain adalah karena itu merupakan perintah Tuhan, dan sudah barang tentu kita sebagai hambanya harus taat. Kalau demikian apa pentingnya dan apa kaitannya antara menguduskan hari sabat dengan membuat kemah suci sebagai tempat kudus? Tentu jawabannya tidak lain adalah karena Tuhan kita adalah Tuhan yang kudus, sehingga yang kudus tidak bisa bercampur baur dengan apa yang najis; sama halnya seperti gelap tidak bisa bersatu dengan terang (bdk.Keluaran 3:4-5). Dalam ayat tersebut dengan jelas dikatakan bahwa ketika dilihat Tuhan bahwa Musa menyimpang untuk memeriksa mengapakah semak duri itu tidak terbakar, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepada Musa: “Musa, Musa! Dan Musa menjawab “Ya, Allah.” Lalu Allah berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat dimana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.” Ini adalah kisah dimana Allah pertama kali memperkenalkan diri kepada Musa. Bisa kita bayangkan saudara betapa kudusnya Allah sampai sedemikian adanya. Makanya tidak heran ketika Allah memerintahkan kepada Musa untuk mendirikan kemah suci atau kemah pertemuan, maka pendiriannya pun harus dipenuhi dengan kekudusan. Karena memang kemah suci atau kemah pertemuan itu difungsikan Allah sebagai tempat kudus. Kalau kita mau merujuk pada kata “Qadosy” dalam bahasa Ibrani berarti dipisahkan dari yang lain. Jadi memang kemah suci atau kemah pertemuan itu diperintahkan Tuhan untuk dibangun sebagai tempat yang dikhususkan atau dipisahkan dari tempat-tempat lain pada umumnya. Apa implikasinya buat kita saudara? Kita tentu tahu bahwa gereja bukanlah gedungnya. Walaupun memang kita perlu menaruh penghargaan dan penghormatan yang tinggi terhadap gedung gereja sebagai sarana beribadah yang telah diizinkan Tuhan untuk ada di tengah-tengah kita dan memperlengkapi kehidupan persekutuan kita. Oleh karena itu implikasi utama bagi kita adalah bahwa dalam keberadaan kita sebagai gereja (persekutuan orang percaya), dan dalam keberadaan kita sebagai bait-Nya yang kudus, pun dalam keberadaan kita sebagai umat pilihan Allah, maka kita perlu terus berupaya keras untuk menjaga dan memelihara kekudusan dan kesempurnaan hidup kita sebagaimana Dia, Tuhan Allah kita kudus dan sempurna. Untuk itu kita perlu diubahkan oleh Tuhan menjadi ciptaan yang baru. Sebab yang lama telah berlalu dan yang baru sudah datang. Kita juga perlu terus bertekad bulat dan berupaya penuh untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini melainkan berubah menurut pembaharuan budi kita. Itulah yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan (bdk.Kisah Para Rasul 7:49-51). DAFTAR PERTANYAAN: 1. Apa yang dapat kita pelajari dari bagian bacaan kita saat ini dan dari uraian di atas? 2. Dari uraian di atas, apa implikasinya dalam hal perubahan paradigma kita tentang gereja dan persekutuan orang percaya? 3. Dari uraian di atas, apa dan bagaimana pandangan saudara tentang gereja sebagai rumah Tuhan yang kudus? 4. Sudah seberapa jauh saudara berjaga dan berdoa dalam upaya menjaga kekudusan dan kesempurnaan hidup saudara sebagaimana Tuhan Allah kita kudus dan sempurna? 5. Apa halangan atau hambatan terbesar kita dalam upaya menjaga kekudusan dan kesempurnaan hidup kita?

Sabtu, 16 April 2016

MENGAPA ORANG HIDUP MENGELUH? (RATAPAN 3:39-48)

Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kita baru saja melalui peringatan dan perayaan Paskah. Dan di dalamnya kita mengetahui bahwa Paskah membawa pengharapan. Pengharapan akan keselamatan dan hidup kekal bersama dengan Tuhan. Ya, karena Allah kita adalah Allah yang hidup. Dan sbab Dia hidup maka ada hari esok. Sbab Dia hidup kita tidak gentar. Karena kita tahu Dia pegang hari esok. Hidup jadi berarti sbab Dia hidup. Itulah keyakinan iman kita tentang Allah di dalam Yesus Kristus yang telah bangkit dan hidup. Tapi pada kenyataannya, ketika kita melihat dunia sekitar kita maka kita dapat melihat masih banyak orang yang belum menemukan pengharapan dan hidup mengeluh. Bahkan tidak jarang orang kristen pun masih banyak yang hidup mengeluh seakan tidak ada pengharapan di dalam dirinya. Dengan kata lain ada begitu banyak orang menjadi hilang harapan. Dengan demikian mereka hidup dalam kehampaan, kesedihan dan penuh dengan keluhan. Sebagaimana tema kita saat ini “Mengapa Orang Hidup Mengeluh?” Saudara-saudara, dengan tema ini apakah berarti mengeluh adalah sesuatu yang salah? Tentu tidak saudara. Mengeluh adalah suatu hal yang sangat manusiawi. Coba perhatikan kalau kita sedang kelelahan misalnya. Pasti kita akan mengeluh: “Aduh, capek nih.” Perhatikan juga kalau kita sedang kesakitan. Pasti kita akan mengeluh dan mengaduh: “Aduh, sakit.” Jadi mengeluh bukanlah sesuatu yang salah dan keliru saudara. Tetapi yang Alkitab inginkan adalah biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya. Saudara-saudara, kalau kita perhatikan secara seksama konteks Kitab Ratapan ini, maka kita akan menemukan bahwa kitab ini dimulai dengan kisah mengenai keruntuhan dan kesunyian Yerusalem, dimana di sana digambarkan mengenai betapa terpencilnya kota itu yang dahulu ramai. Laksana seorang jandalah ia yang dahulu agung diantara bangsa-bangsa. Yang dahulu ratu diantara kota-kota, sekarang menjadi jajahan. Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis. Air matanya bercucuran di pipi. Dari semua kekasihnya tak ada seorang pun yang menghibur dia. Semua temannya mengkhianatinya. Mereka menjadi seterunya. Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang besar. Ia tinggal di tengah bangsa-bangsa namun tidak mendapat ketentraman. Siapa saja yang menyerang dapat memasukinya pada saat ia terdesak. Jalan-jalan ke Sion diliputi dukacita karena pengunjung-pengunjung perayaan tiada. Sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya. Berkeluh kesahlah imam-imamnya; dan seterusnya. Kejayaan Yerusalem tinggallah kenangan berganti derita dan sengsara. Kenajisannya melekat pada ujung kainnya dan ia tidak berpkir akan akhirnya dimana sangatlah dalam ia jatuh. Baru pada saat itulah ia berseru-seru kepada Tuhan: “ Ya Tuhan, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!” Seperti itulah gambaran kebobrokan dan kehancuran Yerusalem. Kalau kita melihat gambaran ini saudara, maka memang kita akan melihat ketiadaan harapan. Yang ada hanyalah kepastian kebinasaan. Karena memang upah dosa adalah maut. Makanya tidak heran kalau kitab ini menekankan tentang pentingnya setiap orang mengeluh akan dosa-dosanya. Saudara-saudara, ajakan itu pun ditujukan juga kepada kita saat ini. Marilah kita mengeluh akan dosa-dosa kita. Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita dan berpaling kepada Tuhan. Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di Sorga. Itulah yang terpenting untuk kita lakukan dibandingkan setiap keluhan-keluhan karena pencobaan biasa yang kita hadapi dalam hidup ini. Saudara-saudara, melalui perenungan ini biarlah kiranya kita boleh menjadikan momentum Paskah yang baru saja kita lalui bersama untuk menjadi momentum dimana kita lebih lagi memeriksa diri kita dan bertanya ke dalam diri kita pribadi lepas pribadi: Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Tuhan? Sudahkah hidupku sejauh ini sesuai dan berkenan kepada Tuhan? Sudahkah aku benar-benar berserah diri dan berpasrah diri penuh kepada Tuhan di balik setiap usaha yang aku lakukan dalam hidup ini? Sudahkah aku benar-benar menyenangkan hati Tuhan? Sudahkah aku benar-benar mempersembahkan diriku sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah sebagai bukti ibadahku yang sejati? Baiklah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara pribadi. Baiklah kita menjadikannya sebagai bahan perenungan dan permenungan di sepanjang kehidupan kita. Dengan demikian, pemberitaan Firman Tuhan saat ini boleh berakhir. Tetapi gaungnya boleh terus kita rasakan dan alami di dalam sepanjang kehidupan kita senantiasa. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Sabtu, 26 Maret 2016

BELAJAR MENJADI TENANG

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku (Mazmur 62:2).” Pembaca yang budiman, kalau kita berbicara tentang buah kebangkitan Kristus, maka kita pasti akan langsung teringat dengan sebuah ungkapan yaitu damai sejahtera. Ya saudara, karena memang itulah janji-Nya kepada para murid dan juga kepada kita sekalian saat ini. Dia berjanji di dalam Firman-Nya bahwa damai sejahtera-Ku Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang dunia berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Sebuah ayat yang sangat terkenal yang dapat kita lihat dan baca di dalam Injil Yohanes 14:27. Bahkan sejak pewartaan tentang kelahiran-Nya ke dalam dunia, Dia sudah disebut sebagai Raja Damai. Dan penggenapan akan karya penyelamatan Allah atas umat manusia dalam diri Yesus Kristus yang menghasilkan damai sejahtera itu pun tergenapi melalui dan di dalam peristiwa paskah, dimana Kristus mati bagi dosa dunia, dan telah bangkit yang menandakan bahwa Dia telah menang atas dosa dan maut. Dengan demikian kita yang telah mengecap keselamatan dan janji hidup kekal hingga saat ini dapat berkata: “Maut dimanakah sengatmu?” Kita pun dapat meminta dengan leluasa dan terbuka kepada Tuhan: “Tuhan, berilah kami damai.” Ungkapan-ungkapan itulah yang acap kali kita dengar, kita alami dan kita rasakan di dalam setiap ibadah kita bukan? Mungkin ada banyak dari antara kita yang akan bertanya: “Kalau begitu apa kaitannya antara damai sejahtera Allah dengan belajar menjadi tenang?” Melalui tulisan ini saya akan mencoba mengajak kita sekalian untuk bersama-sama belajar merenungkan dan membahasnya sehingga niscaya kita akan sama-sama semakin mengerti dan memahami dengan baik. Saudara-saudara, bagi saya pribadi ketenangan adalah sebuah bentuk aplikasi nyata dari anugerah damai sejahtera Allah yang kita alami di dalam hati, pikiran dan keseluruhan hidup kita. Bahkan Alkitab berulang kali mengungkapkan tentang pentingnya belajar menjadi tenang. Coba kita lihat penggambaran mengenai karakter dua kakak beradik Esau dan Yakub dalam Kitab Kejadian 25:27. Esau digambarkan sebagai orang yang pandai berburu dan suka tinggal di padang. Sementara Yakub adalah seorang yang tenang yang suka tinggal di kemah. Perhatikanlah juga ungkapan kepala rumah Yusuf kepada saudara-saudaranya di dalam Kitab Kejadian 43:23. Dengan jelas dikatakan di sana: “Tetapi jawabnya: Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima.” ... Perhatikan ungkapan kata “tenang” di dalam bagian bacaan ini. Bahkan di dalam Nehemia 8:12 diungkapkan bahwa orang-orang Lewi menyuruh semua jemaah laki-laki dan perempuan ketika itu untuk diam dengan kata-kata: “Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!” Mari sekali lagi kita perhatikan ungkapan kata tenang di dalam bagian bacaan ini. Bahkan hal menarik yang saya dapatkan dalam ungkapan orang Lewi kepada jemaaah ini ada pada ungkapan sebelumnya di ayat yang ke-11, dimana dikatakan di sana: “..., sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” Ungkapan ini tentu sangat memiliki korelasi yang penuh dengan apa yang diungkapkan di dalam bagian bacaan kita saat ini, dimana dikatakan di sana bahwa hanya dekat Allah saja aku tenang. Dari pada-Nyalah keselamatanku. Ya saudara, dengan demikian kita pasti menyadari benar bahwa belajar menjadi tenang adalah sebuah proses pembelajaran yang sangat penting di dalam kekristenan. Apalagi kalau kita berbicara mengenai keterkaitannya dengan damai sejahtera yang merupakan buah kebangkitan-Nya. Ayat-ayat yang saya paparkan di atas yang berhubungan dengan poin pembahasan tentang pentingnya belajar menjadi tenang barulah merupakan sekelumit ayat dari Perjanjian Lama yang dapat menjadi contoh dan referensi kita bersama. Namun jika kita mau mengulik kebenaran Firman Tuhan dari awal hingga akhir, dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru; tentu masih banyak ayat-ayat lain yang menggambarkan tentang pentingnya belajar menjadi tenang. Bahkan Tuhan Yesus Kristus sendiri pun acap kali digambarkan sebagai figur yang perlu ketenangan. Coba kita perhatikan kisah tentang Yesus berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam di padang gurun. Mari kita perhatikan juga sebuah kisah yang acap kali dihubungkan dengan peristiwa paskah dimana Yesus Kristus berdoa seorang diri di Taman Getsemani. Saudara-saudara, belajar menjadi tenang acap kali dihubungkan orang dengan pola hidup asketis dan bertarak yang seringkali dijadikan sebagai sebuah pola hidup oleh sebagian orang, termasuk di dalamnya juga kelompok orang percaya. Bahkan tidak jarang mereka sama sekali ingin terlepas dari hiruk pikuk kehidupan dunia dengan berbagai macam alasan termasuk di dalamnya supaya tidak termanipulasi dengan dosa. Apakah hal itu salah? Tentu bukan hak kita untuk melakukan justifikasi dalam hal ini. Tapi saya pribadi berpendapat bahwa tidak akan pernah ada satu manusia pun yang dapat membatasi diri untuk hidup sendiri dan atau mengeksklusifkan diri. Setiap orang yang hidup adalah orang yang senantiasa bergerak dan mengalami mobilisasi, dimana setiap kita pasti (tidak bisa tidak) akan bertemu dengan orang-orang baru dan momentum-momentum yang baru juga. Dalam konteks Alkitab setiap kita orang percaya dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan bahkan sampai ke ujung bumi. Karena perintah Tuhan sangat jelas kepada kita, yaitu jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Dan untuk itu kita diutus untuk pergi mengabarkan injil ke seluruh pelosok negeri. Jadi dengan demikian, belajar menjadi tenang tidak identik dengan hidup individualistis dimana kita benar-benar melepaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia ini sebagaimana dibayangkan dan dilakukan juga oleh sebagian orang. Kalau kita berbicara mengenai hidup bertarak atau tidak menikah, maka kita dapat ketahui bersama bahwa Paulus pun adalah seorang rasul yang tidak menikah. Dan tentu hal itu bukanlah pilihan hidup yang salah sepanjang dilakukan dengan motivasi dan aksi yang benar dan tepat, seperti halnya Paulus. Tujuan utama dari pilihan hidup bertaraknya adalah agar dia dapat fokus untuk mengabarkan injil Kristus ke berbagai tempat. Dan dia tidak serta merta melepaskan diri dari berbagai macam problematik dunia sekitarnya. Dia justru ikut terlibat di dalam problematika dunia sekitarnya dengan tujuan mewartakan tentang Kristus Sang Juruselamat dan meluruskan apa yang bengkok dari dunia sesuai dengan kebenaran dan keadilan Allah. Melalui hal itulah dia mewujudnyatakan dirinya sebagai garam dan terang dunia. Demikian pun kita dipanggil oleh-Nya untuk menjadi garam dan terang dunia. Bahkan sesungguhnya kita dipanggil ke dalam dunia yang penuh kerusuhan dan begitu keras seperti halnya domba di tengah serigala tidak lain adalah supaya kita dapat menjadi pembawa damai dan terang di dalam kegelapan. Untuk mencapai kesempurnaan visi dan misi Allah atas kita yang telah dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi rekan sekerja-Nya di dalam dunia, maka kita perlu menyediakan diri kita untuk mau dibentuk oleh Tuhan. Salah satunya adalah dengan belajar menjadi tenang. Bagaimana agar kita dapat belajar menjadi tenang? Satu-satunya jalan tidak lain adalah dengan belajar mendekatkan diri kepada Tuhan, karena hanya dekat Allah saja aku tenang, kata Firman Tuhan. Yang terpenting di sini adalah bahwa untuk mencapai ketenangan yang sempurna maka kita perlu terus melatih diri kita bukan hanya dengan latihan badani, tetapi juga dengan latihan rohani. Salah satu caranya adalah dengan terus memupuk kerajinan kita dalam beribadah (lihat 1 Timotius 4:8). Dan yang lebih utama lagi adalah kita perlu terus menyerahkan diri dan segenap hidup kita kepada-Nya karena hanya Dia sajalah yang sanggup menenangkan badai (bdk.Matius 8:23-27). Ketika para murid pada saat itu justru menjadi orang yang takut karena kurang percaya sekalipun mereka saat itu berada bersama dengan Yesus, tentu saat ini Tuhan Yesus Kristus menginginkan agar kita benar-benar percaya dan mempercayakan kehidupan kita sepenuhnya kepada-Nya, karena Dia berjanji bahwa Dia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Dia adalah Tuhan yang sangat bertanggung jawab atas kita. Yang Dia mau adalah agar kita senantiasa berdekat kepada-Nya. Selamat paskah. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 20 Maret 2016

MATI DAN HIDUP BERSAMA DENGAN KRISTUS (KOLOSE 3:1-17)

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus Tuhan kita, sungguh berbahagia dan bersukacita ketika saat ini kita boleh berada di satu hari minggu terakhir menjelang Jumat Agung dan Paskah. Kita ketahui bersama bahwa dalam peringatan Jumat Agung kita memperingati wafatnya Tuhan Yesus Kristus. Demikian pun pada saat paskah kita memperingati dan merayakan kebangkitan-Nya dari antara orang mati yang menandakan bahwa Dia telah menang atas dosa dan maut, dan Dia pasti akan menjadikan kita sebagai umat pemenang bahkan lebih daripada pemenang. Oleh karena itu saudara, berdasarkan bagian bacaan kita saat ini saya ingin mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema yaitu mati dan hidup bersama dengan Kristus. Tentu tema ini menjadi sangat penting karena sesungguhnya akibat dosa maka kita semua tanpa terkecuali sudah seharusnya dan selayaknya menerima upah dosa yang adalah maut. Namun demikian karena kemurahan Tuhan dan prakarsa-Nya maka setiap kita, terutama kita yang percaya kepada-Nya, boleh beroleh anugerah keselamatan dan hidup kekal bersama dan di dalam Kristus Yesus. Dia sendiri yang adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia itu telah rela mengorbankan diri dan nyawa-Nya untuk menjadi kurban penebusan dosa kita yang sejati. Dan kepada setiap kita yang telah ditebus dosanya dan harganya telah lunas dibayar, maka Tuhan menginginkan agar kita mati dan hidup bersama dengan Dia. Apa maksudnya? Maksudnya adalah agar kita mematikan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru, dimana kita telah diperbaharui oleh Kristus, karena yang lama telah berlalu dan yang baru sudah datang. Dengan mematkan manusia lama ini berarti kita sudah bukan lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Dengan kata lain kita menjadi orang-orang yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka dan mendekatkan diri pada hal-hal yang berkenan kepada Allah. Poin-poin konkret tentang kelakuan manusia lama yang harus kita tinggalkan dapat kita lihat pada ayat ke-5 sampai dengan ayat ke-9. Disebutkan di sana mengenai segala sesuatu yang duniawi yaitu: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan seterusnya. Pun kita diminta untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Bahkan ayat yang ke-13 mengatakan: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Lebih lanjut pada ayat yang ke-14 dikatakan: Dan atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Pun dikatakan dalam ayat yang ke-15 sampai dengan ke-17: Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh, dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain...dan seterusnya. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita. Inilah kondisi ideal umat nasrani berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Inilah Firman, perintah, ajakan dan teguran yang sangat mendasar bagi pola hidup Kristen secara universal, dan terkhusus disampaikan juga bagi kita saat ini. Saya yakin dan percaya bahwa Firman ini mudah untuk dikatakan tetapi pasti sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu kita perlu terus meminta pertolongan dan penyertaan Tuhan yang akan terus menolong dan memampukan kita senantiasa untuk menaati kebenaran Firman-Nya ini. Karena hanya dalam naungan-Nyalah kita akan mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Dengan kata lain kita akan terus-menerus dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Saudara-saudara, dari berbagai paparan yang sudah kita renungkan bersama sejak semula maka kita ketahui bersama bahwa untuk mengalami hidup bersama dengan Kristus dalam kekekalan-Nya, maka kita perlu mati terlebih dahulu. Yaitu mematikan keinginan-keinginan duniawi kita. Kita perlu mencari perkara yang di atas dan bukan yang di bumi. Yakin dan percayalah bahwa ketika kita lebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Selamat menjelang Jumat Agung dan Paskah. Mari kita bersama-sama mati dan hidup bersama dengan Kristus. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.