Sabtu, 26 Maret 2016

BELAJAR MENJADI TENANG

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku (Mazmur 62:2).” Pembaca yang budiman, kalau kita berbicara tentang buah kebangkitan Kristus, maka kita pasti akan langsung teringat dengan sebuah ungkapan yaitu damai sejahtera. Ya saudara, karena memang itulah janji-Nya kepada para murid dan juga kepada kita sekalian saat ini. Dia berjanji di dalam Firman-Nya bahwa damai sejahtera-Ku Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang dunia berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Sebuah ayat yang sangat terkenal yang dapat kita lihat dan baca di dalam Injil Yohanes 14:27. Bahkan sejak pewartaan tentang kelahiran-Nya ke dalam dunia, Dia sudah disebut sebagai Raja Damai. Dan penggenapan akan karya penyelamatan Allah atas umat manusia dalam diri Yesus Kristus yang menghasilkan damai sejahtera itu pun tergenapi melalui dan di dalam peristiwa paskah, dimana Kristus mati bagi dosa dunia, dan telah bangkit yang menandakan bahwa Dia telah menang atas dosa dan maut. Dengan demikian kita yang telah mengecap keselamatan dan janji hidup kekal hingga saat ini dapat berkata: “Maut dimanakah sengatmu?” Kita pun dapat meminta dengan leluasa dan terbuka kepada Tuhan: “Tuhan, berilah kami damai.” Ungkapan-ungkapan itulah yang acap kali kita dengar, kita alami dan kita rasakan di dalam setiap ibadah kita bukan? Mungkin ada banyak dari antara kita yang akan bertanya: “Kalau begitu apa kaitannya antara damai sejahtera Allah dengan belajar menjadi tenang?” Melalui tulisan ini saya akan mencoba mengajak kita sekalian untuk bersama-sama belajar merenungkan dan membahasnya sehingga niscaya kita akan sama-sama semakin mengerti dan memahami dengan baik. Saudara-saudara, bagi saya pribadi ketenangan adalah sebuah bentuk aplikasi nyata dari anugerah damai sejahtera Allah yang kita alami di dalam hati, pikiran dan keseluruhan hidup kita. Bahkan Alkitab berulang kali mengungkapkan tentang pentingnya belajar menjadi tenang. Coba kita lihat penggambaran mengenai karakter dua kakak beradik Esau dan Yakub dalam Kitab Kejadian 25:27. Esau digambarkan sebagai orang yang pandai berburu dan suka tinggal di padang. Sementara Yakub adalah seorang yang tenang yang suka tinggal di kemah. Perhatikanlah juga ungkapan kepala rumah Yusuf kepada saudara-saudaranya di dalam Kitab Kejadian 43:23. Dengan jelas dikatakan di sana: “Tetapi jawabnya: Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima.” ... Perhatikan ungkapan kata “tenang” di dalam bagian bacaan ini. Bahkan di dalam Nehemia 8:12 diungkapkan bahwa orang-orang Lewi menyuruh semua jemaah laki-laki dan perempuan ketika itu untuk diam dengan kata-kata: “Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!” Mari sekali lagi kita perhatikan ungkapan kata tenang di dalam bagian bacaan ini. Bahkan hal menarik yang saya dapatkan dalam ungkapan orang Lewi kepada jemaaah ini ada pada ungkapan sebelumnya di ayat yang ke-11, dimana dikatakan di sana: “..., sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” Ungkapan ini tentu sangat memiliki korelasi yang penuh dengan apa yang diungkapkan di dalam bagian bacaan kita saat ini, dimana dikatakan di sana bahwa hanya dekat Allah saja aku tenang. Dari pada-Nyalah keselamatanku. Ya saudara, dengan demikian kita pasti menyadari benar bahwa belajar menjadi tenang adalah sebuah proses pembelajaran yang sangat penting di dalam kekristenan. Apalagi kalau kita berbicara mengenai keterkaitannya dengan damai sejahtera yang merupakan buah kebangkitan-Nya. Ayat-ayat yang saya paparkan di atas yang berhubungan dengan poin pembahasan tentang pentingnya belajar menjadi tenang barulah merupakan sekelumit ayat dari Perjanjian Lama yang dapat menjadi contoh dan referensi kita bersama. Namun jika kita mau mengulik kebenaran Firman Tuhan dari awal hingga akhir, dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru; tentu masih banyak ayat-ayat lain yang menggambarkan tentang pentingnya belajar menjadi tenang. Bahkan Tuhan Yesus Kristus sendiri pun acap kali digambarkan sebagai figur yang perlu ketenangan. Coba kita perhatikan kisah tentang Yesus berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam di padang gurun. Mari kita perhatikan juga sebuah kisah yang acap kali dihubungkan dengan peristiwa paskah dimana Yesus Kristus berdoa seorang diri di Taman Getsemani. Saudara-saudara, belajar menjadi tenang acap kali dihubungkan orang dengan pola hidup asketis dan bertarak yang seringkali dijadikan sebagai sebuah pola hidup oleh sebagian orang, termasuk di dalamnya juga kelompok orang percaya. Bahkan tidak jarang mereka sama sekali ingin terlepas dari hiruk pikuk kehidupan dunia dengan berbagai macam alasan termasuk di dalamnya supaya tidak termanipulasi dengan dosa. Apakah hal itu salah? Tentu bukan hak kita untuk melakukan justifikasi dalam hal ini. Tapi saya pribadi berpendapat bahwa tidak akan pernah ada satu manusia pun yang dapat membatasi diri untuk hidup sendiri dan atau mengeksklusifkan diri. Setiap orang yang hidup adalah orang yang senantiasa bergerak dan mengalami mobilisasi, dimana setiap kita pasti (tidak bisa tidak) akan bertemu dengan orang-orang baru dan momentum-momentum yang baru juga. Dalam konteks Alkitab setiap kita orang percaya dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan bahkan sampai ke ujung bumi. Karena perintah Tuhan sangat jelas kepada kita, yaitu jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Dan untuk itu kita diutus untuk pergi mengabarkan injil ke seluruh pelosok negeri. Jadi dengan demikian, belajar menjadi tenang tidak identik dengan hidup individualistis dimana kita benar-benar melepaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia ini sebagaimana dibayangkan dan dilakukan juga oleh sebagian orang. Kalau kita berbicara mengenai hidup bertarak atau tidak menikah, maka kita dapat ketahui bersama bahwa Paulus pun adalah seorang rasul yang tidak menikah. Dan tentu hal itu bukanlah pilihan hidup yang salah sepanjang dilakukan dengan motivasi dan aksi yang benar dan tepat, seperti halnya Paulus. Tujuan utama dari pilihan hidup bertaraknya adalah agar dia dapat fokus untuk mengabarkan injil Kristus ke berbagai tempat. Dan dia tidak serta merta melepaskan diri dari berbagai macam problematik dunia sekitarnya. Dia justru ikut terlibat di dalam problematika dunia sekitarnya dengan tujuan mewartakan tentang Kristus Sang Juruselamat dan meluruskan apa yang bengkok dari dunia sesuai dengan kebenaran dan keadilan Allah. Melalui hal itulah dia mewujudnyatakan dirinya sebagai garam dan terang dunia. Demikian pun kita dipanggil oleh-Nya untuk menjadi garam dan terang dunia. Bahkan sesungguhnya kita dipanggil ke dalam dunia yang penuh kerusuhan dan begitu keras seperti halnya domba di tengah serigala tidak lain adalah supaya kita dapat menjadi pembawa damai dan terang di dalam kegelapan. Untuk mencapai kesempurnaan visi dan misi Allah atas kita yang telah dipanggil dan dipilih-Nya untuk menjadi rekan sekerja-Nya di dalam dunia, maka kita perlu menyediakan diri kita untuk mau dibentuk oleh Tuhan. Salah satunya adalah dengan belajar menjadi tenang. Bagaimana agar kita dapat belajar menjadi tenang? Satu-satunya jalan tidak lain adalah dengan belajar mendekatkan diri kepada Tuhan, karena hanya dekat Allah saja aku tenang, kata Firman Tuhan. Yang terpenting di sini adalah bahwa untuk mencapai ketenangan yang sempurna maka kita perlu terus melatih diri kita bukan hanya dengan latihan badani, tetapi juga dengan latihan rohani. Salah satu caranya adalah dengan terus memupuk kerajinan kita dalam beribadah (lihat 1 Timotius 4:8). Dan yang lebih utama lagi adalah kita perlu terus menyerahkan diri dan segenap hidup kita kepada-Nya karena hanya Dia sajalah yang sanggup menenangkan badai (bdk.Matius 8:23-27). Ketika para murid pada saat itu justru menjadi orang yang takut karena kurang percaya sekalipun mereka saat itu berada bersama dengan Yesus, tentu saat ini Tuhan Yesus Kristus menginginkan agar kita benar-benar percaya dan mempercayakan kehidupan kita sepenuhnya kepada-Nya, karena Dia berjanji bahwa Dia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Dia adalah Tuhan yang sangat bertanggung jawab atas kita. Yang Dia mau adalah agar kita senantiasa berdekat kepada-Nya. Selamat paskah. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 20 Maret 2016

MATI DAN HIDUP BERSAMA DENGAN KRISTUS (KOLOSE 3:1-17)

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus Tuhan kita, sungguh berbahagia dan bersukacita ketika saat ini kita boleh berada di satu hari minggu terakhir menjelang Jumat Agung dan Paskah. Kita ketahui bersama bahwa dalam peringatan Jumat Agung kita memperingati wafatnya Tuhan Yesus Kristus. Demikian pun pada saat paskah kita memperingati dan merayakan kebangkitan-Nya dari antara orang mati yang menandakan bahwa Dia telah menang atas dosa dan maut, dan Dia pasti akan menjadikan kita sebagai umat pemenang bahkan lebih daripada pemenang. Oleh karena itu saudara, berdasarkan bagian bacaan kita saat ini saya ingin mengajak kita sekalian merenungkan sebuah tema yaitu mati dan hidup bersama dengan Kristus. Tentu tema ini menjadi sangat penting karena sesungguhnya akibat dosa maka kita semua tanpa terkecuali sudah seharusnya dan selayaknya menerima upah dosa yang adalah maut. Namun demikian karena kemurahan Tuhan dan prakarsa-Nya maka setiap kita, terutama kita yang percaya kepada-Nya, boleh beroleh anugerah keselamatan dan hidup kekal bersama dan di dalam Kristus Yesus. Dia sendiri yang adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia itu telah rela mengorbankan diri dan nyawa-Nya untuk menjadi kurban penebusan dosa kita yang sejati. Dan kepada setiap kita yang telah ditebus dosanya dan harganya telah lunas dibayar, maka Tuhan menginginkan agar kita mati dan hidup bersama dengan Dia. Apa maksudnya? Maksudnya adalah agar kita mematikan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru, dimana kita telah diperbaharui oleh Kristus, karena yang lama telah berlalu dan yang baru sudah datang. Dengan mematkan manusia lama ini berarti kita sudah bukan lagi menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran. Dengan kata lain kita menjadi orang-orang yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka dan mendekatkan diri pada hal-hal yang berkenan kepada Allah. Poin-poin konkret tentang kelakuan manusia lama yang harus kita tinggalkan dapat kita lihat pada ayat ke-5 sampai dengan ayat ke-9. Disebutkan di sana mengenai segala sesuatu yang duniawi yaitu: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan seterusnya. Pun kita diminta untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Bahkan ayat yang ke-13 mengatakan: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Lebih lanjut pada ayat yang ke-14 dikatakan: Dan atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Pun dikatakan dalam ayat yang ke-15 sampai dengan ke-17: Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh, dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain...dan seterusnya. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita. Inilah kondisi ideal umat nasrani berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Inilah Firman, perintah, ajakan dan teguran yang sangat mendasar bagi pola hidup Kristen secara universal, dan terkhusus disampaikan juga bagi kita saat ini. Saya yakin dan percaya bahwa Firman ini mudah untuk dikatakan tetapi pasti sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu kita perlu terus meminta pertolongan dan penyertaan Tuhan yang akan terus menolong dan memampukan kita senantiasa untuk menaati kebenaran Firman-Nya ini. Karena hanya dalam naungan-Nyalah kita akan mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Dengan kata lain kita akan terus-menerus dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Saudara-saudara, dari berbagai paparan yang sudah kita renungkan bersama sejak semula maka kita ketahui bersama bahwa untuk mengalami hidup bersama dengan Kristus dalam kekekalan-Nya, maka kita perlu mati terlebih dahulu. Yaitu mematikan keinginan-keinginan duniawi kita. Kita perlu mencari perkara yang di atas dan bukan yang di bumi. Yakin dan percayalah bahwa ketika kita lebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Selamat menjelang Jumat Agung dan Paskah. Mari kita bersama-sama mati dan hidup bersama dengan Kristus. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 03 Januari 2016

MELANGKAH DENGAN PERTOLONGAN TUHAN (YESAYA 31:1-9)

Saudara-saudara, tahun 2016 sebagai tahun yang baru telah kita masuki saat ini. Dan kita boleh bersyukur kepada Tuhan bahwa saat ini kita sudah berada dan menginjak minggu pertama di tahun yang baru ini. Ketika berbicara tentang memasuki tahun yang baru tentu semua orang akan menyambutnya dengan gegap gempita dalam euforia kegembiraan dan kesukacitaan besar sebagai gambaran akan adanya harapan yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Tentu hal itu bukanlah hal yang salah dan keliru. Setiap orang boleh dan berhak menyambut tahun yang baru dengan dan dalam kegembiraan yang penuh. Tapi sudah barang tentu dalam menjalani hari-hari di tahun yang baru ini kita tidak hanya akan menemukan kegembiraan semata melainkan juga warna-warni kehidupan. Sebut saja kesedihan dan mungkin juga kegagalan yang akan mewarnai apa yang kita jelang dari awal tahun ini ke depan. Bahkan Alkitab di dalam Surat Paulus kepada jemaat di Efesus pasalnya yang ke-5 ayatnya yang ke-16 mengungkapkan secara tegas dan gamblang kepada kita sekalian bahwa hari-hari ini adalah jahat sehingga kita diminta untuk mempergunakan waktu yang ada. Tentu yang dimaksud di sini adalah kita diminta untuk mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kita diminta untuk turut serta dalam karya, rencana dan rancangan Allah. Kita diminta untuk menjadi rekan sekerja Allah di dalam dunia. Kita diminta untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan bahkan sampai ke ujung bumi. Bahkan kita diminta untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Menjalankan misi ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan sekalipun mudah untuk dikatakan. Apalagi tantangan yang akan kita hadapi daripadanya bukanlah tantangan yang ringan. Terlebih karena iblis pun berkeliling seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya sebagaimana dikatakan dalam 1 Petrus 5:8, karena memang tujuan iblis adalah untuk menggagalkan rencana Allah. Tidak lain dari itu. Terlebih karena kita pun pasti menyadari bahwa Roh memang penurut tetapi daging lemah, sehingga kita perlu terus berjaga dan berdoa. Pun sudah barang tentu kita memerlukan tangan Tuhan yang tidak kurang panjang untuk menolong, karena Dia adalah gembala agung kita. Dia adalah Tuhan dan juruselamat kita satu-satunya. Oleh karena itu Alkitab berkata celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Maha Kudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan. Kepada mereka Dia yang bijaksana akan mendatangkan malapetaka dan tidak menarik Firman-Nya. Ia akan bangkit melawan kaum penjahat dan melawan bala bantuan orang-orang lalim. Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah. Dan kuda-kuda mereka adalah mahluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa, yang apabila Tuhan mengacungkan tangan-Nya maka tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama. Oleh karena itu yang Tuhan inginkan adalah agar orang Israel bertobat kepada Tuhan yang sudah ditinggalkannya jauh-jauh. Seruan itu pun diperdengarkan Tuhan kepada kita saat ini. Oleh karena itu marilah kita meminta Tuhan untuk menyelidiki hati kita saat ini. Sudahkah kita dengan tulus ikhlas mengasihi Tuhan dan menghambakan diri kita hanya kepada-Nya? Sudahkah kita taat dan setia kepada-Nya dengan sungguh sampai dengan saat ini dan seterusnya? Mari kita jawab pertanyaan itu di dalam hati kita masing-masing sebagai bagian dari pembaharuan komitmen kita kepada Tuhan di tahun yang baru ini. Mari kita terus berjalan bersama Dia di dalam hadirat-Nya yang Maha Kudus dan di dalam kuat kuasa-Nya yang akan terus memampukan kita dalam mengarungi bahtera kehidupan kita ke depan. Mari kita terus mencari Tuhan sepanjang Ia berkenan untuk ditemui. Janganlah sekalipun mengandalkan kekuatan kita sendiri. Andalkanlah Dia senantiasa di dalam hidup kita. Dan alamilah pertolongan-Nya yang begitu luar biasa di dalam hidup kita dari hari ke sehari. Selamat tahun baru. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Sabtu, 26 Desember 2015

KRISTUS ADALAH PEMBERI KELEGAAN

“Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu (Matius 11:28).” Mungkin banyak dari antara saudara para pembaca yang akan bertanya: “Apa menariknya tema ini? Bukankah kita semua sudah sama-sama tahu bahwa Dia adalah Sang Pencipta dan Sang Penolong? Jadi bukankah memang sudah sewajarnya Dia memberikan kepada setiap kita kelegaan sebagai wujud nyata pertolongan-Nya?” Ya, saudara, apa yang saudara pikirkan dan pertanyakan berdasarkan pergumulan saudara itu memang tidak keliru. Dia memang adalah Allah yang Maha kuasa, Maha Pencipta, Maha Besar, Maha rahim, Maha kasih, dan lain-lain. Bahkan berbagai gelar kemahaan Tuhan itu tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan siapakah Tuhan yang sesungguh-sungguhnya. Sebab Dia adalah Allah yang tidak terbatas sementara kita sebagai manusia ciptaan-Nya adalah tidak tak terbatas yang berarti penuh dengan keterbatasan. Jadi kita tidak akan pernah mungkin bisa dan sanggup untuk menggambarkan dan mendefinisikan Allah hanya sebatas pikiran dan perasaan kita semata karena Dia adalah Allah yang begitu luas dan dalam untuk dimengerti dan dipahami. Tapi di sisi lain Allah kita adalah Allah yang penuh tanggung jawab terhadap semua ciptaan-Nya, terlebih khusus terhadap kita manusia yang telah diciptakan serupa dan segambar dengan Dia. Atau dengan kata lain kita telah diciptakan menurut citra Allah (peta teladan Allah). Hal itu nyata terlihat sejak awal penciptaan. Dia bukanlah Allah yang mencipta lalu sekonyong-konyong meninggalkan ciptaan-Nya. Tetapi Dia adalah Allah pemelihara. Bahkan Dia memberi mandat kepada Adam dan Hawa untuk menguasai bumi dan menaklukkannya. Menguasai dan menaklukkan di sini bukan berarti sekedar mengeksploitasi semata tetapi juga memelihara keutuhan ciptaan, karena sesungguhnya segala ciptaan Tuhan yang dapat kita nikmati saat ini untuk mencukupi segala kebutuhan hidup kita bukanlah milik kita saat ini semata melainkan merupakan titipan dari anak cucu kita kelak, dimana mereka juga berbagian yang sama untuk dapat menikmati dan memelihara kekayaan alam ini dengan sebaik-baiknya untuk para keturunannya kelak. Begitu seterusnya. Bahkan bukan hanya itu saja saudara. Ketika manusia Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, demikianpun seluruh keturunannya telah menjadi berdosa, maka Allah tidak serta merta membinasakan manusia-manusia berdosa itu (termasuk kita), tetapi Dia justru menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih karunia. Dalam perjanjian lama seringkali digambarkan bahwa Allah mengampuni dosa umat-Nya melalui kurban penghapus dosa. Tetapi dalam perjanjian baru karya penyelamatan Allah menjadi sempurna melalui kelahiran Sang Bayi Yesus yang memang diutus Allah untuk melakukan karya penebusan dan penyelamatan terhadap semua umat manusia terutama orang-orang yang percaya kepada-Nya. Supaya barangsiapa percaya maka dia tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Inilah berita yang acap kali kita dengar dalam setiap perayaan natal. Dalam berbagai penggambaran berdasarkan uraian tersebut di atas itulah sesungguhnya sejak awal (khususnya sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa), Allah telah mengambil peran sebagai penanggung beban dan bahkan pemberi kelegaan. Bahkan tidak jarang tatkala Perjanjian Lama menggambarkan tentang Allah dalam perangai-Nya yang keras dan tegas, tetapi sesungguhnya Allah tetap adalah Allah yang Maha kasih. Bahkan Dia tidak berubah dari dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Karena memang Allah adalah kasih. Barangsiapa tinggal di dalam kasih, ia tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Perihal kasih Allah semakin dipertegas lagi di dalam perjanjian baru, dimana Kristus sendiri mengajarkan mengenai hukum kasih. Dalam hukum kasih itu kita diminta untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Kita juga diminta untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Bahkan kita juga diminta untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita. Sungguh tidak ringan. Tapi itulah maunya Tuhan atas kita, terutama bagi kita yang men gaku diri sebagai pengikut-Nya. Jelas Dia tidak sekonyong-konyong mengajarkan tentang kasih, karena Dia sendiri adalah kasih. Bahkan Dia menyatakan kasih-Nya dengan rela menjadi serupa dengan manusia dan hidup di antara manusia melalui diri Tuhan Yesus Kristus. Dia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai hal yang patut dipertahankan. Dia rela lahir di kandang yang hina dan berada di dalam palungan. Dia mengajar dari desa ke desa, pun dari kota ke kota tanpa pandang bulu. Dia memberitakan tentang pertobatan, keselamatan dan Kerajaan Allah kepada semua orang sekalipun ada banyak dari antara mereka yang menolak-Nya. Dia menyembuhkan banyak orang tanpa pandang bulu. Segala tindakan kasih Kristus itu dapat kita lihat kebenaran-Nya di dalam Alkitab, Firman Allah. Bahkan Dia sendiri adalah Firman yang telah menjadi manusia. Dia adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia. Dalam keberadaan-Nya sebagai Allah maka Dia dengan rela menanggalkan segala kehormatan keilahian-Nya untuk turun ke dalam dunia yang fana demi terwujudnya karya penyelamatan Allah atas umat manusia. Dalam keberadaan-Nya sebagai manusia Dia rela untuk taat bahkan taat sampai mati di kayu salib. Dan kini Dia telah menjadi Kristus Victor. Dia adalah Kristus yang menang atas dosa dan maut ketika Dia bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Pun kini Dia telah naik ke Sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Pun keberadaan-Nya di Sorga adalah untuk menyediakan tempat bagi kita dalam kekekalan bersama-Nya. Berbagai pemberitaan Alkitab yang sedikit banyak telah diuraikan saat ini tentunya akan dapat memberi gambaran kepada kita bahwa Allah di dalam Kristus adalah pemberi kelegaan. Dia yang telah mengampuni dosa. Bahkan Dia yang telah menebus kita dari dosa dan maut dimana harga kita telah lunas dibayar. Pun Dia yang pasti akan memenuhi janji-Nya untuk menjemput kita kembali dan akan membawa kita ke dalam kebahagiaan kekal bersama-Nya. Masihkah kita ragu untuk percaya dan mempercayakan diri dan hidup kita kepada-Nya? Masihkah kita ragu untuk menyerahkan segala beban hidup yang menindih hidup kita kepada-Nya? Percayalah bahwa Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi. Tak akan pernah dibiarkan-Nya kita bergumul dan berjalan sendiri. Percayalah juga bahwa Dia akan ganti segala duka menjadi suka. Percayalah bahwa habis gelap terbitlah terang. Habis hujan tampaklah pelangi. Karena Tuhan Allah kita bukanlah Allah yang dengan rela hati melihat anak-anak manusia dipijak-pijak. Demikianpun Tuhan Allah kita bukanlah Allah yang dengan rela melihat anak-anak-Nya terus menerus berada dalam letih lesu dan beban berat, sehingga Dia dengan tegas berjanji bahwa barangsiapa datang kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Berimanlah teguh hanya kepada-Nya, karena Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Nyatakanlah iman, pengharapan dan kasih kita kepada Kristus semata. Jangan sekali-kali pun berpaling dari hadapan-Nya. Carilah Dia selama Ia berkenan untuk ditemui. Yakinlah bahwa tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolong. Gada-Nya dan tongkat-Nyalah yang akan selalu menghibur kita, karena Dia adalah Gembala Agung kita dan kita adalah umat gembalaan-Nya. Di Hari Natal ini marilah kita sama-sama menyambut Dia bukan lagi sebagai seorang bayi kecil dan mungil, melainkan sebagai Raja di atas segala raja. Raja di dalam hati, pikiran dan hidup kita, sampai Dia sungguh-sungguh datang kembali untuk yang kedua kali sebagai hakim yang adil atas segala ciptaan. Selamat Natal 2015 dan tahun baru 2016. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Minggu, 29 November 2015

PERSIAPKAN & LURUSKANLAH JALAN BAGI TUHAN (MARKUS 1:1-8).

Saudara-saudara kekasih Kristus, sungguh menjadi sebuah kesukacitaan besar karena sesaat lagi kita akan masuk dalam peringatan dan perayaan natal, dimana kita akan memperingati dan merayakan hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Dan memang berdasarkan kesaksian Alkitab serta berdasarkan iman percaya kita kepada-Nya dan juga Firman-Nya, maka kita dapat menyatakan kepada diri kita sendiri maupun juga kepada semua orang. Kita dapat mempersaksikan secara tegas dan lugas bahwa kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus adalah kelahiran yang luar biasa. Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus adalah kelahiran yang spesial, karena sejak awal kelahiran-Nya telah dinubuatkan terlebih dahulu oleh para nabi sejak zaman Perjanjian Lama sampai dengan masa penggenapannya di Perjanjian Baru. Kita dapat melihat bukti nyata nubuatan tentang kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus itu diantaranya dalam pemberitaan mengenai tunggul Isai yang dapat kita lihat dalam Yesaya 11:1. Dalam judul perikopnya tertera jelas bahwa pemberitaan ini adalah mengenai Raja Damai yang akan datang. Kemudian juga kita dapat melihat di dalam Yesaya 9:6. Ayat itu dengan tegas menyatakan bahwa: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita. Seorang putera telah diberikan untuk kita. Lambang pemerintahan ada di atas bahunya. Dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Ketika saya perbandingkan ayat ini dengan terjemahan Alkitab bahasa sehari-hari, maka bentuk katanya adalah “akan.” Jadi jelas ini adalah sebuah nubuatan. Pun di dalam bagian bacaan kita Yohanes Pembaptis menegaskannya kembali. Dengan tegas dan lugas ia berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan! Luruskanlah jalan bagi-Nya!” Bahkan seruan tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ. Yohanes Pembaptis juga menyerukan demikian: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu.” Saudara-saudara, ketika Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun sebagaimana digambarkan dalam bagian bacaan kita, maka datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem. Dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di Sungai Yordan. Ada satu hal yang menarik saudara-saudara dalam ungkapan Yohanes Pembaptis di dalam bagian bacaan kita. Ia memberitakan bahwa sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku. Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Padahal kita ketahui bersama bahwa Yohanes Pembaptis juga merupakan seorang tokoh besar pada zamannya. Matius 11 ayatnya yang ke-11 pun menegaskannya. Dikatakan di sana bahwa Aku (Tuhan) berkata kepadamu: “Sesungguhnya diantara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis; namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripadanya.” Bayangkan saudara, Tuhan sendiri yang mengatakannya. Sebuah pengakuan yang sahih dari Tuhan tentang kebesaran Yohanes Pembaptis diantara segala tokoh lainnya di zaman itu. Tapi Yohanes Pembaptis tetap memiliki kesadaran penuh dan kerendahan hati. Dia sadar bahwa sudah seharusnya dan sudah semestinya Tuhan Yesus Kristus menjadi Tuhan yang Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah di dalam Yesus Kristus. Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, kata Tuhan. Yohanes Pembaptis sangat sadar mengenai posisinya sebagai utusan Allah untuk melanjutkan nubuatan dan pemberitaan tentang kelahiran dan akan hadirnya Yesus Kristus Sang Mesias Juruselamat dunia. Maka dengan tegas, lugas dan lantang ia menyerukan: “Persiapkanlah jalan bagi Tuhan! Luruskanlah jalan bagi-Nya!” Dan saat ini seruan tersebut juga didengungkan kepada kita sekalian. Marilah kita persiapkan dan luruskan jalan bagi-Nya untuk sungguh-sungguh dapat memerintah di dalam hati, pikiran dan segenap hidup kita, karena Dia bukan lagi seorang bayi. Dia adalah Kristus Victor, Kristus yang telah menang atas dosa dan maut, Kristus yang adalah Raja di atas segala raja. Dialah Sang Juruselamat kita satu-satunya. Bahkan Dialah yang akan menjadikan kita pemenang bahkan lebih daripada pemenang. Masalah boleh ada. Cobaan dan penderitaan boleh datang silih berganti. Tapi kita boleh tetap yakin dan percaya bahwa Tuhan kita jauh lebih besar daripada segala masalah hidup kita. Bahkan Dia berkata dalam Firman-Nya bahwa ketika kita memiliki iman sebesar biji sesawi maka kita dapat memindahkan gunung. Itulah gunung persoalan dan permasalahan hidup kita. Yakin dan percayalah bahwa bersama Tuhan kita cakap menanggung segala perkara. Selamat memasuki minggu-minggu adven sesuai dengan kalender gerejawi. Selamat mempersiapkan diri menjelang natal. Selamat natal bagi kita sekalian. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.