Sabtu, 15 Maret 2014

SUDAHKAH YANG TERBAIK KUBERIKAN? (KEJADIAN 4:1-16)

                                                                                                                   
Uraian
Saudara-saudara, menjadi hal yang sangat umum kita ketahui dari pengalaman orang-orang yang sedang jatuh cinta bahkan yang acap kali kita alami dan kita lakukan ketika kita jatuh cinta. Dapat dipastikan seratus persen bahwa orang yang sedang jatuh cinta pasti akan memberikan yang terbaik kepada orang yang dicintainya. Apalagi kita baru saja melalui momentum valentine day bagi yang merayakan. Maka dalam ungkapan-ungkapan cinta terlepas dari ungkapan tersebut hanya sebatas gombal semata atau diungkapkan dari hati sanubari yang paling dalam, kita seringkali mendengar ungkapan-ungkapan indah dari orang yang nyata-nyata sedang kasmaran terhadap kekasihnya. Sebut saja ungkapan: demi cintaku padamu, maka gunung pasti kan kudaki; laut kan kuseberangi; bahkan aku rela mengganti nyawamu dengan nyawaku. Biarlah kau hidup seribu tahun lagi...Selanjutnya teruskan sendiri. Tapi masalahnya ungkapan-ungkapan indah itu dalam pengalaman perjalanan cinta sebagian orang hanya diungkapkan pada saat pacaran saja. Kalau sudah menikah ungkapannya bisa berbeda 180 derajat. Saya pribadi tidak berani mengatakan atau menjastivikasi apakah ini sebagian besar atau sebagian kecil orang. Tapi tentunya kita bisa melihat dalam realita nyata yang acap kali terjadi di sekitar kita. Salah satu contoh kasus yang sedang ramai di infotaiment adalah perihal ayu ting-ting dan enji. Ketika pacaran ayu ting-ting merasakan begitu disanjung, sama seperti satu judul sinetron lawas yang pernah ada di Indosiar: “Tersanjung.” Tapi beberapa lama setelah menikah justru dia merasakan perbedaan sikap dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya ini. Sehingga pada akhirnya mereka pun berpisah dan sedang berjalan dalam mengurus proses perceraian. Tentunya hal seperti ini diharapkan tidak terjadi dalam kehidupan rumah tangga dan keluarga Kristen, terutama juga dalam kehidupan kita pribadi lepas pribadi. Karena menurut hemat saya sebagaimana tergambarkan juga dalam kesaksian Alkitab, Kekristenan sangat menjunjung tinggi kesetiaan. Bahkan kesetiaan antar pasangan; baik istri kepada suami maupun suami kepada istri harus dilandasi dan merupakan aplikasi dan implikasi dari kesetiaan kepada Tuhan. Makanya dalam kekristenan sama sekali tidak dikenal istilah poligami atau bahkan poliandri. Kekristenan sangat menjunjung tinggi azaz pernikahan monogami. Satu pria untuk satu wanita; dan satu wanita untuk satu pria. Kekristenan sebagaimana Tuhan berfirman di dalam Alkitab sangat membenci dan tidak pernah menyetujui dan melegalkan perceraian. Menjadikan perceraian sebagai pilihan pun tidak. Karena jelas tertulis bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Oleh karena itu bagi para suami maupun para istri, setialah dengan pasangan hidupmu sampai maut memisahkan. Itu sudah sangat jelas dan tidak bisa terbantahkan. Lebih dalam lagi mengenai hubungan suami dan istri, meskipun Alkitab mengungkapkan kepada kaum istri untuk tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan, namun dalam pola hubungan antara suami dan istri, sangat tidak diperbolehkan terjadinya praktek-praktek perendahan derajat istri di mata suami, maupun sebaliknya suami di mata istri. Dalam istilah kerennya disebut subordinasi. Yang harus terjadi adalah antara suami dan istri haruslah saling melengkapi satu dengan yang lain. Suami menjadi teladan bagi istrinya. Dan istri menjadi penolong yang sepadan bagi suami. Acap kali dalam realita rumah tangga dimana-mana tempat, bahkan mungkin juga dalam realita rumah tangga Kristen, suami menjadi kepala rumah tangga yang otoriter dan memerintah istri dengan tangan besi tanpa bisa dibantah dan dikompromikan secara bersama-sama antara keduanya. Suami acap kali melarang istrinya untuk bekerja dan hanya boleh menjadi ibu rumah tangga dengan alasan ini dan itu, padahal sesungguhnya suami tidak ingin merasa tersaingi oleh istrinya. Apalagi kalau suami menyadari bahwa istrinya sesungguhnya lebih smart dan bisa memperoleh kedudukan bahkan gaji yang lebih tinggi dari suaminya. Makanya banyak rumah tangga (bahkan mungkin juga rumah tangga Kristen) berantakan bahkan cenderung hancur karena masalah kecemburuan sosial antara suami dan istri. Tapi tentunya menyikapi hal tersebut, kita perlu kembali kepada prinsip kebenaran Alkitab. Pun di dalam rumah tangga dimana tadi dikatakan bahwa antara suami dan istri harus saling memperlengkapi dan bekerjasama, maka tentunya perlu ada kompromi atau kesepakatan bersama dalam mengurus rumah tangga. Memang pengambil keputusan tertinggi dalam rumah tangga adalah suami sebagai nahkoda dalam satu kapal yang bernama rumah tangga tersebut. Namun sebagai nahkoda yang bijak, maka suami pun perlu mendengarkan masukan dari istri. Suami pun perlu menghargai eksistensi istrinya, termasuk ketika ia mau bekerja atas izin suami untuk sama-sama menunjang kehidupan ekonomi keluarga.
            Saudara-saudara, dengan berbagai prinsip dan pemahaman yang dianut dalam kekristenan mengenai hubungan antara dua insan pria dan wanita yang saling mencinta sampai akhirnya menjadi suami dan istri dan membentuk sebuah keluarga, tentu hal yang sama diharapkan oleh Tuhan kepada tiap-tiap kita yang telah Ia jadikan sebagai umat pilihan-Nya; dan yang telah siap sedia meresponi panggilan dan pemilihan Tuhan atas dirinya atau bahkan diri kita masing-masing maupun secara bersama-sama sebagai gereja atau komunitas orang percaya. Yang diharapkan oleh Tuhan tentu tidak lain dan tidak bukan adalah juga kesetiaan yang diapresiasikan melalui komitmen penuh secara konsisten bahwa kumau cinta Yesus selamanya. Bahkan meskipun badai silih berganti datang dalam hidupku, ku mau dan ku tetap cinta Yesus selamanya. Bahkan aku mau memberi yang terbaik untuk Tuhan demi kemuliaan nama-Nya sebagai respon atas rasa syukur kita karena Dia sudah lebih dulu memberi yang terbaik kepadaku. Dia yang lebih dulu memanggil dan memilih aku. Dia yang menebus aku dan mengangkat aku dari lobang kubur. Bahkan Ia menganugerahkan kepadaku keselamatan dan hidup kekal. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak memberi yang terbaik baginya. Itulah yang sesungguhnya dan seharusnya menjadi komitmen dan sikap hati kita kepada Tuhan. Dengan komitmen dan sikap hati yang demikian, maka pastilah akan tergambar dan terbukti juga dalam sikap dan tindakan hidup kita secara nyata.
Kalau berbicara tentang cinta saudara-saudara, berarti kita berbicara tentang hati. Dalam bahasa Yunani disebut kardia. Makanya kita kenal istilah kardiologi atau ilmu yang menangani soal hati dan penyakit dalam. Kenapa cinta selalu dikaitkan dengan hati saudara-saudara? Karena Tuhan menumbuhkan cinta adalah di dalam hati kita. Dan kalau kita mau melihat kisah dalam Kejadian 4:1-16 yang menjadi bagian bacaan kita saat ini, dapat kita lihat saudara-saudara bahwa Kain dan Habel sama-sama mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan. Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah sebagai korban persembahan kepada Tuhan. Sementara Habel mempersembahkan anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya. Hal ini seiring sejalan dengan latar belakang keduanya yang berbeda sekalipun mereka kakak beradik. Kain adalah seorang petani. Sementara Habel adalah seorang gembala kambing domba. Persoalannya kemudian, ketika keduanya sama-sama mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan dan keduanya pasti sama-sama merasa sudah memberi yang terbaik untuk Tuhan melalui persembahannya, namun ternyata Tuhan lebih mengindahkan korban persembahan Habel. Sementara korban persembahan Kain tidak diindahkan Tuhan. Hal itu  membuat hati Kain menjadi sangat panas dan mukanya muram. Padahal, kalau kita mau berpikir secara sederhana saudara-saudara; siapa yang berhak menentukan mana persembahan yang diterima dan ditolak dalam konteks kisah ini? Tentunya memang Tuhan sendiri yang berhak menentukan karena persembahan itu adalah untuk Tuhan. Jadi dalam pikiran sederhana kita saya ingin bertanya: berhakkah Kain marah atas penolakan itu? Jawabannya tentu tidak. Tapi melalui peristiwa ini, Tuhan dapat benar-benar membuktikan siapa sebenarnya Kain dan siapa Habel. Bahkan sesungguhnya sejak awal mereka Tuhan ciptakan, Tuhan sudah tahu dan kenal siapa mereka. Demikian juga dengan kita saudara-saudara. Kalau mau bicara lebih global lagi, seluruh umat manusia yang Tuhan ciptakan, Tuhan tahu dan kenal sedalam-dalamnya tentang manusia ciptaan-Nya. Pertanyaannya: apakah ada satu manusia pun di muka bumi ini yang bukan merupakan ciptaan Tuhan? Pengembangan dari monyet mungkin seperti kata Charles Darwin? Dengan iman sesuai kesaksian Alkitab kita dapat mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan dan dicipta serupa dan segambar dengan Dia. Dicipta menurut citra Allah. Sehingga pastilah Tuhan mengenal seluruh umat manusia sedalam-dalamnya, termasuk juga hatinya Tuhan kenal. Tuhan tahu dengan benar dan pasti. Karena Allah kita adalah Allah pencipta. Allah kita adalah Allah yang maha tahu. Tidak ada satu hal pun yang dapat tersembunyi daripada-Nya. Termasuk juga kondisi di dalam hati Kain yang sedang panas karena penolakan Tuhan itu. Terlebih lagi ketika kepanasan hati itu membuahkan sebuah tindakan dimana Kain membunuh Habel. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa satu kejahatan pasti akan membuahkan kejahatan-kejahatan yang lain. Terbukti juga ketika Tuhan bertanya kepada Kain “Dimana Habel adikmu itu?” Maka Kain menjawabnya dengan kebohongan. Kain berkata kepada Tuhan “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Padahal logikanya seorang kakak memang sepatutnya menjaga adiknya. Dengan demikian kakak beradik itu haruslah saling menjaga. Atas jawaban Kain itu Tuhan mengungkapkan sebuah kebenaran yang tidak bisa terbantahkan, bahwa darah Habel berteriak kepada Tuhan dari tanah, sehingga Tuhan pun mengutuk Kain. Dalam ayat yang ke-11 dan ke-12 digambarkan bagaimana Tuhan mengutuk Kain sedemikian. Bahkan dalam perspektif Kain yang tercatat dalam ayat ke-13 ia berkata: hukumanku itu lebih besar dari apa yang dapat kutanggung. Namun itulah konsekuensi dosa saudara-saudara. Alkitab menggambarkan bahwa konsekuensi dosa amat sangat besar, yaitu maut. Namun dalam bagian bacaan kita digambarkan bahwa Tuhan masih berbelas kasihan kepada Kain meskipun Tuhan tahu kesalahan Kain amatlah besar. Tuhan berfirman kepada Kain: sekali-kali ia tidak akan mati dibunuh. Karena barangsiapa membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat. Kemudian Tuhan menaruh tanda pada Kain supaya ia jangan dibunuh oleh siapa pun yang bertemu dengan dia.
Fakta mengenai Kain ini tentunya tidak serta merta menjadi contoh bagi kita tentang pembiaran dan pelegitimasian Allah terhadap tindakan kejahatan. Bahkan Alkitab menegaskan kepada kita agar kita jangan sekali-kali lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Terlebih bagi tiap-tiap kita yang telah menjadi percaya, dipilih dan ditebus Tuhan dari dosa. Namun fakta ini ingin menunjukkan tentang betapa berbelas kasihannya Tuhan kepada Kain. Demikian juga Tuhan ingin menyatakan belas kasih-Nya kepada kita saat ini. Siapapun kita, apapun persoalan dan pergumulan hidup kita, seberat apapun itu, mari kita datang kepada Tuhan. Kita ungkapkan semua di hadapan Tuhan. Mari kita mengaku bahwa sesungguhnya kita belum mampu untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan sebagai wujud syukur kita bahwa Tuhan sudah memberi yang terbaik bagi kita. Mari kita mengakui dan mohon ampun atas segala salah dan dosa kita. Percayalah bahwa Ia setia dan adil bagi mereka yang mau mengakui salah dan dosanya dengan penuh kejujuran dan ketulusan serta dengan sungguh-sungguh bertobat kepadaNya. Mari kita mengambil waktu untuk merekomitmen hati kita dan berkata dengan sungguh di hadapan Tuhan: Aku ingin bangkit lagi. Aku ingin lebih sungguh lagi dalam mengungkapkan syukurku kepada Tuhan dan memberi yang terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan. Tuhan sungguh tidak berubah dari dulu, sekarang dan selamanya. Ia adalah Allah yang penuh kasih. Dan Ia menginginkan kita mengasihi Dia dengan sungguh dan lebih sungguh lagi senantiasa. Sungguh, Tuhan mengasihi dan memberkati kita. Amin.

Penutup
“SUDAHKAH YANG TERBAIK KUBERIKAN” (NKB 199).


Selasa, 31 Desember 2013

RENUNGAN AWAL TAHUN 2014: CIRI ORANG BERIMAN-HIDUP DALAM KEPASTIAN (AYUB 14:1-22)

               
                Saudara-saudara kekasih Kristus, memasuki awal tahun yang baru di minggu pertama tahun 2014 ini, pemberitaan di televisi banyak menyoroti seputar ramalan tentang apa yang akan terjadi di tahun 2014 yang akan kita jalani dan lewati bersama ini. Salah satu yang paling saya ingat yang juga dikait-kaitkan dengan tragedi kecelakaan kereta di Bintaro yang terjadi belakangan ini adalah ketika seorang paranormal mengatakan bahwa kecelakaan kereta di Bintaro yang bertabrakan dengan mobil tangki BBM Pertamina itu menunjukkan bahwa di tahun 2014 akan terjadi pertarungan, gejolak bahkan tragedi yang sangat besar. Apalagi mengingat bahwa tahun 2014 merupakan suatu tahun politik bagi Indonesia. Dalam ungkapan yang lain diungkapkan juga bahwa tahun 2014 merupakan tahun kuda perang.

                Saudara-saudara, sadarkah kita akan realita kenapa orang-orang di sekitar kita acap kali mengandalkan diri dan seolah-olah membutuhkan bahkan bergantung pada ramalan-ramalan? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena orang membutuhkan kepastian. Hal ini senada atau seiring sejalan dengan realita keberadaan manusia yang sejak lahirnya memang memiliki kecenderungan alamiah untuk dapat menjadi gelisah dan bahkan dipenuhi kegelisahan. Ayat yang pertama dari bagian bacaan kita menegaskan akan hal itu. Dengan jelas diungkapkan di sini bahwa manusia yang lahir dari perempuan yang artinya semua manusia tanpa terkecuali (karena tidak ada satu anak manusia pun yang tidak lahir dari perempuan) dikatakan singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Kalau kita mau menilik pada peristiwa hidup Ayub sendiri, bukan tidak mungkin dalam kondisi hidupnya yang berbalik 180 derajat itu Ayub menjadi frustasi dan pada akhirnya hidupnya dipenuhi kegelisahan. Bahkan kalau kita lihat dan cermati bersama Ayub pun pernah mengutuki hari kelahirannya sebelum akhirnya berbalik kembali kepada Allah dan menyesali perbuatannya. Pertanyaannya kenapa Ayub sampai bisa mengutuki hari kelahirannya? Pasti sedikit banyak dipengaruhi juga oleh kegelisahan dan kegundahan yang bergejolak di dalam dirinya tanpa dia bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari keadaan keterpurukannya. Itulah juga yang acap kali terjadi pada manusia-manusia lain di muka bumi ini. Bahkan mungkin termasuk kita sebagai orang-orang percaya. Kegelisahan yang acap kali mendera hidup ini membuat manusia lebih senang menggunakan cara instan untuk mencari jawab dari kegelisahan hatinya tentang perjalanan hidupnya. Salah satu caranya adalah melalui percaya pada ramalan. Dalam kondisi yang demikian maka sebagai orang beriman tentunya kita patut bertanya khususnya ke dalam hati kita pribadi lepas pribadi. Manakah kuasa yang lebih besar? Apakah kuasa ramalan yang berdasar pada hikmat manusia bahkan bisa jadi ada campur tangan kuasa gelap? Atau justru kuasa Tuhan yang sudah sangat jelas bahwa DIA adalah Sang Khalik dan Raja di atas segala raja? Maka sebagai orang beriman tentunya kita tahu siapa yang harus kita ikuti dan kepada siapa kita harus menggantungkan hidup kita. Tidak lain dan tidak bukan Tuhan menjadi jawaban dan pilihan yang pasti bagi kita. Tidak ada tawar menawar di dalamnya. Ikut Tuhan-selamat. Mengikuti kuasa lain di luar kuasa Tuhan-binasa. Oleh karena itu iman percaya kita kepada Tuhan menjadi hal yang penting. Karena di dalam percaya kita tidak sekedar percaya melainkan mempercayakan diri dan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Artinya Dialah yang berotoritas penuh atas diri dan hidup kita. Bukan yang lain. Dalam ungkapan yang lain Dialah yang menjadi Raja dan memerintah di dalam hidup kita. Artinya ketaatan dan kepatuhan  kepada Tuhan juga bukan menjadi hal yang dapat ditawar-tawar. That’s the point. Ketika kita taat dan patuh sebagai bukti bahwa kita mengasihi Allah sebagaimana Dia lebih dulu mengasihi kita maka kita pasti akan sungguh-sungguh dapat masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Sang Bapa. Bahkan ada saatnya dimana kita dapat bertemu muka dengan muka dengan-Nya sebagai bagian dari orang-orang yang benar-benar dipilih dan ditetapkan Allah untuk diselamatkan. Jadi masa-masa dimana kita masih diberi hidup di dunia ini adalah menjadi masa penyaringan. Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan waktu hidup kita yang singkat ini. Hiduplah di dalam Tuhan dan bersama Tuhan senantiasa, karena di dalam Tuhan selalu ada pengharapan seperti pohon yang ditebang dan dapat bertunas kembali, dimana tunasnya tidak berhenti tumbuh. Di dalam Tuhan juga selalu ada kepastian, yaitu kepastian hidup dan keselamatan kekal. Bahkan orang percaya akan tetap hidup sekalipun ia sudah mati. Itu janji Firman Tuhan. Ketiadaan harapan setelah kematian karena dosa sebagaimana dituliskan dalam judul perikop kita saat ini telah Tuhan ubahkan dan sempurnakan menjadi jaminan keselamatan dan hidup kekal bagi semua orang terutama bagi orang-orang percaya dan takut akan Dia. Oleh karena itu kata kuncinya di sini adalah percaya. Namun percaya bukan hanya sekedar percaya melainkan mau mengambil komitmen dalam konsistensi hidup bersama Tuhan dan di dalam Tuhan. Dengan demikian kita tidak sekali pun mengandalkan diri di dalam otoritas lain selain otoritas Tuhan satu-satunya, karena Dialah satu-satunya Juruselamat bagi kita. Komitmen ini pun perlu dinyatakan dan dipraktekkan dalam keseharian hidup kita, terutama ketika kita memasuki tahun yang baru ini dengan segudang rencana. Alkitab berkata jangan lupakan Tuhan dalam setiap perencanaan. Berdoalah kepada-Nya. Mintalah hikmat bijaksana daripada-Nya. Mintalah agar Dia senantiasa menyertai langkah hidup kita ke depan sehingga nyatalah Allah Imanuel, Tuhan beserta kita. Selamat memasuki tahun yang baru bersama Tuhan dan di dalam Tuhan. Mari kita jadikan tahun 2014 ini sebagai tahun kemenangan bersama Yesus Kristus Tuhan.  Selamat melangkah di tahun yang baru dalam pengharapan dan kepastian. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Selasa, 24 Desember 2013

YOBEL DAN NATAL: SEBUAH KORELASI ATAU PERTENTANGAN?


       PENGANTAR: PENGERTIAN DAN PEMAHAMAN TENTANG TAHUN YOBEL DALAM SEJARAH
      Tentu tiap-tiap kita pernah membaca bagian Alkitab yang terdapat dalam Imamat 25:10 bukan? Dalam bagian Alkitab ini dengan jelas diungkapkan bahwa kamu harus menguduskan tahun ke lima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. Jika kita mau melanjutkan pembacaan pada ayat ke-11 sampai dengan ayat ke-13, maka di sana dengan jelas diungkapkan bahwa tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya. Jika kita mau menelusuri dari awal, sebagaimana judul perikop yang diberikan oleh LAI dalam Imamat pasal 25 ini, maka dengan jelas kita akan menemukan bahwa pelaksanaan tahun Yobel memiliki pemaknaan yang saling terkait dengan tahun Sabat. Dan perintah ini disampaikan Tuhan melalui Musa di Gunung Sinai untuk ditujukan kepada Orang Israel ketika telah tiba di negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Dengan demikian jelaslah bahwa pelaksanaan tahun Yobel berdasarkan kesaksian Alkitab dapat dimaknai sebagai tahun pembebasan yang nota bene menjadi peringatan historis dari pembebasan Bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir. Sedangkan tahun Sabat merupakan masa perhentian, sebagaimana makna kata hari Sabat yang merupakan hari perhentian yang dikuduskan bagi Tuhan. Dalam paparan di ayat ke-3 dam seterusnya sampai dengan ayat ke-9 diungkapkan dengan jelas bahwa enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu. Tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi Tuhan. Ladangmu janganlah kau taburi dan kebun anggurmu janganlah kau rantingi. Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kau tuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kau petik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Hasil tanah selama sabat itu harus menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya. Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala dimana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu dimana-mana di seluruh negerimu. Barulah pada tahun yang ke-50 dalam rangkaian hari raya pendamaian itu dirayakanlah tahun Yobel. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa tahun Yobel memiliki ciri khas historis berdasarkan paparan Alkitab sebagai berikut: (1). Tahun Yobel adalah salah satu perayaan keagamaan dalam tradisi Yahudi atau Israel. (2). Tahun Yobel diperingati pada tiap-tiap tahun ke-50 dihitung dari awal peringatan tahun Sabat. Dalam Bahasa Inggris ungkapan tahun ke-50 ini dikenal dengan  istilah Jubilee (Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Yobel). (3). Dalam tradisi Yahudi, tahun Yobel dirayakan bersamaan dengan Hari Raya Pendamaian (dalam bahasa Ibrani yom kippur). (4). Perayaan ini dibuka dengan meniupkan sangkakala (shofar) yang tidak hanya menjadi tanda dimulainya perayaan, tetapi juga menjadi seruan pembebasan bagi para budak, termasuk pembebasan lahan pertanian (Sumber: Ibid). (5). Perayaan tahun Yobel merupakan puncak dari Sabat (Sumber: www.tulang-elisa.org/tahun-yobel).
               
Dalam sumber  id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Yobel‎ disebutkan bahwa secara etimologis asal kata yobel tidak diketahui dengan pasti. Kata ini diduga berasal dari kata bahasa Ibrani ybl (yovel) yang bisa berarti domba jantan atau tanduk domba jantan. Dalam tafsiran penulis, pemaknaan tahun Yobel sebagai tahun pembebasan yang dikaitkan dengan arti kata harafiahnya yaitu domba jantan adalah karena dalam konteks Perjanjian Lama domba (khususnya domba jantan) seringkali dipakai sebagai simbol gambaran kurban penebusan dosa. Dalam paparan etimologi yang terdapat dalam sumber id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Yobel disebutkan bahwa dalam beberapa teks Perjanjian Lama seperti di dalam Keluaran 19:13 dan Yosua pasal 6, kata ybl atau yovel ini diyakini menunjuk pada shofar. Shofar (sangkakala) adalah tempat yang terbuat dari tanduk domba jantan dan biasa dibunyikan pada permulaan perayaan Hari Raya Pendamaian.

      YOBEL DAN NATAL: SEBUAH KORELASI ATAU PERTENTANGAN?
      Dari berbagai uraian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa tahun Yobel memiliki makna penting sebaagai tahun pembebasan yang merupakan puncak dari perayaan tahun sabat atau tahun perhentian. Kedua-duanya merupakan momen yang khusus dan kudus bagi Tuhan. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah tahun Yobel memiliki keterkaitan makna dengan peringatan dan perayaan natal? Atau justru merupakan sebuah pertentangan?
      
      Natal secara umum dimaknai sebagai hari kelahiran sebagaimana arti harafiah dari kata natal adalah lahir atau kelahiran. Dalam konteks kekristenan kemudian kata natal memiliki makna khusus terutama ketika dikaitkan dengan momentum kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia. DIA yang pada mulanya adalah Firman yang kemudian menjadi sama dengan manusia dan berada di tengah-tengah manusia untuk mengajar dan lebih khusus lagi melakukan tugas penyelamatan Allah atas dosa-dosa manusia serta membebaskan manusia dari hukuman kekal yang berujung kepada kematian kekal. Coba perhatikan kata membebaskan yang penulis beri garis bawah dalam ungkapan di atas. Kelahiran Yesus Kristus yang kita peringati dalam tiap-tiap momentum natal merupakan cikal bakal pewujudnyataan rangkaian karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus atas dosa manusia yang sudah pasti berujung kepada maut. Tidak ada satu manusia pun yang dapat terlepas dari hukuman kekal yang merupakan akibat dari dosa Adam dan Hawa serta keturunannya termasuk kita. Oleh karena itu natal sebagai cikal bakal karya penyelamatan dan pembebasan Allah melalui Yesus Kristus terhadap manusia dari kungkungan dosa dan maut kekal tentulah memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan nilai pemaknaan yang terkandung dalam perayaan tahun Yobel sebagai tahun pembebasan. Kelahiran Yesus Kristus yang kita peringati dalam momentum natal tentulah menjadi cikal bakal jaminan kebebasan manusia dari dosa dan maut, terutama bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tahun Yobel yang dalam Perjanjian Lama memiliki makna pembebasan terhadap para budak dan tanah, maka dalam Perjanjian Baru telah disempurnakan menjadi pembebasan terhadap seluruh umat manusia dari perbudakan dosa, terutama bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Sehingga dengan demikian kita tidak perlu lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Selamat natal bagi kita sekalian. Selamat menikmati dan menjalani hidup sebagai orang-orang yang telah dibebaskan dan ditebus Tuhan dari dosa dan maut dengan harga yang mahal melalui pengorbanannya di atas kayu salib dan keseluruhan rangkaian karya penyelamatan-Nya atas kita. Selamat mengecap dan menjalani kebebasan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita melalui Yesus Kristus dengan penuh tanggung jawab dan dalam hati yang tulus dan kudus untuk mempermuliakan nama Tuhan melalui keseluruhan hidup yang kita jalani. Sekali lagi selamat natal dan tahun baru. Tuhan memberkati kita sekalian.

Kamis, 07 November 2013

KIBLAT ORANG PERCAYA (Mazmur 119:105-112)


                Saudara-saudara, ketika kita berbicara tentang kiblat maka sudah pasti kita akan mengingat saudara-saudara kita kaum muslim yang dalam setiap doanya harus mengarahkan kiblatnya ke arah ka’bah. Bahkan ada saat-saat dimana mereka dipanggil untuk menuju ke tanah suci Mekah dimana salah satu tujuan yang kerap kali mereka harapkan adalah agar dapat melihat ka’bah dan bahkan menyentuhnya. Namun pertanyaannya sekarang adalah apakah hanya mereka yang nyata-nyata punya kiblat? Bagaimana dengan kita sebagai orang nasrani? Apakah kita tidak punya kiblat? Alkitab memang menjelaskan kepada kita bahwa akan tiba saatnya bagi kita untuk tidak lagi menyembah Tuhan di gunung-gunung sebagaimana dikisahkan dalam konteks Perjanjian Lama. Oleh karena itu kita juga tidak memerlukan tanah suci dan juga kiblat fisik yang khusus dalam melaksanakan ibadah dan doa kepada Tuhan. Artinya kita dapat beribadah dengan bebas dimana pun dan kapan pun. Terlebih karena kita sudah menjadi orang-orang yang ditebus Tuhan sehingga kita boleh menjadi orang-orang yang dikuduskan Tuhan karena anugerah berdasarkan karya penyelamatan-Nya atas kita. Namun dengan demikian apakah benar bahwa kita sungguh-sungguh sudah tidak memerlukan kiblat dan tidak memiliki kiblat sama sekali? Jawabannya tidak saudara-saudara. Karena dengan karya penebusan Kristus atas diri kita melalui kelahiran, kematian, kebangkitan sampai dengan kenaikan-Nya ke Sorga, maka sesungguhnya kita yang dahulu jauh namun yang sekarang sudah menjadi dekat dengan Tuhan atas inisiatif-Nya yang mau dan rela mendekatkan diri-Nya dengan kita dan merobohkan tembok pemisah antara Tuhan yang tidak berdosa dan manusia yang berdosa; kita perlu mengarahkan diri kita kepada pribadi Tuhan, Firman dan ketetapan-ketetapan-Nya. Itulah yang sesungguhnya menjadi kiblat iman kita, sehingga kita perlu terus mengarahkan diri terhadap hal itu. Dan kita pun perlu memiliki kerelaan untuk mau dibentuk Tuhan menjadi pribadi yang dari hari ke sehari terus menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita perlu membuka diri, hati, pikiran bahkan keseluruhan hidup kita untuk terus diarahkan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Sebagaimana ikrar iman percaya kita kepada Kristus bahwa kita mau terus dimampukan Tuhan untuk menjadi hamba kebenaran yang sumbernya terdapat dalam Alkitab, Firman Tuhan. Oleh karena itu kita harus terus memiliki semangat dan tekad untuk mau dengar-dengaran akan Firman Tuhan, baik dalam pergaulan pribadi kita dengan Tuhan maupun dalam persekutuan komunitas orang percaya.

                Saudara-saudara, bagian bacaan kita Mazmur 119:105-112 mengungkapkan tentang sumpah pemazmur untuk menepati janji pemazmur di hadapan Tuhan untuk senantiasa berpegang kepada Firman Tuhan dan tidak sedikit pun melupakannya. Karena bagi pemazmur Firman Tuhan adalah pelita bagi kakinya dan terang bagi jalannya. Sekalipun pemazmur berada dalam kondisi yang sangat tertindas dan penuh penderitaan pun, pemazmur tidak akan pernah akan melupakan dan bahkan meninggalkan Tuhan dengan segala Firman dan ketetapan-Nya. Ia sangat yakin bahwa Firman Tuhan adalah Firman yang menghidupkan. Bahkan sesungguhnya janji yang terkandung dalam Firman Tuhan adalah bahwa bagi orang percaya dan yang mau hidup benar sesuai teladan Kristus maka mereka akan memperoleh jaminan keselamatan dan hidup kekal bersama dengan Tuhan. Dengan kata lain mereka akan hidup sekalipun mereka sudah mati. Itulah janji Tuhan yang diyakini pemazmur sebagai janji yang ya dan amin. Begitu juga dengan kita saat ini. Sebagaimana pengalaman pemazmur bersama dengan Tuhan, maka kita pun diajak untuk meyakini dengan sepenuh iman akan kemahakuasaan Tuhan dan seluruh janji Tuhan yang sudah pasti akan ditepati-Nya. Saudara-saudara, Tuhan sudah menepati janji-Nya yang dinubuatkan oleh para nabi sejak Perjanjian Lama. Mulai dari kelahiran-Nya ke dalam dunia yang sebentar akan kita peringati dalam perayaan Natal, kematian dan kebangkitan-Nya yang menjadi tanda keberhasilan karya penebusan Kristus atas dosa dan maut bagi seluruh umat manusia dan terutama bagi kita orang-orang percaya, kenaikan-Nya ke Sorga yang menandakan bahwa Dia telah menang dan Dialah Kristus Victor. Saat ini dalam penantian kita bersama kita masih akan menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai hakim yang adil atas seluruh ciptaan. Dan ketika kita menantikannya dengan iman, maka yakinlah bahwa Tuhan pasti akan memenuhi janji-Nya itu sebagaimana telah dipersaksikan di dalam Alkitab, Firman Tuhan. Oleh karena itu marilah kita menantikan penggenapan janji Tuhan yang terakhir ini dengan penuh iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan. Dengan waktu dan kesempatan yang masih Tuhan berikan kepada kita untuk menjalani hidup di dunia ini, marilah kita senantiasa mempersembahkan hidup kita dan keseluruhan diri kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dalam hidup yang masih Tuhan anugerahkan kepada kita sampai dengan saat ini marilah kita mempermuliakan Dia dengan terus menyediakan diri kita untuk mau terus dipakai oleh-Nya menjadi perpanjangan tangan, mulut dan kasih-Nya kepada sesama kita yang membutuhkan. Terutama juga untuk menjadi kesaksian bagi mereka yang belum percaya. Itulah bagian kita yang Tuhan ingin agar kita lakukan di dalam hidup kita. Dan yakinlah bahwa Tuhan akan melakukan bagian Tuhan atas kita. Termasuk memenuhi seluruh penggenapan janji-Nya sampai akhir. Kiranya Tuhan senantiasa memimpin dan memampukan kita untuk kita dapat terus mengarahkan pandangan kita dan keseluruhan hidup kita kepada Tuhan dan kepada perkara-perkara yang di atas dan bukan yang di bumi. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Rabu, 16 Oktober 2013

ROH YANG MEMBERI KEKUATAN (ROMA 8:26-27)

                                           
                Saudara-saudara, setiap kali kita berulang tahun apa yang biasanya diucapkan orang ketika memberi selamat kepada kita? Pastinya selamat ulang tahun. Lalu apa lagi? Pastinya wish you all the best. Tiap orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman dan kerabatnya pasti mendoakan yang terbaik bagi mereka yang sedang berulang tahun. Begitu juga dengan Roh Kudus. Dalam perannya di dalam kehidupan manusia, Roh Kudus yang adalah Allah sendiri terus bekerja melakukan yang terbaik dalam kehidupan orang-orang percaya. Dalam kesaksian Alkitab yang menjadi bagian bacaan kita saat ini diungkapkan peran Roh Kudus sebagai Roh yang menguatkan kita dalam segala kelemahan kita. Bahkan lebih jauh diungkapkan dalam konteks mengenai doa. Yaitu ketika kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, maka Roh sendiri yang berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Ia berdoa sesuai dengan kehendak Allah bagi orang-orang kudus. Kira-kira siapa yang dimaksudkan dengan orang-orang kudus di sini? Apakah alim ulama? Apakah para pendeta? Bukan saudara-saudara. Yang dimaksud dengan orang-orang kudus di sini adalah tiap-tiap kita yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Karena itulah makna kata Qadosy yang sesungguhnya. Dipisahkan dari yang lain. Dipisahkan dari dunia ini dan dikhususkan menjadi orang-orang pilihan Allah. Bukankah tiap-tiap kita dipanggil dan dipilih Tuhan menjadi imamat yang rajani, umat pilihan Allah dan Israel-Israel yang baru? Sebagai imamat yang rajani, umat pilihan Allah dan Israel-Israel yang baru sudah sepatutnya kita menggantungkan dan mengandalkan hidup kita hanya kepada Allah dalam Yesus Kristus yang menjadi dasar iman kita dan bahkan kepala gereja itu sendiri. Sebagai Israel-Israel yang baru tentunya Tuhan tidak mengharapkan kita hanya pandai dalam melakukan ritual-ritual ibadah, tetapi justru lebih dalam lagi kita dipanggil untuk menjadi pelaku Firman yang setiawan. Dan kepada tiap-tiap kita yang setiawan ada janji Tuhan kepada kita, yaitu bahwa kita boleh masuk dan turut serta dalam kebahagiaan sejati bersama dengan Tuhan.

                Saudara-saudara, Roh Kudus adalah Roh yang memberi kekuatan dalam segala kelemahan kita. Dialah Roh yang senantiasa mengarahkan dan memampukan kita berjalan di jalan kebenaran Tuhan. Dialah Roh yang terus menegur kita dan memberikan kepada kita hikmat bijaksana yang bersumber dari Tuhan sendiri. Dialah Roh yang terus memampukan kita mencari perkara-perkara yang di atas dan bukan yang di bumi. Dialah Roh yang menjadi jaminan kita bahwa ketika kita mau hidup di dalam Roh maka kita akan senantiasa menjadi penurut-penurut Allah dan pada akhirnya kita akan memperoleh jaminan hidup kekal bersama dengan Dia di dalam Sorga. Karena Alkitab juga berkata bahwa Roh memang penurut tetapi daging lemah. Sebagai orang-orang pilihan Tuhan tentunya Tuhan ingin agar kita dapat meresponi dengan penuh komitmen panggilan Tuhan untuk menjadi penurut-penurut Allah dalam hidup baru yang kita jalankan di dalam Tuhan dan bersama Tuhan. Yaitu hidup menurut Roh dan bukan menurut daging. Oleh karena itu kita perlu memberi ruang kepada Roh Kudus untuk terus bekerja dalam hati kita senantiasa. Biarkanlah Dia yang boleh terus menguatkan kita dalam kelemahan kita, menegur kita dalam segala kesalahan kita dan senantiasa mengarahkan kita kepada kebenaran yang sejati. Yaitu Yesus Kristus dan segala ajaran-Nya. Ketika Roh Kudus memiliki peran di dalam hidup kita dalam memberi kekuatan di dalam segala kelemahan kita, maka tiap-tiap kita pun di panggil untuk menjadi penopang bagi sesama kita yang lemah dan membutuhkan kekuatan serta penghiburan. Tiap-tiap kita dipanggil menjadi terang dan garam dunia. Tiap-tiap kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan dunia ini. Baiklah kita boleh terus mengambil komitmen penuh untuk menjalankan panggilan Tuhan ini kepada setiap kita umat pilihan-Nya. Baiklah kita boleh menjadi teladan dan kitab-kitab terbuka dimana sesama kita boleh melihat Kristus yang hidup di dalam diri dan hidup kita. Sehingga dengan demikian diri dan hidup kita menjadi kesaksian dan persembahan  yang kudus, harum dan berkenan bagi Tuhan karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Kiranya Tuhan senantiasa memampukan kita untuk menjadi terang dan garam dunia. Kiranya Tuhan senantiasa memampukan kita untuk menjadi saksi-saksi-Nya yang kudus dan benar bagi tiap-tiap sesama kita yang membutuhkan. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.