Sabtu, 26 Desember 2015

KRISTUS ADALAH PEMBERI KELEGAAN

“Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu (Matius 11:28).” Mungkin banyak dari antara saudara para pembaca yang akan bertanya: “Apa menariknya tema ini? Bukankah kita semua sudah sama-sama tahu bahwa Dia adalah Sang Pencipta dan Sang Penolong? Jadi bukankah memang sudah sewajarnya Dia memberikan kepada setiap kita kelegaan sebagai wujud nyata pertolongan-Nya?” Ya, saudara, apa yang saudara pikirkan dan pertanyakan berdasarkan pergumulan saudara itu memang tidak keliru. Dia memang adalah Allah yang Maha kuasa, Maha Pencipta, Maha Besar, Maha rahim, Maha kasih, dan lain-lain. Bahkan berbagai gelar kemahaan Tuhan itu tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan siapakah Tuhan yang sesungguh-sungguhnya. Sebab Dia adalah Allah yang tidak terbatas sementara kita sebagai manusia ciptaan-Nya adalah tidak tak terbatas yang berarti penuh dengan keterbatasan. Jadi kita tidak akan pernah mungkin bisa dan sanggup untuk menggambarkan dan mendefinisikan Allah hanya sebatas pikiran dan perasaan kita semata karena Dia adalah Allah yang begitu luas dan dalam untuk dimengerti dan dipahami. Tapi di sisi lain Allah kita adalah Allah yang penuh tanggung jawab terhadap semua ciptaan-Nya, terlebih khusus terhadap kita manusia yang telah diciptakan serupa dan segambar dengan Dia. Atau dengan kata lain kita telah diciptakan menurut citra Allah (peta teladan Allah). Hal itu nyata terlihat sejak awal penciptaan. Dia bukanlah Allah yang mencipta lalu sekonyong-konyong meninggalkan ciptaan-Nya. Tetapi Dia adalah Allah pemelihara. Bahkan Dia memberi mandat kepada Adam dan Hawa untuk menguasai bumi dan menaklukkannya. Menguasai dan menaklukkan di sini bukan berarti sekedar mengeksploitasi semata tetapi juga memelihara keutuhan ciptaan, karena sesungguhnya segala ciptaan Tuhan yang dapat kita nikmati saat ini untuk mencukupi segala kebutuhan hidup kita bukanlah milik kita saat ini semata melainkan merupakan titipan dari anak cucu kita kelak, dimana mereka juga berbagian yang sama untuk dapat menikmati dan memelihara kekayaan alam ini dengan sebaik-baiknya untuk para keturunannya kelak. Begitu seterusnya. Bahkan bukan hanya itu saja saudara. Ketika manusia Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, demikianpun seluruh keturunannya telah menjadi berdosa, maka Allah tidak serta merta membinasakan manusia-manusia berdosa itu (termasuk kita), tetapi Dia justru menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih karunia. Dalam perjanjian lama seringkali digambarkan bahwa Allah mengampuni dosa umat-Nya melalui kurban penghapus dosa. Tetapi dalam perjanjian baru karya penyelamatan Allah menjadi sempurna melalui kelahiran Sang Bayi Yesus yang memang diutus Allah untuk melakukan karya penebusan dan penyelamatan terhadap semua umat manusia terutama orang-orang yang percaya kepada-Nya. Supaya barangsiapa percaya maka dia tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Inilah berita yang acap kali kita dengar dalam setiap perayaan natal. Dalam berbagai penggambaran berdasarkan uraian tersebut di atas itulah sesungguhnya sejak awal (khususnya sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa), Allah telah mengambil peran sebagai penanggung beban dan bahkan pemberi kelegaan. Bahkan tidak jarang tatkala Perjanjian Lama menggambarkan tentang Allah dalam perangai-Nya yang keras dan tegas, tetapi sesungguhnya Allah tetap adalah Allah yang Maha kasih. Bahkan Dia tidak berubah dari dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Karena memang Allah adalah kasih. Barangsiapa tinggal di dalam kasih, ia tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Perihal kasih Allah semakin dipertegas lagi di dalam perjanjian baru, dimana Kristus sendiri mengajarkan mengenai hukum kasih. Dalam hukum kasih itu kita diminta untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Kita juga diminta untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Bahkan kita juga diminta untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita. Sungguh tidak ringan. Tapi itulah maunya Tuhan atas kita, terutama bagi kita yang men gaku diri sebagai pengikut-Nya. Jelas Dia tidak sekonyong-konyong mengajarkan tentang kasih, karena Dia sendiri adalah kasih. Bahkan Dia menyatakan kasih-Nya dengan rela menjadi serupa dengan manusia dan hidup di antara manusia melalui diri Tuhan Yesus Kristus. Dia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai hal yang patut dipertahankan. Dia rela lahir di kandang yang hina dan berada di dalam palungan. Dia mengajar dari desa ke desa, pun dari kota ke kota tanpa pandang bulu. Dia memberitakan tentang pertobatan, keselamatan dan Kerajaan Allah kepada semua orang sekalipun ada banyak dari antara mereka yang menolak-Nya. Dia menyembuhkan banyak orang tanpa pandang bulu. Segala tindakan kasih Kristus itu dapat kita lihat kebenaran-Nya di dalam Alkitab, Firman Allah. Bahkan Dia sendiri adalah Firman yang telah menjadi manusia. Dia adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia. Dalam keberadaan-Nya sebagai Allah maka Dia dengan rela menanggalkan segala kehormatan keilahian-Nya untuk turun ke dalam dunia yang fana demi terwujudnya karya penyelamatan Allah atas umat manusia. Dalam keberadaan-Nya sebagai manusia Dia rela untuk taat bahkan taat sampai mati di kayu salib. Dan kini Dia telah menjadi Kristus Victor. Dia adalah Kristus yang menang atas dosa dan maut ketika Dia bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Pun kini Dia telah naik ke Sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Pun keberadaan-Nya di Sorga adalah untuk menyediakan tempat bagi kita dalam kekekalan bersama-Nya. Berbagai pemberitaan Alkitab yang sedikit banyak telah diuraikan saat ini tentunya akan dapat memberi gambaran kepada kita bahwa Allah di dalam Kristus adalah pemberi kelegaan. Dia yang telah mengampuni dosa. Bahkan Dia yang telah menebus kita dari dosa dan maut dimana harga kita telah lunas dibayar. Pun Dia yang pasti akan memenuhi janji-Nya untuk menjemput kita kembali dan akan membawa kita ke dalam kebahagiaan kekal bersama-Nya. Masihkah kita ragu untuk percaya dan mempercayakan diri dan hidup kita kepada-Nya? Masihkah kita ragu untuk menyerahkan segala beban hidup yang menindih hidup kita kepada-Nya? Percayalah bahwa Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi. Tak akan pernah dibiarkan-Nya kita bergumul dan berjalan sendiri. Percayalah juga bahwa Dia akan ganti segala duka menjadi suka. Percayalah bahwa habis gelap terbitlah terang. Habis hujan tampaklah pelangi. Karena Tuhan Allah kita bukanlah Allah yang dengan rela hati melihat anak-anak manusia dipijak-pijak. Demikianpun Tuhan Allah kita bukanlah Allah yang dengan rela melihat anak-anak-Nya terus menerus berada dalam letih lesu dan beban berat, sehingga Dia dengan tegas berjanji bahwa barangsiapa datang kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Berimanlah teguh hanya kepada-Nya, karena Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Nyatakanlah iman, pengharapan dan kasih kita kepada Kristus semata. Jangan sekali-kali pun berpaling dari hadapan-Nya. Carilah Dia selama Ia berkenan untuk ditemui. Yakinlah bahwa tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolong. Gada-Nya dan tongkat-Nyalah yang akan selalu menghibur kita, karena Dia adalah Gembala Agung kita dan kita adalah umat gembalaan-Nya. Di Hari Natal ini marilah kita sama-sama menyambut Dia bukan lagi sebagai seorang bayi kecil dan mungil, melainkan sebagai Raja di atas segala raja. Raja di dalam hati, pikiran dan hidup kita, sampai Dia sungguh-sungguh datang kembali untuk yang kedua kali sebagai hakim yang adil atas segala ciptaan. Selamat Natal 2015 dan tahun baru 2016. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 29 November 2015

PERSIAPKAN & LURUSKANLAH JALAN BAGI TUHAN (MARKUS 1:1-8).

Saudara-saudara kekasih Kristus, sungguh menjadi sebuah kesukacitaan besar karena sesaat lagi kita akan masuk dalam peringatan dan perayaan natal, dimana kita akan memperingati dan merayakan hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Dan memang berdasarkan kesaksian Alkitab serta berdasarkan iman percaya kita kepada-Nya dan juga Firman-Nya, maka kita dapat menyatakan kepada diri kita sendiri maupun juga kepada semua orang. Kita dapat mempersaksikan secara tegas dan lugas bahwa kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus adalah kelahiran yang luar biasa. Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus adalah kelahiran yang spesial, karena sejak awal kelahiran-Nya telah dinubuatkan terlebih dahulu oleh para nabi sejak zaman Perjanjian Lama sampai dengan masa penggenapannya di Perjanjian Baru. Kita dapat melihat bukti nyata nubuatan tentang kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus itu diantaranya dalam pemberitaan mengenai tunggul Isai yang dapat kita lihat dalam Yesaya 11:1. Dalam judul perikopnya tertera jelas bahwa pemberitaan ini adalah mengenai Raja Damai yang akan datang. Kemudian juga kita dapat melihat di dalam Yesaya 9:6. Ayat itu dengan tegas menyatakan bahwa: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita. Seorang putera telah diberikan untuk kita. Lambang pemerintahan ada di atas bahunya. Dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Ketika saya perbandingkan ayat ini dengan terjemahan Alkitab bahasa sehari-hari, maka bentuk katanya adalah “akan.” Jadi jelas ini adalah sebuah nubuatan. Pun di dalam bagian bacaan kita Yohanes Pembaptis menegaskannya kembali. Dengan tegas dan lugas ia berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan! Luruskanlah jalan bagi-Nya!” Bahkan seruan tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ. Yohanes Pembaptis juga menyerukan demikian: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu.” Saudara-saudara, ketika Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun sebagaimana digambarkan dalam bagian bacaan kita, maka datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem. Dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di Sungai Yordan. Ada satu hal yang menarik saudara-saudara dalam ungkapan Yohanes Pembaptis di dalam bagian bacaan kita. Ia memberitakan bahwa sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku. Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Padahal kita ketahui bersama bahwa Yohanes Pembaptis juga merupakan seorang tokoh besar pada zamannya. Matius 11 ayatnya yang ke-11 pun menegaskannya. Dikatakan di sana bahwa Aku (Tuhan) berkata kepadamu: “Sesungguhnya diantara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis; namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripadanya.” Bayangkan saudara, Tuhan sendiri yang mengatakannya. Sebuah pengakuan yang sahih dari Tuhan tentang kebesaran Yohanes Pembaptis diantara segala tokoh lainnya di zaman itu. Tapi Yohanes Pembaptis tetap memiliki kesadaran penuh dan kerendahan hati. Dia sadar bahwa sudah seharusnya dan sudah semestinya Tuhan Yesus Kristus menjadi Tuhan yang Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah di dalam Yesus Kristus. Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Yohanes Pembaptis sangat sadar mengenai posisinya sebagai utusan Allah untuk melanjutkan nubuatan dan pemberitaan tentang kelahiran dan akan hadirnya Yesus Kristus Sang Mesias Juruselamat dunia. Maka dengan tegas, lugas dan lantang ia menyerukan: “Persiapkanlah jalan bagi Tuhan! Luruskanlah jalan bagi-Nya!” Dan saat ini seruan tersebut juga didengungkan kepada kita sekalian. Marilah kita persiapkan dan luruskan jalan bagi-Nya untuk sungguh-sungguh dapat memerintah di dalam hati, pikiran dan segenap hidup kita, karena Dia bukan lagi seorang bayi. Dia adalah Kristus Victor, Kristus yang telah menang atas dosa dan maut, Kristus yang adalah Raja di atas segala raja. Dialah Sang Juruselamat kita satu-satunya. Bahkan Dialah yang akan menjadikan kita pemenang bahkan lebih daripada pemenang. Masalah boleh ada. Cobaan dan penderitaan boleh datang silih berganti. Tapi kita boleh tetap yakin dan percaya bahwa Tuhan kita jauh lebih besar daripada segala masalah hidup kita. Bahkan Dia berkata dalam Firman-Nya bahwa ketika kita memiliki iman sebesar biji sesawi maka kita dapat memindahkan gunung. Itulah gunung persoalan dan permasalahan hidup kita. Yakin dan percayalah bahwa bersama Tuhan kita cakap menanggung segala perkara. Selamat memasuki minggu-minggu adven sesuai dengan kalender gerejawi. Selamat mempersiapkan diri menjelang natal. Selamat natal bagi kita sekalian. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

11 Ucapan Selamat

1. Selamat mengandalkan, mengasihi & melayani Tuhan. 2. Selamat Hari Minggu. 3. Selamat memasuki & menjalani minggu-minggu adven. 4. Selamat natal & tahun baru. 5. Selamat menjadi kaya: Karena orang kaya yang sesungguhnya adalah mereka yang mampu memberi dengan tulus dari kecukupan yang ada pada dirinya & bahkan dari kekurangannya (Markus 12:43-44). 6. Selamat move on (Filipi 3:13-14). 7. Selamat berbahagia & bersukacita (Filipi 4:4). 8. Selamat mengalami kasih & damai sejahtera Allah (Filipi 4:7). 9. Selamat mengucap syukur (1 Tesalonika 5:18). 10. Selamat & sukses. 11. Selamat HUT (tanggal & waktu menyesuaikan). Tuhan memberkati. Amin.

Minggu, 01 November 2015

TUHAN, PERGUMULAN DAN DOA

Dimanakah Tuhan? Mungkin banyak orang di luar sana akan bertanya: dimanakah Tuhan? Seperti apakah rupa Tuhan itu? Apakah Tuhan dapat terjangkau oleh kita manusia? Bukankah Tuhan itu adalah figur yang transenden dan imanen? Jika demikian bukankah itu berarti Tuhan tidak terlihat? Bukankah Tuhan adalah Roh atau Zat yang tidak berbentuk dan tidak berwujud? Salahkah pertanyaan-pertanyaan ini? Jika kita lihat secara kasat mata sepertinya memang tidak salah karena memang Tuhan memiliki sifat-sifat tersebut di atas. Dia adalah Roh. Dia adalah figur yang transenden dan imanen. Itu benar. Tetapi apakah dengan demikian Tuhan sama sekali tidak bisa kita jangkau? Kalau mungkin kita berupaya menjangkau-Nya dengan usaha kita sendiri pastilah tidak akan pernah bisa. Tetapi Firman Tuhan telah nyata bagi kita bahwa Tuhanlah yang pertama-tama berinisiatif mendekatkan diri-Nya dengan kita, karena Dia tahu pasti bahwa dosa telah membuat hubungan antara Tuhan dan manusia menjadi terputus, sehingga dengan demikian gelap (dosa) tidak akan bisa bercampur dengan terang (kekudusan Tuhan). Karena dosa Adam dan Hawa maka semua manusia keturunannya menanggung dosa turunan. Bahkan Alkitab memaparkan bahwa di dalam dosa aku dikandung ibuku. Dengan demikian tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang tidak berdosa. Kesadaran itulah yang membuat Tuhan lebih dulu berinisiatif mendekatkan dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Bahkan bukan hanya itu saja. Dia pun berinisiatif melaksanakan karya penebusan-Nya atas seluruh umat manusia dan terutama orang percaya agar mereka yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Kini, kita telah menerma penebusan itu. Kita telah ditebus dan harga kita telah lunas dibayar. Pun Dia telah memanggil dan memilih kita untuk menjadi bagian dari kumpulan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Bahkan Dia sendiri berkata bahwa imanmu telah menyelamatkan engkau. Dengan demikian kita dituntut untuk tidak berbuat dosa lagi. Kita dituntut untuk tidak lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan setia kepada hamba-hamba-Nya yang setiawan. Akan tiba waktunya Dia berkata kepada hamba-Nya yang setiawan: Masuklah! Ikutlah dalam kebahagiaan Tuanmu! Pun kepada mereka yang belum percaya, maka Tuhan memang datang bukan untuk mencari orang benar melainkan orang berdosa. Dia sungguh ingin agar domba-domba-Nya yang terhilang dapat dibawa-Nya kembali kepada-Nya. Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, kau yang sesat marilah. Oleh karena itu, jangan keraskan hatimu. Mari responi panggilan Tuhan atas kita untuk kita beroleh kebahagiaan dan hidup kekal bersama-Nya. Pun bagi setiap kita yang telah menjadi percaya, yakin dan percayalah bahwa Tuhan hanya sejauh doa. Karena Dia tinggal dan diam di dalam hati kita, sehingga kita bisa menyatakan segala keinginan dan pergumulan kita kepada-Nya dan di hadapan-Nya. Oleh karena itu teruslah bergumul dan berdoa. Jangan pernah lalai juga untuk terus berjaga-jaga agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Ora et labora; ora est labora. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 18 Oktober 2015

TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH (KELUARAN 20:1-17)

Nats: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (ayat ke-3). Saudara-saudara kekasih Kristus, berdasarkan bagian bacaan dan nats ini saya ingin mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema, yaitu: Tidak ada Tuhan selain Allah. Ya saudara, mungkin dan bahkan dapat dipastikan bahwa kita semua pernah mendengar kumandangan atas pernyataan ini. Paling tidak kita pasti pernah mendengarnya dalam kumandangan adzan magrib yang biasa disiarkan di televisi. Dalam Bahasa Arab ungkapan ini sering dikumandangkan dengan ungkapan la ilaha illallah. Apakah pernyataan ini salah? Tentu tidak saudara. Bahkan Alkitab kita pun menegaskannya. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jadi memang hanya Allah sajalah yang patut kita sembah, karena hanya Dialah satu-satunya Sang Khalik, Sang Pencipta yang menciptakan seluruh ciptaan dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Termasuk juga kita di dalamnya. Bahkan Kitab Kejadian pasal yang pertama juga menyebutkan dalam bahasa aslinya: Beresyit bara Ellohim et hasyamayim tohu wavohu... Pada mulanya Allah menciptakan... Dan sebelum dunia ini diciptakan maka semuanya masih berada dalam keadaan tohu wavohu yang berarti kekosongan tanpa bentuk. Dalam Alkitab terjemahan LAI disebutkan bahwa dunia belum berbentuk dan kosong. Maka secara logika sederhana saja kita semestinya sudah dapat menyimpulkan dan menyadari sepenuhnya bahwa sebagai ciptaan maka sudah barang tentu dan pasti kita harus menyembah kepada pencipta kita dan bukan kepada yang lain. Bahkan bagian bacaan kita lebih lanjut memaparkan juga tentang sebuah larangan, yaitu jangan membuat bagimu patung-patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya ataupun beribadah kepadanya. Perhatikan baik-baik ungkapan selanjutnya: Sebab Aku Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Tapi tidak juga berhenti sampai di situ. Lebih lanjut Allah mengungkapkan tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintah-Ku. Pertanyaan sederhana dilontarkan Tuhan kepada kita saat ini: Termasuk dalam golongan manakah kita? Apakah kita termasuk dalam golongan orang-orang yang membenci Allah? Ataukah kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mengasihi Allah dan senantiasa berpegang pada perintah-perintah-Nya? Secara gamblang bagian bacaan kita yang berisi tentang dasa titah memaparkan tentang hal-hal apa saja yang berkenan dan tidak berkenan dalam pandangan mata Tuhan untuk kita lakukan. Sudahkah kita mematuhinya dengan sepenuh hati? Atau kita masih menjadi orang-orang yang suam-suam kuku dalam mengikut Tuhan? Jika memang kita masih berada dalam taraf orang beriman yang suam-suam kuku, maka sekaranglah waktunya bagi kita untuk sungguh-sungguh mengalami kebangkitan di dalam Kristus, karena kebangkitan Kristus senantiasa mengisyaratkan juga tentang kebangkitan kita. Terlebih ketika kita sudah ditebus dan harga kita telah lunas dibayar. Marilah kita bersama-sama bangkit dalam iman dan kebenaran-Nya, karena kita memang diselamatkan karena iman, sehingga kita tidak boleh sekalipun meninggalkan iman kita kepada-Nya. Karena hanya Dialah, Kristus yang merupakan jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Marilah juga dengan iman kita nyatakan kasih sebagai tindakan dalam kebenaran, karena memang hukum yang utama dan terutama yang diajarkan oleh Kristus kepada kita semua adalah hukum kasih, dimana kita diminta untuk mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Kita pun diminta untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dan kita juga diminta untuk mengasihi musuh kita serta berdoa bagi orang yang menganiaya kita. Saudara, hidup kristen memang tidak ringan. Terlebih kalau memang kita sungguh-sungguh menjalaninya dan bukan sekedar beragama, karena kristen memang bukanlah sebuah agama melainkan pola hidup, dimana kita diminta untuk meneladani Kristus di dalam hidup kita. Dimana kita diminta untuk menjadi semakin serupa dengan Dia. Dalam hal ini pasti kita akan banyak menemukan tantangan dan pergumulan. Bahkan tidak jarang juga penolakan, penderitaan dan penganiayaan. Tetapi berdirilah teguh dan jangan goyah. Tetaplah kerjakan keselamatanmu, kata Firman Tuhan. Karena memang iman bertumbuh dalam penganiayaan dan dalam pembacaan Kitab Suci. Sebagai orang percaya kita diminta untuk tahan menderita. Bahkan kita diminta untuk menjadikan penderitaan Kristus sebagai teladan. Sekali lagi, hidup kristen memang tidak mudah. Bahkan di dalam menjalani hidup meneladani Kristus pun ada kalanya kita mengalami jatuh bangun. Tapi yakin dan percayalah bahwa jalan hidup orang benar diterangi oleh cahya Firman Tuhan. Jalan hidup orang benar semakin terang hingga remang tengah hari. Apabila ia jatuh tidakkan dibiarkan sampai tergeletak. Sbab tangan Tuhan jua yang menopangnya dan membangunkan dia kembali. Yang terpenting bagi kita ialah jangan sekali-kalipun kita meninggalkan Tuhan atau membelakangi Dia, karena Dia pun adalah Tuhan yang tidak pernah sedetik pun meninggalkan atau membelakangi kita. Dia adalah Tuhan yang senantiasa memberkati dan melindungi kita. Dia menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia. Dia menghadapkan wajah-Nya kepada kita dan memberi kita damai sejahtera. Itulah Dia, Tuhan semesta alam. Itulah Dia, Tuhan kita Yesus Kristus. Temuilah Dia selama Ia berkenan untuk ditemui. Teruslah nyatakan iman, pengharapan dan kasih kita kepada-Nya. Jangan pernah berhenti berharap pada-Nya, karena Dia adalah Tuhan, Sang Gembala Agung kita dan kita adalah umat gembalaan-Nya. Maka sudah barang tentu kita perlu terus bergantung pada-Nya seperti ranting yang selalu bergantung pada pokok anggurnya. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin. Penutup: Lagu pujian “Tuhan Raja Maha Besar.”