Sabtu, 26 Juli 2014

HIDUP DALAM KECUKUPAN KASIH KARUNIA TUHAN (2 Korintus 12:1-10)

                                              
Nats: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah maka aku kuat (2 Korintus 12:9-10).

                Saudara-saudara, dalam kesempatan ini dengan berlandaskan ayat Alkitab yang menjadi bagian bacaan kita saya ingin mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema, yaitu hidup dalam kecukupan kasih karunia Tuhan. Ketika saya mempersiapkan khotbah dengan tema ini maka saya langsung teringat dengan lagu pujian yang berjudul “Kasih Setia-Mu Yang Kurasakan.” Kira-kira lengkapnya pujian itu mau menggambarkan bahwa kasih setia Tuhan yang acap kali kita rasakan dideskripsikan lebih tinggi dari langit biru. Dan kesetiaan Tuhan yang kita terima tiap-tiap hari di dalam hidup kita lebih dalam dari lautan. Bahkan kasih karunia dan kesetiaan Tuhan itu muncul dan diberikan kepada kita semata-mata berdasarkan inisiatif Tuhan sendiri. Dengan kata lain itu semua adalah anugerah yang diberikan-Nya kepada kita. Karena siapakah kita sehingga kita dilayakkan menjadi biji mata-Nya? Siapakah kita sehingga Dia mengindahkan dan memperhatikan kita? Tentu kita perlu menyadari benar bahwa kita adalah orang berdosa yang diselamatkan oleh Tuhan, dimana semua bukan karena hasil usaha kita ketika kita bisa selamat melainkan karena pemberian Allah. Jadi jelas bahwa kita tidak boleh memegahkan diri kita sendiri atas semua karya keselamatan yang kita raih berdasarkan pemberian Allah itu melainkan kita harus memegahkan dan mempermuliakan nama Tuhan. Kita patut bersyukur kepada-Nya dan menyatakan syukur kita kepada-Nya melalui persembahan diri dan persembahan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah karena itu adalah inti ibadah kita yang sejati.
                Saudara-saudara, menarik karena akibat dosa sesungguhnya setiap kita tanpa terkecuali harus menerima akibat dari dosa tersebut yang berupa hukuman yang berujung pada maut yang kekal. Kalau berbicara mengenai maut yang kekal berarti pastilah hal itu berkaitan dengan penderitaan yang panjang dan tak kunjung berakhir. Sehingga ternyata bukan hanya penderitaan cinta yang deritanya tiada akhir seperti kata Ti Pat Kai yang dalam film Kera Sakti Sun Go Kong diyakini sebagai penjelmaan panglima Kahyangan yang tidak lain adalah Panglima Tian Feng yang kala itu menaruh hati terhadap adik Chang’E. Saudara-saudara, penderitaan cinta mungkin deritanya belum seberapa jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa semua umat manusia tanpa terkecuali karena dosa harus menerima hukuman kekal yang berujung kepada maut yang kekal.
                Akibat dosa manusia mau tidak mau, suka tidak suka harus masuk ke dalam penderitaan berkepanjangan yang tanpa ambang batas. Tidak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari penderitaan itu terkecuali Tuhan sebagai satu-satunya figur yang tidak berdosa yang berinisiatif melakukan tindakan penyelamatan, penebusan dan pemulihan atas manusia sebagai bagian dari keutuhan ciptaan-Nya dari kungkungan dosa. Dialah sang pembebas dan penyelamat kita. Tanpa Dia kita tidak akan bisa mencapai titik kemenangan dan kemerdekaan dari dosa dan maut.
                Ada hal menarik saudara-saudara dalam pembahasan kita kali ini. Yaitu bahwa karena dosa maka manusia sudah seharusnya, sepantasnya dan dapat dipastikan akan berada dalam penderitaan. Tapi kenyataannya sekarang, manusia pada umumnya tidak tahan menderita. Bahkan sesungguhnya itulah yang merupakan sifat dasar manusia. Bisa kita lihat ketika Bangsa Israel hendak dituntun Tuhan melalui perantaraan Musa dan Harun yang menyertainya menuju tanah perjanjian. Apa yang terjadi ketika mereka melewati padang gurun? Yang ada adalah mereka bersungut-sungut karena kekurangan air dan makanan. Yang ada adalah mereka merasa jauh lebih baik ketika hidup di bawah perbudakan Mesir. Padahal sebagai suku bangsa pilihan Tuhan seharusnya iman mereka kokoh dan teguh. Apalagi ketika mereka tahu bahwa perjalanan menuju tanah perjanjian itu adalah inisiatif Tuhan, dimana Tuhan sendiri yang pasti akan memimpin, menyertai dan memelihara hidup mereka dalam keadaan apa pun. Tetapi pada kenyataannya iman mereka tidak sedemikian kokoh. Pengharapan mereka kepada Tuhan gampang pudar oleh karena desakan keadaan. Kalau demikian kita pun patut mempertanyakan bagaimana sesungguhnya kasih mereka kepada Tuhan? Demikian juga dengan kita. Bagaimana iman, pengharapan dan kasih kita kepada Tuhan? Seberapa kokohkah iman itu terbangun dan terpelihara?
                Saudara-saudara, kalau kita mau melihat seberapa kokohnya iman, pengharapan dan kasih kita kepada Tuhan acap kali kita tidak hanya bisa melihat dan menilai pada saat-saat dimana kita sedang berbahagia dan bersukacita. Tetapi justru melalui penderitaan dan kelemahan yang diizinkan Tuhan untuk kita alami di dalam hidup ini. Kita bisa melihat contoh yang paling konkret.  Sebut saja Ayub. Ketika Ayub diizinkan Tuhan untuk mengalami penderitaan yang teramat sangat, dia pun sampai pernah mengutuki hari kelahirannya sendiri. Dia pun sempat ingin memperkarakan tentang hidupnya di hadapan Tuhan. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya dimana saat itu istrinya dan teman-teman dekatnya mengatakan kepadanya supaya dia meninggalkan Tuhan karena keadaannya yang sangat menderita itu. Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat menghargai proses keberimanan seseorang termasuk Ayub. Dan terbukti ketika Ayub kembali bersetia kepada Tuhan , dimana dia menyadari segala kesalahan dan kekeliruannya kepada Tuhan. Pun dia mau sungguh-sungguh bahkan lebih sungguh lagi menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan. Dan dikisahkan ketika itu Tuhan menggantikan segala kepunyaan Ayub berlipat ganda dan dia boleh kembali merasakan hidup dalam kesejahteraan seperti sedia kala.
                Yang menjadi pertanyaan kemudian saudara-saudara kepada kita sekalian saat ini adalah apakah memang sepantasnya kesetiaan kita kepada Tuhan semata-mata diukur dengan berkat fisik yang akan kita terima sebagai imbalan dari kesetiaan kita kepada-Nya? Bagaimana kalau kenyataan hidup kita sama seperti Paulus? Dimana Paulus dikatakan sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan iblis itu mundur daripadanya tetapi Tuhan justru mengatakan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Bahkan Tuhan mengatakan bahwa dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Apakah hal itu bisa masuk di dalam logika kemanusiaan kita? Bahkan mungkin hal ini sama dengan ketika orang-orang Yahudi dan orang-orang yang kontra terhadap kekristenan mempertanyakan kenapa Kristus harus mati padahal Dia Tuhan.
                Saudara-saudara, fakta iman dan kasih yang Tuhan ingin nyatakan di dalam hidup kita acap kali memang melampaui segala akal pikiran kita. Bahkan juga kerinduan-Nya agar kita menerima damai sejahtera yang daripada-Nya. Dengan jelas Filipi 4:7 mengungkapkan bahwa damai sejahtera Allah memang melampaui segala akal. Dan bahkan damai sejahtera Allah itulah yang akan memelihara hati dan pikiran kita di dalam Kristus Yesus.
                Jadi kita memang acap kali tidak bisa membatasi Tuhan di dalam pikiran dan logika kita. Karena ketika Tuhan sudah bisa kita batasi dengan pikiran dan logika kita maka pada saat itu Dia bukan lagi menjadi Tuhan. Karena Tuhan adalah transenden dan imanen. Dia adalah Allah yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Dia Maha segala-galanya. Oleh karena itulah Dia disebut Tuhan. Dan itulah yang membedakan antara Dia dengan kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Karena Dia adalah pencipta. Dia adalah Sang Khalik. Dia yang menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Dia yang menciptakan dunia dan alam semesta kita dari keadaan tohu wavohu atau kekosongan tanpa bentuk menjadi sebuah keteraturan yang indah dan dinamis seperti yang bisa kita nikmati sekarang. Dan Dia yang tidak akan pernah meninggalkan buatan tangan-Nya.
                Dengan kuasa dan kasih-Nya yang sedemikian besar masihkah kita tidak yakin bahwa Dia mampu melakukan segala hal tanpa terkecuali? Masihkah kita tidak yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan? Termasuk untuk memimpin dan menyertai kita di dalam kelemahan kita? Bahkan Dia sendiri adalah Tuhan yang pernah merasakan saat-saat kelemahan ketika Dia harus menanggung dosa manusia di atas kayu salib sebagai manusia seutuhnya. Dia pernah merasakan tiga kali jatuh dalam menjalani jalan salib menuju Golgota. Tetapi dengan kekuatan dari BAPA sebagaimana digambarkan ketika di Taman Getsemani malaikat Tuhan turun memberi kekuatan kepada-Nya, maka Dia mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab-Nya dalam rangka mewujudnyatakan karya penyelamatan  Allah atas umat manusia. Dia adalah Allah yang mengerti. Dia adalah Allah yang peduli. Oleh karena itu datanglah kepada-Nya semua orang yang letih lesu dan berbeban berat. Dia menjanjikan kelegaan kepada kita sekalian. Bahkan sekalipun kita harus menghadapi penderitaan. Dia berkata bahwa kuk yang kupasang itu enak dan ringan. Dialah yang memberikan keringanan di dalam kita menanggung segala beban hidup kita. Pun di dalam kita menanggung segala derita kita. Dengan tangan-Nya yang kuat kita dimampukan untuk berkata bahwa bersama Tuhan kita cakap menanggung segala perkara. Bahkan seperti Paulus juga kita akan dimampukan untuk memiliki hati yang rela dan senantiasa mengucap syukur dalam segala keadaan, termasuk di dalam derita yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita. Terlebih ketika penderitaan itu adalah karena Kristus. Pada saat itu dengan kemampuan dan kesanggupan yang daripada Tuhan sendiri kita akan dimampukan untuk berkata bahwa jika aku lemah maka aku kuat. Oleh karena itu janganlah takut dan gentar terhdap segala penderitaan yang akan dan harus kita alami. Terlebih di dalam masa-masa zaman akhir menuju akhir zaman seperti sekarang ini, dimana penderitaan memang harus ada dan harus kita alami. Sabarlah menanggung segala penderitaan itu. Bertekunlah senantiasa dalam iman dan dalam pembelajaran dan pemberitaan Injil. Bertekunlah juga di dalam doa sebagai bukti bahwa kita berjaga-jaga sehingga kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Pencobaan memang harus ada. Tetapi orang-orang yang teguh berdiri dalam menghadapi segala pencobaan itu adalah orang-orang yang akan beroleh mahkota kemenangan. Oleh karena itu kerjakanlah keselamatanmu senantiasa dengan takut dan gentar. Berjuanglah senantiasa untuk menjadi orang-orang yang setia sampai akhir hanya kepada Tuhan dan kebenaran-Nya. Yakinlah bahwa kasih karunia Tuhan senantiasa menyertai kehidupan kita, terutama bagi tiap-tiap kita yang percaya dan takut akan Dia. Marilah kita hidup sebagai orang-orang yang senantiasa merasakan dan menikmati kecukupan kasih karunia Tuhan di dalam hidup kita, baik di dalam suka maupun di dalam duka. Kiranya Tuhan senantiasa memimpin, menyertai dan memberkati kehidupan kita. Amin.


Pokok Doa Khusus:
1.       Berdoa bagi perjalanan pemerintahan di Indonesia sejak masa transisi kepemimpinan nasional saat ini sampai dengan seterusnya. Biarlah kiranya Tuhan yang senantiasa memimpin, menyertai dan memberkati.
2.       Berdoa bagi Palestina.
Berdoa bagi para korban pesawat MH 17 dan sejenisnya, terutama bagi keluarga yang sedang berduka. Biarlah kiranya Tuhan yang memberi penghiburan, penguatan dan peneguhan.

Sabtu, 12 Juli 2014

MENJADI ORANG-ORANG MUDA YANG PATUT DITINGGIKAN (1 Timotius 4:1-16)

                              
Nats ayat 12: Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

                Saudara-saudara kaum muda yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kita baru saja melalui masa dan momentum pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden pada tanggal 9 Juli 2014 yang lalu. Bersyukur bahwa sekalipun mungkin ada kekurangan di sana-sini tetapi pemilu itu bisa kita jalankan dengan baik. Baiklah kita berdoa bahwa setelah momentum pilpres yang kita lalui bersama, maka tidak akan terjadi kerusuhan-kerusuhan yang berarti sebagaimana isu-isu yang dikabarkan melalui media-media sosial yang pasti dapat kita amati bersama. Baiklah kita berharap dan berdoa kepada Tuhan agar Dia sendirilah yang memberikan rasa aman dan damai di dalam hati setiap simpatisan pendukung masing-masing calon sehingga tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki niat dan upaya untuk menyulut kerusuhan yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan keseharian setiap kita sebagai warga bangsa. Baiklah kita berdoa agar kerukunan dan ketentraman hidup bersama dapat kembali tercipta dan terbina setelah momentum pilpres 2014 sudah boleh kita lalui.
                Saudara-saudara, kalau saya menyampaikan akan pesan sekaligus doa akan hal itu di mimbar yang kudus ini, maka sesungguhnya saya tidak sedang menyampaikan orasi politik. Tetapi bagi saya dorongan dan doa yang positif terhadap situasi stabilitas bangsa dan negara Indonesia pasca pilpres merupakan kebutuhan sekaligus keinginan kita bersama. Oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk secara bersama-sama mewujudnyatakannya.
                Satu hal yang menarik yang saya mau ajak kita sekalian melihat dan merenungkannya adalah melalui pertanyaan ini: Menurut saudara-saudara, apakah kira-kira yang orang akan lihat dan pertimbangkan sehingga mereka akan memilih dan menentukan pilihan atas satu figur untuk menjadi calon pemimpin yang ideal menurut mereka? Yang pasti yang utama mereka akan melihat dari bobot dan kapasitas yang dimiliki oleh masing-masing calon. Kemudian mereka akan melihat juga rekam jejak calon yang akan mereka pilih. Baru yang terakhir mungkin tampilan fisik calon pemimpin tersebut. Jadi jelas bahwa di dalam alam reformasi dan demokrasi seperti sekarang ini tampilan fisik bukanlah segala-galanya untuk dijadikan sebagai tolak ukur kepemimpinan. Lalu bagaimana dengan usia sang calon pemimpin? Dengan kemenangan Jokowi yang berdasarkan hasil survei sementara dari lembaga survei berhasil mengungguli Prabowo yang usianya sudah jauh lebih tua darinya maka sudah jelas bahwa rakyat Indonesia menginginkan pemimpin muda yang dapat membawa perubahan positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Menarik karena tema kita saat ini adalah menjadi orang-orang muda yang patut ditinggikan.
                Saudara-saudara, kalau kita melihat pada rentetan pemimpin-pemimpin nasional kita dari pertama sampai sekarang, kita dapat pastikan bahwa jika Jokowi benar-benar ditetapkan secara resmi oleh KPU sebagai presiden terpilih, maka dialah presiden termuda sepanjang sejarah perjalanan Bangsa Indonesia. Kenapa dia dipilih? Sekali lagi karena dia memiliki bobot dan rekam jejak yang baik sehingga rakyat menilai bahwa dia patut diposisikan dalam jabatan yang tinggi sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
                Bagaimana dengan kita saudara-saudara? Bukankah di dalam nats bagian bacaan kita dengan jelas diungkapkan bahwa jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadi sesungguhnya Allah sangat mengapresiasi keberadaan orang-orang muda sebagai pemimpin yang hidup termasuk di kalangan orang-orang percaya. Bahkan kalau kita lihat Paulus sendiri sebagai rasul yang pernah berkiprah di Jemaat Timotius dan yang dikenal sebagai penulis surat-surat Paulus kepada jemaat-jemaat yang pernah ia layani, memang kita tidak dapat memastikan pada usia berapa Paulus ditetapkan sebagai rasul Kristus karena Alkitab sendiri tidak mencatat dengan pasti usia tersebut. Tapi kalau kita mau melihat sedari awal peristiwa perjumpaan Paulus dengan Kristus di kota Damsyik atau Damaskus, maka kita tahu bahwa Paulus yang dulunya Saulus itu sebelumnya adalah seorang yang gagah berani dalam mengejar dan membinasakan orang-orang percaya. Betapa digambarkan bahwa Saulus adalah seorang yang sangat berwibawa dan smart termasuk dengan pengetahuan agamawinya yang sangat tinggi. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh di kalangan orang-orang Romawi kala itu. Maka saya pribadi membayangkan bahwa Paulus yang dahulu bernama Saulus itu sangat mungkin bukanlah seorang yang digambarkan sebagai orang dengan usia tua melainkan bisa jadi digambarkan sebagai seorang yang muda belia yang penuh wibawa. Paling tidak semangat dan antosiasmenya dapat disamakan dengan semangat dan antosiasme orang-orang muda. Pun kalau kita mau melihat tokoh-tokoh Alkitab lain, sebut saja Daud, maka Allah menetapkan Daud sebagai raja dalam usia yang sangat muda. Dalam 1 Samuel 17:42 digambarkan dengan jelas bagaimana Daud masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Saat itu orang Filistin menghinanya karena menganggap ia masih muda. Tetapi Allah tetap memakainya sebagai alat di tangan Tuhan. Dan Allah membuktikan bagaimana Daud pada akhirnya dapat mengalahkan orang-orang Filistin itu.
                Tidak hanya itu saudara-saudara. Bahkan Yesus Kristus sendiri memulai debutnya sebagai Nabi pada usia 30 tahun. Sebuah usia yang masih sangat muda. Sejauh yang saya pahami mengenai pertanyaan kenapa Yesus baru memulai debutnya pada usia tersebut adalah karena usia 30 tahun itulah yang dianggap sebagai usia minimal atau ideal bagi seorang pemimpin atau seorang nabi untuk memulai karyanya di kalangan masyarakat menurut tradisi Yahudi. Jadi jelas bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat menghargai tradisi dan tata nilai keteraturan masyarakat.
                Saya ingin mengulang sekali lagi pernyataan ini. Bahwa Allah sangat mengapresiasi keberadaan orang-orang muda sebagai pemimpin termasuk di tengah kehidupan orang percaya. Bukti yang paling jelas yang ada di dalam bagian bacaan kita adalah Timotius. Sesungguhnya nats bagian bacaan kita ini muncul tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meneguhkan diri Timotius dalam menjalankan tugasnya menghadapi para pengajar sesat di Jemaat Efesus, dimana digambarkan dalam jemaat tersebut akan adanya orang yang murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. Adanya tipu daya pendusta-pendusta. Adanya larangan kawin dan adanya larangan untuk memakan makanan yang diciptakan Allah dengan ucapan syukur.
                Saudara-saudara, itulah hal-hal yang dihadapi Timotius kala itu dalam pelayanannya di Jemaat Efesus. Sebuah hal yang tidak ringan dan membutuhkan tanggung jawab besar. Oleh karena itu Paulus ingin agar Timotius berdiri teguh dan jangan goyah dalam melaksanakan tugasnya sekalipun ia masih muda. Paulus sangat memahami bahwa Tuhan bisa memakai siapa pun untuk menjadi alat-Nya bahkan sekalipun ia masih muda. Oleh karena itu Paulus dengan tegas mengatakan bahwa jangan ada seorang pun yang menganggap engkau rendah karena engkau muda. Dengan demikian berarti orang muda pun dapat menjadi seorang yang berbobot dan patut ditinggikan. Apa kuncinya untuk menjadi orang muda yang berbobot dan patut ditinggikan itu? Kata kuncinya adalah hidup berpadanan dengan Kristus dan kebenaran-Nya. Berpikir, merasa dan bertindak seturut dengan pikiran, hati dan tindakan Kristus (bdk.Filipi 2:5). Ketika kita dimampukan Tuhan untuk mencapai akan hal itu maka lebih jauh lagi Tuhan ingin agar kita menjadi teladan hidup orang percaya, baik dalam perkataan kita, tingkah laku kita, kasih kita, kesetiaan kita maupun kesucian kita. Hal ini bukanlah hal yang ringan. Apalagi ketika kita menyadari bahwa Roh memang penurut tetapi daging lemah. Oleh karena itu kita perlu terus bergantung pada Tuhan sebagai pokok anggur yang benar agar kita dapat terus berbuah lebat di dalam kebenaran. Kita perlu terus meminta agar Tuhan memampukan kita agar kita dapat menjadi agen-agen kebenaran. Kita perlu terus meminta agar Tuhan memimpin hidup kita sehingga kita siap untuk menjadi orang yang dipimpin untuk memimpin. Jelas kata ditinggikan berarti hal itu bukan semata-mata hasil usaha kita sendiri melainkan Allahlah yang memampukan kita. Jika kita ingin menjadi orang-orang muda yang layak ditinggikan maka latihlah diri kita bukan hanya dengan latihan badani yang terbatas gunanya melainkan dengan kerajinan dan ketekunan kita beribadah dan merenungkan Firman Tuhan. Karena Firman Tuhan senantiasa berguna untuk membangun. Firman Tuhan adalah dasar dan fondasi dari rumah yang kokoh yang dibangun di atas batu dan bukan di atas pasir. Jangan pernah melupakan dan meninggalkan Tuhan dan Firman-Nya. Tentu pesan yang terdapat dalam nats bagian bacaan kita saat ini bukan hanya diperuntukkan bagi Timotius tetapi juga bagi kita sekalian yang hadir dalam ibadah saat ini. Kiranya Tuhan senantiasa memampukan kita untuk menjadi orang-orang muda yang sedia dipimpin untuk memimpin sehingga kita dapat mencapai taraf dimana kita dimampukan untuk menjadi orang-orang muda yang patut ditinggikan dalam pola kepemimpinan yang kita terapkan di dalam hidup ini. Ingatlah senantiasa bahwa setiap kita adalah pemimpin. Paling tidak setiap kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri. Pun setiap kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Oleh karena itu awasilah dirimu sendiri. Awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu. Karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu sendiri dan semua orang yang mendengar engkau. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.



Pokok doa khusus: Berdoa untuk Palestina.

Minggu, 22 Juni 2014

ROH KUDUS MEMERDEKAKAN DAN MENGHIDUPKAN (2 KORINTUS 3:1-18)

                                              

                Saudara-saudara, ketika kita mendengar kata kerja “memerdekakan,” maka kita pasti akan langsung teringat dengan kata yang mendasarinya yaitu “merdeka.” Kalau kita mau mengingat kepada masa-masa perjuangan  meraih kemerdekaan Indonesia dulu maka kita pasti akan teringat juga dengan semboyan yang pernah ada saat itu yaitu “merdeka atau mati.” Dengan ungkapan ini secara kasat mata kita dapat melihat bahwa hidup para pejuang kala itu hanya ada dalam dua pilihan. Merdeka berarti selamat, bebas dari kungkungan penjajahan dan pasti akan beroleh hidup. Sementara mati berarti benar-benar bebas dari kehidupan dunia ini dan kembali ke hadapan Sang Pencipta. Tentu sebagai orang percaya kita yakin dan percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya melainkan awal dari kehidupan baru bersama dengan Tuhan dalam kekekalan yang sejati. Tapi tentu kalau kita membayangkan konteks pejuang kala itu, maka yang menjadi cita-cita mereka adalah merdeka dan bukan mati. Karena dengan merdeka berarti kemenangan, keselamatan, kebebasan dari penjajahan dan tentunya hidup yang berhakikat itu sendiri dapat diraih. Dan yang jelas sekali lagi saya tekankan bahwa kemerdekaan yang kita raih butuh perjuangan bahkan tetes darah, keringat bahkan nyawa dari para pejuang kebangsaan kita. Makanya sampai sekarang di setiap upacara bendera selalu ada bagian mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan. Pun di dalam salah satu lagu kebangsaan kita selalu diingatkan bahwa hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan, demikian adanya, dan seterusnya.
                Saudara-saudara, di minggu sore hari ini saya mengajak saudara-saudara untuk merenungkan melalui bagian bacaan kita 2 Korintus 3:1-18 tentang sebuah tema yaitu Roh Kudus memerdekakan dan menghidupkan. Kalau kita perhatikan dengan seksama tema ini maka kata memerdekakan di belakang kata Roh Kudus menunjukkan bahwa inisiatif pemerdekaan kita dari dosa dan maut semata-mata berasal dari Allah melalui Yesus Kristus dan peran Roh Kudus. Semua adalah karena pemberian dan anugerah Allah. Oleh karena itu Alkitab dengan tegas mengatakan jangan ada yang memegahkan diri karena semua bukan hasil usaha kita melainkan pemberian Allah. Namun apakah dengan konteks dan konsep bahwa semua adalah pemberian Allah, berarti Tuhan hanya ingin kita pasif saja? Ternyata tidak saudara-saudara. Tuhan memanggil kita untuk menjadi bagian dari persekutuan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Ia rindu menanamkan iman percaya di dalam hati kita. Dan Ia rindu agar kita mau meresponi dengan sepenuh kesadaran, kerinduan kita kepada Tuhan serta kedewasaan kita panggilan Tuhan atas kita untuk menjadi orang-orang percaya, dimana kita benar-benar percaya dan mengaku secara pribadi serta menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan juruselamat di dalam kehidupan kita. Secara faktual dalam kehidupan bergereja hal itu ditandai dengan memberi diri dibaptis, menjadi bagian dari satu keanggotaan gerejawi dan mengambil bagian dalam pelayanan gerejawi dimana kita berada dan ditempatka n Tuhan di dalam jemaat-Nya yang kudus. Bahkan lebih dalam lagi memelihara hidup kudus dalam pimpinan, tuntunan dan pemeliharaan Tuhan karena kita adalah umat gembalaan-Nya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Sebagaimana kata qadosy sendiri bermakna dipisahkan dari yang lain. Atau dengan kata lain dikhususkan menjadi umat Allah yang kudus. Kita yang seharusnya menerima hukuman dosa yang adalah maut itu telah dipilih dan ditetapkan Allah melalui Yesus Kristus dan peran Roh Kudus untuk diangkat menjadi anak-anak Allah dan memperoleh bagian sebagai warga Kerajaan  Allah. Makanya kita seringkali dikatakan sebasgai warga Kerajaan Allah yang ditempatkan Tuhan di tengah dunia ini. Karena memang menurut janji Allah maka kewargaan kita bukanlah warga dunia ini melainkan warga Kerajaan Sorga. Modalnya hanyalah percaya karena kita diselamatkan karena iman.
                Tapi yang menjadi persoalan kemudian adalah apakah percaya saja cukup? Ternyata tidak juga saudara-saudara. Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa kita perlu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Dalam ungkapan Yesus Kristus kepada para murid di Taman Getsemani, Ia dengan tegas berkata: berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan. Ternyata kita perlu berdoa dan bekerja saudara-saudara. Jadi dengan kata lain, antara berdoa dengan bekerja haruslah seimbang. Dan untuk setiap pekerjaan yang kita lakukan yang tentunya kesemuanya itu adalah untuk mempermuliakan nama Tuhan kita perlu melandasinya dengan doa. Karena melalui doa kita sedang meminta pimpinan Tuhan. Melalui doa kita sedang meminta tuntunan Roh Kudus agar melalui pekerjaan yang kita lakukan maka kita dapat mempermuliakan Tuhan.
                Kalau kita mau kembali kepada bagian bacaan kita saudara-saudara, di situ akan dengan jelas kita temukan tentang peran Roh Kudus sebagai pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yang tidak lain adalah Allah sendiri yang memerdekakan dan menghidupkan. Tentu kita sudah sama-sama tahu bahwa kemerdekaan dan keselamatan yang kita raih sebagai anugerah dari Tuhan itu diwujudnyatakan melalui karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus, yaitu melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dan hingga kini kita pun sudah sama-sama tahu bahwa Yesus Kristus telah naik ke Sorga dan telah kembali duduk di sebelah kanan Allah BAPA sebelum nantinya akan kembali sebagai hakim yang adil untuk yang kedua kali. Dan kita juga sudah sama-sama tahu bahwa sebelum kenaikan-Nya ke Sorga, Kristus menjanjikan penolong yang lain yaitu Roh Kudus yang adalah Allah sendiri yang akan terus menyertai kehidupan para murid dan juga kehidupan kita sampai dengan saat ini bahkan sampai akhir zaman. Itulah janji-Nya yang dituliskan di dalam Alkitab dan yang dengan iman kita percaya bahwa hal itu pasti akan terjadi. Bahkan ketika kita sekarang sedang berada dalam momentum peringatan pentakosta, hendaknya kita semakin disadarkan tentang pentingnya peran Roh Kudus di dalam hidup kita. Ia yang menginsafkan kita akan dosa. Ia yang mengingatkan kita kepada Firman dan mengarahkan kita kepada kebenaran. Ia yang akan terus berupaya meluruskan jalan-jalan hidup kita sehingga kita dapat benar-benar menjadi orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan. Ia memimpin kita kepada hidup dan menjauhkan kita daripada kebinasaan. Bahkan Ia ada di dalam hati kita. Ia berperan melalui suara hati kita. Oleh karena itu kita perlu terus mengasah hati nurani kita supaya tidak menjadi tumpul melalui ketekunan kita dalam doa dan perenungan Firman Tuhan.
                Secara jelas ayat ke-17 dari 2 Korintus pasal 3 mengungkapkan dan mempersaksikan “Sebab Tuhan adalah Roh. Dan dimana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan...” Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kita masih perlu peran Roh Kudus untuk memerdekakan kita? Apakah karya penebusan Kristus tidak cukup menjadi jaminan bahwa kita telah dimerdekakan? Jawabannya adalah karena kita masih hidup di dalam dunia. Dan sebagai manusia yang masih punya kedagingan dibarengi dengan tawaran dunia yang beraneka ragam dan menggiurkan, maka kita masih perlu pimpinan dan tuntunan Roh Kudus agar kita tidak kembali terjerat di dalam dosa melainkan kita sungguh-sungguh dapat menjadi hamba kebenaran dan bukan hamba dosa. Kenapa demikian saudara? Karena Alkitab berkata bahwa iblis berkeliling. Ia mengaum seperti singa yang hendak memangsa dan menjerat manusia termasuk kita orang-orang percaya untuk kembali ditarik menjadi bagian dari kawanannya karena ia tidak mau masuk neraka sendirian. Kita juga perlu menyadari bahwa Roh memang penurut tetapi daging lemah. Itulah sebabnya kita butuh peran Roh Kudus yang memerdekakan dan menghidupkan. Bahkan kalau kita lihat di dalam bagian bacaan kita maka akan terlihat peran Roh Kudus yang menghidupkan pelayanan yang dilakukan oleh Paulus dan para pelayan perjanjian baru, khususnya di Jemaat Korintus. Bahkan peran Roh Kudus yang menghidupkan pelayanan itu terlihat nyata melalui gambaran Jemaat Korintus yang digambarkan oleh Paulus di dalam ayat yang ke-3 dimana mereka disebut sebagai surat Kristus. Artinya di sini mereka adalah jemaat yang menyukakan hati Tuhan. Dengan kata lain mereka telah menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh lahir baru. Dilahirkan kembali menurut Roh dan bukan sekedar menurut hukum-hukum tertulis. Bahkan Paulus menekankan tentang hal ini di dalam ayat yang ke-6, bahwa hukum tertulis itu mematikan tetapi Roh menghidupkan. Apakah itu berarti hukum menjadi tidak berguna? Tentu saja tidak saudara-saudara. Karena Alkitab sendiri mempersaksikan bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum taurat tetapi untuk memperbaharuinya. Hal ini mau menggambarkan bahwa di mata Tuhan dan di tangan Tuhan, hukum tidak lagi menjadi sesuatu yang kaku, yang hanya berisi aturan-aturan yang baku tanpa nilai fleksibilitas sama sekali. Sebut saja contoh mengenai hukum hari Sabat. Para guru Yahudi secara sah dan meyakinkan mengatakan bahwa setiap orang tanpa terkecuali tidak boleh mengerjakan apapun di hari sabat. Tapi Yesus Kristus mendobrak akan hal itu dan berupaya melakukan pembaharuan atasnya. Satu hal yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa hukum yang terutama adalah hukum kasih sebagaimana telah diajarkan-Nya kepada kita. Kasihilah Tuhan Allahmu, kasihilah sesamamu manusia dan bahkan kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena Allah sendiri adalah kasih. Barangsiapa tinggal di dalam kasih, maka ia tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
                Kalau kita mau melihat contoh tentang cara hidup jemaat yang pertama dalam Kisah Para Rasul pasal yang kedua, maka di sana akan sangat terlihat dimana masing-masing anggota jemaat saling mengasihi. Pun mereka hidup dalam pimpinan dan penyertaan Roh Kudus, sehingga hasilnya pun tampak nyata bahwa mereka tidak hanya bertumbuh secara kualitas melainkan juga kuantitas dimana jumlah mereka terus ditambahkan oleh Tuhan dari hari ke sehari.
                Saudara-saudara, bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita sungguh-sungguh meyakini bahwa Roh Kudus sungguh-sungguh berperan di dalam hidup kita? Bahkan juga di dalam pelayanan yang sedang kita kembangkan saat ini? Apakah kita sungguh-sungguh meyakini bahwa Roh Kudus adalah Roh yang akan senantiasa memerdekakan dan menghidupkan? Jika ya, marilah kita sama-sama bertekad untuk sungguh-sungguh hidup di dalam Roh yang akan senantiasa memperbaharui diri dan hidup kita. Marilah kita terus berlatih bukan hanya dengan latihan badani yang terbatas gunanya tetapi juga melalui ketekunan kita dalam ibadah kita dan persekutuan kita dengan Tuhan, pun dengan sesama orang percaya. Dari sanalah kita akan dapat senantiasa merasakan dan mengalami kekuatan Roh Kudus yang memerdekakan dan menghidupkan. Kiranya Tuhan melalui Roh Kudus-Nya senantiasa memimpin, menyertai dan memberkati kita sekalian. Amin.



Sabtu, 14 Juni 2014

HIDUP DENGAN KEKUATAN ROH KUDUS (1 Tesalonika 1:2-10; Matius 26:41)

                                                              
                Saudara-saudara, sungguh merupakan sebuah kebahagiaan besar bahwa kita sudah boleh melalui dengan indah masa peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Sorga dan kini kita boleh berada di masa-masa peringatan turunnya Roh Kudus atau yang biasa kita kenal dengan istilah Pentakosta. Sebuah masa dimana Roh Kudus dicurahkan ke dalam diri para murid Yesus sebagai bukti penggenapan janji Yesus Kristus bahwa Dia akan menyediakan penolong yang lain yaitu Roh Kudus yang merupakan pribadi ketiga dari Allah Tritunggal dan yang adalah Allah sendiri. Dengan demikian nyatalah bahwa penyertaan Allah tak pernah berkesudahan. Saudara-saudara bisa perhatikan pernyataan ini: “Penyertaan Allah tidak pernah berkesudahan.” Dalam konteks pencurahan Roh Kudus maka penyertaan Allah dinyatakan melalui karya dan kekuatan Roh Kudus di dalam hidup para murid bahkan di dalam hidup setiap kita sampai dengan saat ini. Kemudian akan muncul pertanyaan paling mendasar. Kenapa kita memerlukan penyertaan dan bahkan kekuatan Roh Kudus di dalam hidup kita? Apakah kita sebagai manusia adalah sosok yang begitu lemah sehingga kita membutuhkan Roh Kudus yang tidak lain adalah pribadi Allah sendiri yang menyertai dan terus akan menguatkan dan meneguhkan kita? Injil Matius 26:41 dengan tegas mengungkapkan kebenaran fakta tentang manusia, yaitu bahwa Roh memang penurut tetapi daging lemah. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah Roh siapa yang dikatakan penurut itu? Kalau kita berbicara mengenai daging yang lemah, maka kita bisa dengan cepat mengetahui bahwa daging yang dimaksud adalah kemanusiawian kita. Dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Dosa telah membuat hubungan antara manusia dengan Allah menjadi terputus. Kehilangan kemuliaan Allah yang dialami oleh manusia telah membuat gambar dan keberadaan diri manusia berubah seketika. Dari oknum yang dipercaya penuh oleh Allah bahwa manusia akan dapat memenuhi seluruh mandat Allah kepadanya menjadi oknum yang tidak seratus persen bisa dipercaya. Dengan kata lain ada kecenderungan untuk tidak bisa dipercaya. Dengan demikian manusia tidak selamanya bisa dipercaya untuk berada di jalur atau koridor yang baik dan benar. Manusia bisa salah jalan. Manusia bisa salah langkah. Dan gambaran yang paling jelas di dalam Alkitab yang menunjukkan saat-saat dimana manusia salah dalam memilih jalan dan langkah dengan kehendak bebasnya adalah ketika Adam dan Hawa lebih memilih untuk melakukan pembiaran ketika dirinya diperdaya iblis untuk memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang sesungguhnya Allah melarang mereka untuk memakannya ketimbang mematuhi dan menaati mandat Allah. Dosa menjadikan manusia menjadi cemar dan lemah karena manusia sudah kehilangan kemuliaan Allah. Bahkan manusia memiliki kecenderungan untuk acap kali dikuasai hawa nafsu yang tidak jarang berujung pada nafsu jahat. Kehilangan kemuliaan Allah dan putusnya hubungan antara manusia dengan Allah menjadikan manusia memiliki kecenderungan memberontak dan melepaskan diri dari kontrol Allah dan dengan demikian manusia lebih cenderung untuk mengandalkan kekuatannya sendiri tanpa mau menghiraukan bahwa dirinya yang sesungguhnya lemah itu membutuhkan kekuatan Allah yang Maha Kuat. Dengan demikian nyatalah bagi kita bahwa Roh yang penurut yang dimaksudkan di dalam Alkitab menunjuk kepada Roh Kudus yang ditinggalkan Allah bagi kita. Yang bersemayam di dalam hati dan pikiran kita. Persoalannya bagi kita adalah kita seringkali melupakan bahwa ada peran Roh Kudus dalam segenap kehidupan kita. Ada peran Roh Kudus dalam segenap langkah hidup kita. Dan oleh karena itu kita perlu mengakui segenap kelemahan kita di hadapan Tuhan. Dan kita perlu memohon curahan Roh Kudus yang akan senantiasa menuntun, menguatkan dan meneguhkan langkah hidup kita. Karena di dalam hidup ini tidak selalu hanya akan ada matahari tanpa ada hujan dan badai. Tapi dengan kekuatan Roh Kudus kita dimampukan Tuhan untuk melewati berbagai badai kehidupan yang ada di dalam hidup kita. Kuncinya adalah kita perlu terus beriman dan berpengharapan kepada Tuhan, karena Alkitab berkata dengan iman sebesar biji sesawi pun kita dapat memindahkan gunung. Gunung yang dimaksud adalah gunung persoalan kehidupan kita, gunung kegundahan, gunung ketidakdamaian dan ketidaksejahteraan. Dengan kata lain masalah dan pergumulan boleh datang silih berganti. Tetapi kita boleh beroleh kepastian bahwa di dalam Tuhan kita cakap menanggung segala perkara.

                Mengungkapkan akan hal ini begitu mudah saudara-saudara. Tapi dalam pelaksanaannya tidak semudah itu. Sebagai manusia, apalagi yang hidup di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya kita acap kali terjebak dengan mobilitas kehidupan kita. Hal itu membuat kita acap kali tidak punya waktu dan tidak terbiasa untuk berpikir dan berdiam diri. Bertanya pada Tuhan dan meminta pimpinan Roh Kudus tentang berbagai hal yang akan kita lakukan. Dan bertanya pada Tuhan akan perkenana n Tuhan atas apa yang hendak kita lakukan. Tidak jarang kekurangan waktu dan ketidakterbiasaan kita untuk merenung dan berdiam diri di hadapan Tuhan itu menjadikan kita salah jalan, salah langkah dan salah persepsi. Tidak jarang kesalahan yang kita lakukan mendukakan hati sesama kita bahkan lebih jauh lagi mendukakan hati Tuhan. Ketika kita sungguh-sungguh menyadari bahwa peran Roh Kudus adalah menginsafkan orang akan dosa dan Firman Tuhan sebagaimana tercatat juga di dalam surat 1 Tesalonika 1:5, maka sudah barang tentu kita akan berkata bahwa kita perlu peran Roh Kudus di dalam hidup kita. Kita perlu kekuatan Roh Kudus yang akan terus menguatkan dan meneguhkan langkah hidup kita, terutama ketika kita menjadi lemah di dalam kemanusiawian kita. Kita sepatutnya senantiasa bersyukur bahwa Tuhan menempatkan Roh Kudus-Nya di dalam hati kita. Dia berperan melalui suara hati kita senantiasa. Suara hati yang senantiasa menegur dan mengarahkan kita kepada kebenaran. Oleh karena itu kita perlu terus mengasah suara hati kita agar tidak menjadi tumpul. Kita perlu terus bertekun dalam doa dan kebenaran Firman Tuhan, baik dalam perenungan dan permenungan kita secara pribadi maupun dalam persekutuan orang percaya. Kiranya Tuhan senantiasa menguatkan dan meneguhkan langkah hidup kita melalui Roh Kudus-Nya yang akan senantiasa menolong kita. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Sabtu, 24 Mei 2014

MENJADI ORANG-ORANG YANG MENCARI TUHAN SANG SUMBER HIDUP (AMOS 5:4-6)



                Saudara-saudara, saya sangat percaya bahwa sebagai orang percaya kita sungguh-sungguh hidup dalam percaya bahwa semua hari yang dijadikan Tuhan adalah baik adanya. Namun bagi saya pribadi ada sebuah keistimewaan di minggu pagi hari ini, karena hari minggu ini adalah hari minggu paskah terakhir, dimana setelah ini kita akan sama-sama memasuki masa peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Sorga. Dan di minggu pagi hari yang istimewa ini dengan landasan bacaan Alkitab dari Amos 5:4-6 saya mengajak saudara-saudara merenungkan sebuah tema, yaitu: Menjadi Orang-Orang Yang Mencari Tuhan Sang Sumber Hidup. Kalau kita merenungkan secara seksama tema ini saudara-saudara, sangat mungkin akan muncul pertanyaan dalam benak kita: apa sebenarnya yang dimaksud dengan menjadi orang-orang yang mencari Tuhan? Bukankah Alkitab berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku melainkan Akulah yang memilih kamu.” Dengan pernyataan Yesus Kristus ini bukankah sudah jelas bahwa inisiatifnya bukan datang dari manusia melainkan dari Tuhan sendiri? Dengan kata lain bukankah Tuhan datang ke tengah dunia ini untuk mencari kita orang-orang yang berdosa untuk diselamatkan? Tetapi kenapa tema ini justru menunjukkan sebuah kontradiktif? Kalau sekali lagi kita boleh bertanya dan mempertegas pertanyaan kita, maka pertanyaan itu akan terlontar lagi dari mulut kita: apa sesungguhnya yang dimaksud dengan menjadi orang-orang yang mencari Tuhan Sang Sumber Hidup? Dan kenapa kita harus mencari Dia setelah Dia lebih dulu mencari dan menemukan kita? Dan bahkan Dia yang telah memilih dan menetapkan kita menjadi anak-anak-Nya dan menjadi bagian dari warga Kerajaan Allah.
                Saudara-saudara, memang benar bahwa ketika kita masih berdosa dan dengan demikian kita masih menjadi seteru Allah, maka inisiatif pendamaian itu datang dari Allah, sehingga Dia mengutus Anak-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus yang adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia itu untuk menjalankan misi penyelamatan Allah atas umat manusia dan terutama atas orang-orang percaya. Saudara-saudara bisa perhatikan di sini bahwa misi penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus memiliki dua nilai. Yang pertama adalah nilai universalitas, dimana Allah ingin menunjukkan kasih-Nya kepada seluruh umat manusia ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Sebagaimana juga dinyatakan di dalam kesaksian Injil Yohanes 3:16 dimana di sana dikatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini...” Saudara-saudara bisa perhatikan penekanan nilai universalitas kasih Allah dalam ungkapan “akan dunia ini.” Tapi ternyata poinnya tidak berhenti sampai di situ. Allah juga menghendaki agar orang-orang yang telah ditebus dan diselamatkan itu menjadi percaya kepada-Nya dan menjadikan Dia Tuhan atas mereka secara pribadi maupun sebagai komunitas orang percaya. Sehingga menjadi percaya memiliki nilai impartansi yang sangat tinggi. Karena mereka yang menjadi percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan akan beroleh hidup yang kekal.
                Yang menjadi persoalan dan pertanyaan kemudian adalah apakah dengan menjadi percaya kemudian sudah cukup bagi kita untuk memperoleh jaminan keselamatan dan hidup kekal? Memang Alkitab berkata bahwa kita diselamatkan karena iman. Dalam pemaparan yang lebih detail lagi kata iman mau menunjukkan tentang percaya, Dengan kata lain kita diselamatkan karena iman percaya kita kepada Tuhan. Tetapi saudara-saudara, ada satu hal yang perlu kita sadari bersama, bahwa beriman bukan hanya sebuah tindakan statis melainkan juga dinamis. Yang dimaksudkan di sini adalah kita harus berproses di dalam kehidupan keberimanan kita. Kita harus berproses bersama dengan Tuhan dan di dalam Tuhan dalam menjalani kehidupan keberimanan kita yang tentunya juga terwujud nyata di dalam kehidupan keseharian kita sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan di tengah keberadaan dunia dan sekitar kita. Ada hal yang harus kita lakukan. Ada hal yang harus kita perbuat untuk menunjukkan identitas keberimanan kita sehingga iman kita bukan menjadi iman yang mati melainkan menjadi iman yang hidup. Dan untuk menjaga agar iman kita tetap hidup, dimana dengan iman percaya kita maka kita dapat terus menjadi saksi Tuhan di tengah dunia, maka kita perlu terus mencari Tuhan. Mencari Tuhan di sini artinya adalah mencari kehendak-Nya atas hidup kita dan juga peran kita di tengah sesama kita. Bertekun di dalam Firman-Nya dan juga di dalam doa sebagai nafas hidup orang percaya. Melalui ketekunan kita di dalam doa dan Firman-Nya itulah kita jadi sungguh-sungguh tahu apa yang sesungguhnya Tuhan kehendaki untuk kita lakukan di dalam hidup kita. Baik itu yang menyangkut dengan diri kita pribadi, keluarga kita, teman dan sahabat kita maupun sesama kita siapapun itu yang kita jumpai di dalam hidup ini. Melalui ketekunan kita dalam mencari Tuhan itulah kita dapat menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh dimampukan Tuhan untuk menjalani kehidupan kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Melalui ketekunan kita mencari Tuhan itulah kita sungguh-sungguh diteguhkan Tuhan untuk dapat bersyukur di dalam segala keadaan hidup kita dan melihat penyertaan Tuhan nyata di dalam segala situasi kehidupan kita. Melalui ketekunan kita mencari Tuhan itulah maka Tuhan sendiri yang akan memampukan kita untuk dapat melihat nyatalah Imanuel, Tuhan beserta kita. Sekalipun Dia telah naik ke Sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, namun penyertaan-Nya tetap sempurna senantiasa di dalam kehidupan kita. Dia yang berjanji bahwa Aku akan menyertai kamu sampai selama-lamanya. Melalui ketekunan kita mencari Tuhan maka kita sungguh-sungguh dimampukan untuk bukan hanya percaya melainkan juga merasakan dan mengalami seluruh penggenapan janji dan kasih karunia Tuhan atas hidup kita. Dengan demikian kita pun dapat bersaksi dan berbagi kepada sesama kita, terutama bagi mereka yang belum percaya kepada-Nya. Selamat menjadi para pencari Tuhan di dalam sepanjang kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Selamat menjadi orang-orang yang mau diajar untuk mengajar. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.