CATATANKU ERICKTJONG adalah blog yang berisi tentang catatan reflektif spiritual dan catatan-catatan kritis mengenai berbagai-bagai pokok persoalan.
Sabtu, 24 Desember 2016
MUKIDI VS KRISTUS: FIKSI VS FAKTA
Pembaca yang budiman, di tahun 2016 yang sebentar lagi akan kita lalui ini ada begitu banyak peristiwa terjadi di sekitar kita yang berlangsung silih berganti. Bahkan tak jarang ada banyak berita yang menjadi viral di media sosial yang dapat kita simak secara bersama-sama. Ya saudara, salah satunya dapat kita lihat melalui fenomena cerita tentang Mukidi.
Nama Mukidi memang merupakan sebuah nama yang sederhana yang bisa jadi juga dapat menggambarkan kesederhanaan si pemilik nama tersebut. Nama Mukidi juga merupakan nama yang umum dimiliki oleh kebanyakan Orang Jawa sehingga nama itu menjadi nama yang mudah diingat oleh kebanyakan orang. Namun, setelah nama itu menjadi viral di media sosial maka nama Mukidi menjadi begitu tenar dan banyak diperbincangkan orang. Nama yang sederhana itu pada akhirnya menjadi buah bibir. Terlebih karena cerita-cerita yang diangkat mengenainya dan seputar kehidupannya merupakan cerita-cerita yang disampaikan dengan bahasa yang begitu sederhana namun mendalam. Terlihat suatu nilai kecerdasan dan kejelian dari bahasa yang tersusun sebagai sebuah rangkaian cerita yang bulat, utuh dan sinambung itu. Tak jarang kritik-kritik sosial pun menyeruak daripadanya. Itulah sebabnya kenapa cerita tentang Mukidi begitu disenangi oleh begitu banyak orang. Karena selain ceritanya yang lucu dan humoris dengan gaya bahasa yang sangat menarik, tentu cerita ini juga menyentuh fakta-fakta kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. Paling tidak pada masa-masa sekarang ini. Karena harus kita akui bersama bahwa terangkatnya cerita ini ke permukaan pada saat dia menjadi viral di media sosial, maka seiring dengan itu ada banyak peristiwa sosial kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia. Kita sebut saja diantaranya adalah tentang tax amnesty dan kasus kopi bersianida yang melibatkan Jessica-Mirna. Saya percaya bahwa kebanyakan dari antara kita pasti tahu dan mengikuti benar ragam peristiwa ini. Tidak mungkin tidak.
Ya saudara, bahkan setelah sosok Mukidi ini menjadi begitu tenar pasca menjadi viral di media sosial maka ada begitu banyak orang yang bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya sosok Mukidi ini. Dan apakah sosok Mukidi ini merupakan sosok figur yang benar-benar nyata adanya atau hanya merupakan sebuah cerita fiksi hasil karangan orang semata. Kita ketahui bersama bahwa sempat terjadi kesimpang siuran berita pada waktu itu. Ada yang mengatakan bahwa Mukidi benar-benar ada dengan menunjukkan bukti KTP atau kartu tanda penduduk yang bersangkutan. Tetapi singkat cerita, dari berbagai kebenaran berita baik di media cetak maupun elektronik yang dapat kita ikuti bersama maka kita jadi tahu bahwa sebenarnya tokoh Mukidi hanyalah sebuah cerita fiksi hasil karya seseorang yang bernama Soetantyo Moechlas. Beliau adalah seorang penulis cerita-cerita lucu (humor), dimana salah satu buku cerita humornya berjudul “Laskar Pelawak 2.” Kita bisa melihat salah satu sumber informasinya dari http://www.rappler.com, di samping dari berbagai sumber berita lainnya yang beredar di masyarakat dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Namun pada kesempatan ini saya tidak akan berbicara banyak tentang Mukidi itu sendiri. Melalui sosok tokoh fiksi Mukidi ini saya justru ingin menghantarkan kita untuk memahami tentang fiksi vs fakta. Bahkan saya ingin menghantarkan kita sekalian untuk mengerti dan memahami bahwa eksistensi Kristus (mulai dari kelahiran sampai dengan kenaikan-Nya ke Sorga) adalah fakta dan atau faktual. Sehingga dengan demikian kita dapat merenungkan dan merefleksikan secara bersama-sama tentang apa dan bagaimana relevansi dan implikasinya bagi kita sebagai orang-orang percaya. Terlebih pada saat ini kita sedang berada pada masa raya natal di tahun 2016 dan jelang tahun baru 2017. Mari kita mulai perenungan dan refleksi kita saudara-saudara.
1. Kelahiran Kristus:
Sejak masa kanak-kanak ketika kita masih berada di Sekolah Minggu sebagai ASM (Anak Sekolah Minggu), maka sejak itulah kita acap kali diperkenalkan oleh para GSM (Guru Sekolah Minggu) yang mengajar dan membimbing kita dengan cerita-cerita natal. Bahkan tak jarang kita melihat dan menyimak secara rutin drama-drama natal dari tahun ke tahun. Ya saudara, dalam drama itu kita melihat bagaimana Yusuf dan Maria pergi ke Yerusalem untuk mengikuti sensus dalam keadaan Maria yang sedang mengandung bayi Yesus. Di dalam perjalanan itulah mereka mencari penginapan namun semuanya telah penuh. Singkat cerita mereka tidak mendapatkan tempat di dalam penginapan yang layak melainkan mereka mendapatkan tempat di dalam sebuah kandang domba. Pada saat itu bertepatan dengan waktunya Maria akan bersalin. Sehingga singkat cerita lahirlah bayi Yesus di dalam kandang domba tersebut. Dan setelah Ia lahir, dibaringkanlah Ia di dalam palungan (tempat pakan ternak) dan dibungkus dengan kain lampin.
Tentu ceritanya tidak hanya berhenti sampai di situ saudara. Dan kalau kita mau menyimak kebenaran ceritanya maka kita dapat menyimaknya di dalam Alkitab, Firman Tuhan. Di sana lengkap akan kita temukan kebenaran-Nya.
Ya saudara, kisah kelahiran Yesus Kristus Mesias Sang Juruselamat itu memang bukan isapan jempol semata. Atau bukan juga merupakan cerita fiksi karangan orang yang kebenarannya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Kisah kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia ini merupakan sebuah fakta aktual yang kebenarannya sangat dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ada banyak saksi mata yang ikut menyaksikannya. Ada para gembala. Dan ada juga tiga raja dari timur yang biasa kita kenal dengan sebutan orang majus.
Ya saudara, kelahiran Yesus Kristus disaksikan oleh orang mulai dari kalangan terendah sampai dengan yang tertinggi. Bahkan Ia pun disembah dan diagungkan oleh mereka pada saat itu. Dan juga oleh kita pada saat ini. Pun kelahiran-Nya juga telah dinubuatkan sejak awal oleh para nabi pada zaman Perjanjian Lama. Sebagaimana Yesaya 9:5-6 menyatakan dengan jelas, tegas dan lugas demikian:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini.”
Ya saudara, Allah kita memang adalah Allah yang pencemburu. Makanya di dalam salah satu bagian dari dasa titah atau sepuluh perintah Allah dikatakan:
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu...Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.” Kita bisa melihatnya dalam Kitab Keluaran 20:3-5 dan ayat 7-8.
Bahkan sesungguhnya dosa yang manusia telah lakukan telah membuat Allah menjadi cemburu karena dengan demikian manusia bukan hanya memberontak dan tidak patuh terhadap Allah, melainkan melalui pembangkangannya itulah manusia sadar atau tidak sadar dan suka atau tidak suka telah menduakan dan menomorduakan Allah.
Itulah gambaran kita manusia. Dan itulah dasar kenapa Kitab Yesaya 9:6 tersebut di atas mengungkapkan bahwa kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukannya.
2. Apa yang dilakukan oleh Tuhan kalau begitu?
Kita tahu bersama bahwa Allah kita adalah Allah yang mencintai hukum. Pun Ia adalah Allah yang membenci perampasan dan kecurangan. Kebenaran Firman Tuhan ini tertulis dalam Yesaya 61:8. Sebagai Allah yang mencintai hukum dan membenci kecurangan, tentu Ia akan memegang teguh serta melaksanakan hukum yang telah difirmankan-Nya dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Bahkan sesungguhnya kita tahu berdasarkan kebenaran Alkitab bahwa Dialah hakim yang adil atas segala ciptaan yang akan mengadili kita semua pada akhirnya menurut keadilan-Nya. Demikian pun ketika Ia berkata bahwa upah dosa adalah maut, maka sesungguhnya setiap umat manusia tanpa terkecuali harus mengalami upah dosa yang adalah maut dan kebinasaan.
Tapi ternyata, dalam keberadaan-Nya yang panjang sabar dan berlimpah kasih karunia itu maka Ia tidak serta merta membinasakan seluruh umat manusia melainkan Ia merancangkan anugerah kasih karunia-Nya melalui jalan penyelamatan Allah atas umat manusia melalui dan di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya Injil Yohanes 1:1-34 dengan tegas mempersaksikan tentang Firman yang menjadi manusia. Melalui karya Allah dalam diri Yesus Kristus inilah terbukti kebenaran Firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian 50:20; Yeremia 29:11 dan Roma 8:28 yang berkata demikian:
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan... Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Bahkan Injil Yohanes 3:16 pun menegaskannya juga. Dikatakan di sana bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Ini adalah ayat emas yang seringkali kita dengar juga dalam berbagai perayaan natal yang diselenggarakan di gereja-gereja.
Ya saudara, itulah yang Allah lakukan. Suatu karya penyelamatan yang besar atas diri umat manusia ciptaan-Nya. Bahkan terlebih khusus atas diri kita sebagai bagian dari persekutuan orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Dengan demikian karya penyelamatan Allah di dalam dan melalui diri Yesus Kristus haruslah kita imani, kita percaya, dan harus juga memberi dampak dan pengaruh di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dalam kehidupan komunitas orang percaya. Pun perlu juga untuk dapat memberi dampak kepada sesama kita, terutama bagi mereka yang belum percaya dan belum menjadi percaya.
Pembaca yang budiman, dalam setiap peristiwa Yesus Kristus di dalam Alkitab (mulai dari kelahiran-Nya, karya-Nya di dalam dunia dan diantara manusia, kematian-Nya di atas kayu salib, kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahkan sampai pada peristiwa kenaikan-Nya ke Sorga), kita seringkali menyaksikan di dalam Alkitab bahwa hal-hal itu disaksikan oleh begitu banyak orang. Sehingga dengan demikian tentu kita tidak akan pernah bisa menyatakan bahwa peristiwa Yesus Kristus ini adalah hal yang fiktif belaka. Pun lebih penting daripada itu, sesungguhnya sekalipun kita secara pribadi belum pernah melihat dan menyaksikannya sendiri, namun kita sebagai orang-orang yang beriman dan percaya kepada-Nya tetap merupakan orang-orang yang berbahagia di dalam Tuhan. Sebagaimana Firman Tuhan berkata di dalam Injil Yohanes 20:29 demikian:
“...Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”
Itulah yang Tuhan harapkan dan inginkan dari kita saudara. Karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Beriman berarti percaya dan mempercayakan diri hanya kepada Tuhan. Mari menjadi orang yang beriman teguh kepada-Nya. Mari kita terima damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal yang akan memelihara pikiran dan hati kita dalam Kristus Yesus. Mari kita wujudnyatakan iman kita di dalam segenap perbuatan dan hidup kita sepenuhnya. Mari kita sambut Dia dengan segera untuk dapat sungguh-sungguh lahir dan hadir di hati, pikiran dan hidup kita sebagai Raja di atas segala raja. Mari kita persiapkan diri kita untuk dapat menyambut Dia sampai Tuhan datang untuk yang kedua kali sebagai hakim yang adil atas segala ciptaan. Selamat natal dan tahun baru bagi kita sekalian para mempelai-Nya yang bijaksana. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
MENJADI PELAYAN KECIL TUHAN
“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
(Lukas 9:47-48).
Pembaca yang budiman, ketika saya mempersiapkan tulisan dengan tema “Menjadi Pelayan Kecil Tuhan” ini maka saya langsung teringat dengan hakikat sifat dasar manusia. Semua manusia di dunia ini pasti, tidak mungkin tidak, memiliki angan-angan serta cita-cita yang besar. Dan itu pasti terjadi dalam diri setiap orang. Coba saja kita bertanya pada anak-anak di sekeliling kita saudara: “Apa cita-citamu nak kalau sudah besar nanti?” Ya saudara, pada umumnya mereka pasti akan menjawab dan menggambarkan cita-cita mereka yang besar dan setinggi langit. Sama seperti sebuah ungkapan yang sering kita dengar yang berkata demikian: “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” Seperti itulah gambaran kita manusia saudara. Bahkan kalau kita mau membandingkan dengan realita lagu anak-anak yang sempat populer dan dipopulerkan oleh Ria Enes dan boneka Susan, maka kita akan mendengar di sana cita-cita Susan yang besar dan mulia. Jadi dokter, jadi insinyur dan lain sebagainya. Salahkah saudara? Tentu tidak. Setiap orang memang berhak menggantungkan cita-citanya setinggi langit.
Ya saudara, itulah gambaran kehidupan dunia di sekitar kita yang seringkali kita kenal dengan istilah dunia sekuler. Lalu pertanyaannya kemudian bagaimana dengan dunia non sekuler atau dunia rohani saudara? Bagaimana dengan kehidupan bergereja dan melayani Tuhan? Maka Firman Tuhan yang menjadi bagian bacaan kita saat ini dengan jelas menyebutkan bahwa yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar. Dengan kata lain saudara, sesungguhnya setiap kita dipanggil untuk menjadi pelayan kecil Tuhan. Ya saudara, itulah yang menjadi tema pembahasan kita saat ini.
Yang menjadi pertanyaan kita kemudian saudara-saudara, mengapa konsep kekristenan sebagaimana yang tergambar dalam kebenaran Firman Tuhan justru seratus delapan puluh derajat berbeda dengan konsep yang diusung oleh dunia ini? Maka jawabannya adalah karena memang setiap kita dipanggil untuk berani tampil beda. Setiap kita dipanggil untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini melainkan berubah menurut pembaharuan budi kita saudara. Ya, dan memang karena pikiran Kristus jauh berbeda dengan pikiran manusia pada umumnya. Karena segala sesuatu yang dipikirkan, dirasakan, dikatakan dan dikerjakan oleh Kristus adalah apa yang berasal dari Bapa. Karena sesungguhnya Aku (Kristus) dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30). Oleh karena itu kita pun diminta oleh Tuhan kita Yesus Kristus untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai hal yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Itulah natal, dimana Sang Firman telah menjadi sama dengan manusia dan berada di antara manusia untuk menyatakan diri-Nya kepada setiap umat manusia dan terutama kepada setiap orang percaya, sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Semua semata-mata hanya karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal sebagaimana diberitakan dalam Injil Yohanes 3:16 yang menjadi salah satu berita utama natal.
Ya saudara, melalui keberadaan Kristus di dalam dunia di antara manusia (terlebih manusia yang berkenan kepada-Nya), maka Ia telah menunjukkan betapa Ia sudi mendekatkan diri-Nya kepada kita. Terlebih dalam perbedaan eksistensi, dimana Allah adalah kudus dan sempurna sementara kita manusia adalah orang berdosa. Bahkan keberadaan-Nya di tengah dunia di antara manusia adalah untuk melakukan karya penebusan atas segala dosa-dosa kita melalui kematian-Nya di atas kayu Salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Itulah paskah. Itulah sebabnya kenapa natal dan paskah tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Karena tanpa natal tidak akan ada paskah. Pun tanpa paskah maka natal menjadi sia-sia.
Ya saudara, ketika Kristus saja sudah memberi teladan betapa Dia mau menjadi yang terkecil sekalipun Dia adalah yang terbesar bahkan Dia adalah Yang Maha Besar, maka bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi yang terkecil dan membiarkan Dia dibesarkan dan menjadi yang terbesar? Sudahkah kita sungguh-sungguh mengagungkan nama Tuhan dalam segenap kehidupan dan pelayanan yang kita lakukan?
Saat ini saya rindu mengajak kita sekalian untuk merenungkan tema kita saat ini melalui lagu pujian yang saya ciptakan yang berjudul “Pelayan Kecil Tuhan.” Kiranya perenungan kita dan lagu yang saya sajikan saat ini dapat menghantarkan kita sekalian untuk semakin menghayati eksistensi seorang pelayan Tuhan yang tidak lain adalah pelayan kecil Tuhan.
Pun yang tidak kalah penting dari itu adalah supaya kita dapat benar-benar menjadi pelayan Tuhan yang diperbaharui dan atau mengalami pembaharuan hidup. Yaitu pembaharuan hidup ke arah Kristus, dimana kita mampu berpikir sebagaimana Kristus berpikir, merasa sebagaimana Kristus merasa dan bertindak sebagaimana Kristus bertindak. Dengan kata lain seorang pelayan Tuhan yang baik dan setia bukan sekedar orang yang dengan giat melakukan kegiatan atau aktivitas gereja melainkan berbicara mengenai bagaimana seseorang menempatkan diri sebagai hamba yang mengasihi Kristus dan melakukan pelayanannya dengan komitmen dan kasih. Tentu untuk mencapai semuanya itu tidaklah mudah. Bahkan kita mungkin seringkali gagal dalam mengaplikasikan diri kita sebagai pelayan Tuhan yang setia dan dibaharui tersebut. Tapi tentu Tuhan tidak ingin kita berhenti dan stag dalam kegagalan kita. Niscaya Tuhan ingin agar kita bangkit dan berjalan bahkan berlari ke arah DIA. Sudah barang tentu kita tidak akan dapat berjalan sendiri. Oleh karena itu marilah kita berjalan bersama dengan Tuhan dalam segenap proses kehidupan kita. Marilah kita akui Dia dalam segala tingkah laku kita, maka Dialah yang akan meluruskan segala jalan kita (Amsal 3:6). Selamat natal dan tahun baru bagi kita sekalian. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
https://youtu.be/jT-rcsqLIhs
Minggu, 04 September 2016
BUANGLAH KEBODOHAN (AMSAL 9:1-6)
Saudara-saudara, berdasarkan bagian bacaan kita saat ini yang terambil dari Kitab Amsal pasalnya yang ke-9 ayatnya yang pertama sampai dengan ayatnya yang ke-6, saya rindu mengajak kita sekalian untuk merenungkan sebuah tema yaitu: Buanglah Kebodohan.
Kalau kita berbicara mengenai gambaran orang muda pada umumnya saudara, maka tidak bisa kita pungkiri adanya deskripsi dan stereotype dari banyak kalangan di sekitar kita yang mengatakan bahwa orang muda pada hakikatnya adalah orang yang dianggap masih kurang berpengalaman. Atau dengan kata lain orang muda dikatakan sebagai orang yang masih belum banyak makan asam garam kehidupan. Sehingga dengan demikian orang muda seyogyanya digambarkan sebagai orang yang masih harus banyak belajar dan perlu menimba banyak ilmu dan pengalaman untuk dapat menjadi orang yang lebih mumpuni pada akhirnya. Walaupun memang bagi saya pribadi dan tentu juga bagi kita sekalian, kita pasti akan setuju ketika saya katakan bahwa proses belajar adalah sebuah proses sepanjang hayat masih dikandung badan. Bahkan saya pun hingga saat ini merasa perlu dan harus mengakui bahwa saya masih berada dalam proses belajar, dimana saya adalah seorang pembelajar dari sekolah kehidupan. Tentunya begitu juga dengan kita saudara. Proses belajar tidak harus berhenti sampai dengan jenjang tertinggi pada pendidikan formal. Tetapi proses belajar adalah proses yang masih akan terus berlanjut sampai Tuhan memanggil kita pulang ke dalam kediaman yang kekal. Bahkan Tuhan Yesus Kristus sendiri mengatakan dengan tegas dalam Injil Matius 11:29: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati; dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Ya saudara. Tuhan memang sungguh ingin agar setiap kita dapat belajar kepada-Nya. Terlebih juga bagi setiap kita para kaum muda yang telah menjadi percaya kepada-Nya. Tentu keinginan Tuhan ini bukanlah tanpa maksud. Tuhan sungguh ingin agar setiap kita sebagai orang muda yang percaya tidak dianggap rendah karena kemudaan kita. Tuhan sungguh ingin agar setiap kita sebagai orang muda yang percaya juga dapat menjadi teladan bagi segala orang beriman; baik dalam perkataan kita, tingkah laku kita, dalam kasih kita, dalam kesetiaan kita dan dalam kesucian kita. Itulah yang diungkapkan dalam 1 Timotius 4:12 saudara. Keinginan Tuhan agar kita membuang kebodohan dan mengikuti jalan pengertian atau jalan hikmat Tuhan bukanlah tanpa maksud. Karena Tuhan ingin agar setiap kita beroleh hidup dan bukan kebinasaan.
Ya saudara, kita ketahui bersama bahwa kunci kehidupan orang percaya memang terletak pada iman percayanya. Sebagaimana Injil Yohanes 3:16 mengatakan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini maka Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal; agar barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tapi tentu tidak berhenti sampai di situ saudara. Karena bagi tiap orang percaya selalu akan berlaku prinsip: percaya dulu baru mengerti. Dan untuk percaya sungguh dibutuhkan iman yang benar kepada Tuhan. Tetapi untuk mengerti selalu dibutuhkan kesediaan untuk mau belajar dan diajar. Bahkan setiap kita sesungguhnya dipanggil dan diutus untuk mau belajar dan diajar untuk mengajar. Itulah panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya termasuk kita para kaum muda. Ya saudara. Kita dapat melihat contoh konkretnya di dalam Alkitab, yaitu dalam Kitab Daniel 1:1-21. Khususnya dalam ayatnya yang ke-17 dari Kitab Daniel pasalnya yang pertama itu digambarkan dengan jelas bagaimana Allah memberikan kepada keempat orang muda yaitu Daniel (Beltsazar), Hananya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) pengetahuan, kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat. Bahkan secara khusus Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai pengelihatan dan mimpi. Kalau kita perhatikan secara seksama saudara, maka dapat kita ketahui bahwa pada saat itu mereka menjadi bagian dari orang-orang muda yang terpilih untuk bekerja pada Raja Yoyakim (Raja Yehuda), dimana pada tahun ketiga masa pemerintahannya maka datanglah Nebukadnezar (Raja Babel) ke Yerusalem lalu mengepung kota itu. Jadi terlihat di sini suatu kebutuhan akan bibit-bibit muda yang unggul pada saat itu. Dan keempat orang muda itu menjadi bagian di dalamnya. Tentu bukan karena kekuatan dan kecakapannya sendiri melainkan karena Tuhan yang turut campur tangan di dalamnya.
Kalau kita boleh membandingkan dengan prestasi orang-orang muda Indonesia maka kita bisa melihat salah satu contohnya juga dalam diri dua pebulutangkis muda Indonesia yaitu butet dan owi yang baru saja memenangkan medali emas dalam olimpiade kemarin. Dan istilah yang digunakan bagi mereka adalah pahlawan olahraga Indonesia.
Saudara-saudara, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah sungguh-sungguh beriman dan percaya kepada Tuhan dengan setia? Dan setelah kita menjadi percaya, apakah kita sudah sungguh-sungguh mau belajar kepada Kristus dan meneladani-Nya dengan setia? Dan apakah kita sudah sungguh-sungguh menjadi laskar-laskar Kristus? Marilah kita buang segala kebodohan yang ada dalam diri kita. Karena sesungguhnya akar dari segala kebodohan adalah dosa. Karena dosa mengakibatkan kita tidak lagi mampu mengenal jalannya Tuhan dengan baik dan benar. Dosa mengakibatkan kita hanya mampu untuk menjadi orang-orang yang tidak benar dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Bahkan Alkitab dengan tegas mengatakan: “Dalam dosa aku dikandung ibuku (Mazmur 51:5).” Hal inilah yang menyebabkan tidak ada seorang pun yang benar dan baik di hadapan Allah. Karena sesungguhnya setiap kita telah mewarisi dosa asal atau dosa turunan dari Adam dan Hawa. Tetapi bagi setiap kita yang telah menjadi percaya kepada Tuhan maka Ia berfirman bahwa kita akan diselamatkan karena iman. Pun bagi setiap kita yang mengaku dosa kita di hadapan-Nya maka Ia adalah setia dan adil. Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9).
Kini, ketika Tuhan sudah mengampuni segala dosa dan pelanggaran kita. Dan ketika Tuhan sudah membayar lunas harga penebusan kita dengan darah-Nya dan nyawa-Nya. Bahkan ketika Tuhan sudah menang atas dosa dan maut melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Pun ketika Tuhan siap menjadikan kita pemenang bahkan lebih daripada pemenang. Semua itu diwujudnyatakan-Nya bagi kita dan atas kita karena Dia sungguh mengasihi kita dan sudah lebih dulu mengasihi kita. Dia sudah membuktikan kasih-Nya kepada kita. Bahkan Dia akan senantiasa mengasihi kita di sepanjang kehidupan kita bahkan sampai kepada kesudahannya. Karena kasih-Nya adalah dari kekal sampai kekal. Ketika kita tahu bahwa kasih Tuhan begitu besar dan begitu luar biasa, maka pertanyaannya bagi kita: apakah balasmu? Sudahkah kita mengasihi Dia dengan setia? Sudahkah yang terbaik kita berikan kepada-Nya?
Saudara, untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan butuh sebuah pengorbanan. Hal ini bukan hanya berbicara tentang persembahan fisik atau materi kita. Tetapi lebih daripada itu, hal ini berbicara tentang kesediaan diri kita untuk mau diajar dan dibentuk oleh Tuhan. Karena kita adalah bejana-Nya. Diajar dan dibentuk oleh Tuhan juga menuntut kesediaan dari diri kita sendiri dan masing-masing untuk mau terus belajar dan mencari hikmat Tuhan. Karena barangsiapa meminta maka ia akan menerima. Barangsiapa mencari maka ia akan mendapat. Dan barangsiapa mengetuk maka baginya pintu akan dibukakan (Matius 7:8). Oleh karena itu janganlah berhenti untuk belajar. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33).
Marilah kita menjadi pembelajar yang sejati yang selalu mau dengar-dengaran akan Firman Tuhan. Pun marilah kita mau terus belajar untuk tidak hanya menjadi pendengar yang setia melainkan juga mau menjadi pelaku Firman Tuhan yang setia. Takutlah akan Tuhan karena itu adalah sumber kehidupan (Amsal 14:27). Pergunakanlah hikmat yang dari atas dan bukan yang dari bumi (Yakobus 3:13-18). Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
PENTINGNYA BERMAZMUR BAGI TUHAN
“Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! (Mazmu 47:8).”
Pembaca yang budiman, pasti sekalian kita akan sepakat jika saya katakan bahwa dalam segala hal yang kita lakukan, maka sesungguhnya kita perlu tahu terlebih dahulu apa tujuannya. Sebab jika tidak, itu sama halnya dengan kita melakukan suatu kesia-siaan. Itulah sebabnya kenapa Kitab Pengkhotbah menekankan bahwa segala sesuatu sia-sia. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (lihat Pengkhotbah 3:11). Demikian juga halnya dengan bermazmur saudara. Ketika kita bersukacita mendaraskan mazmur bagi Tuhan, maka kita perlu tahu benar apa tujuan sukacita kita dan apa pentingnya bermazmur bagi Tuhan. Itulah yang menjadi sub tema dalam pokok bahasan kita kali ini.
Secara gamblang bagian bacaan kita kali ini mengungkapkan bahwa salah satu sebab pentingnya bermazmur bagi Tuhan tidak lain adalah karena Allah adalah Raja seluruh bumi. Bahkan sesungguhnya kekuasaan-Nya tidak terbatas, karena Dia adalah pemilik Surga dan bumi beserta seluruh ciptaan tanpa terkecuali. Oleh karenanya kita diminta untuk bermazmur bagi-Nya dengan nyanyian pengajaran. Kenapa demikian? Sebab Allah adalah Raja maka sudah sepantasnya kita memuji dan menyembah Dia. Terlebih karena Dia adalah Raja di atas segala raja. Dan karena apa yang kita terima dan yang telah diwariskan oleh para pendahulu dan juga diajarkan oleh para gembala kepada kita saat ini sesungguhnya berasal dari apa yang kita dengar dan apa yang diajarkan langsung oleh-Nya baik kepada para murid maupun juga kepada kita sekalian hingga saat ini melalui Alkitab, Firman Allah. Itulah arti penting mazmur sebagai bagian dari nyanyian pengajaran. Dengan demikian sesungguhnya kita tidak hanya dibangun melalui khotbah atau perenungan Firman semata melainkan juga melalui mazmur dan puji-pujian kepada Allah (bdk.dengan lagu PKJ 282), dimana judul dalam lagu pujian tersebut adalah “Tuhan Tolonglah Bangunkan Iman.” Jadi semakin jelaslah bagi kita saat ini bahwa mazmur dan puji-pujian yang kita daraskan di hadapan Tuhan juga merupakan sarana yang efektif dalam upaya membangun iman kita secara pribadi dan juga iman jemaat. Itulah sebabnya kenapa dalam liturgi ibadah kita nyanyian jemaat juga memiliki arti yang sama pentingnya dengan khotbah atau perenungan Firman. Itulah sebabnya sebuah tata liturgi yang baik adalah tata liturgi yang utuh dari awal sampai akhir, menyeluruh dan sinambung.
Tidak hanya berhenti sampai di situ saja saudara. Pentingnya bermazmur bagi Tuhan juga adalah karena segala kebaikan-Nya yang patut kita syukuri, nyatakan dan saksikan. Sebagaimana pemazmur Daud acap kali mengungkapkan dalam Alkitab: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kita dapat melihatnya dalam beberapa bagian Kitab Mazmur seperti: Mazmur 107:1, Mazmur 118:1, Mazmur 106:1, dan lain-lain. Bahkan 1 Tawarikh 16:8-10 menegaskan: “Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan!” Jadi jelas bagi kita bahwa kesukaan hati yang kita rasakan ketika kita mendaraskan mazmur dan pujian bagi Tuhan tidak lain adalah karena kita memiliki hati yang benar-benar mencari Tuhan dan tertuju kepada Tuhan. Untuk itu marilah kita meminta Tuhan untuk terus menyelidiki hati kita. Apakah kita benar-benar sudah menjadi orang-orang yang sungguh mengasihi dan mencintai Tuhan atau belum. Dengan demikian, ketika kita mampu menguji diri kita sendiri maka hukuman tidak menimpa kita (1 Korintus 11:31). Pun ketika kita mampu menguji diri kita sendiri maka kita dapat terus berproses dan menyediakan diri untuk diproses Tuhan sehingga dari hari kesehari kita dapat menjadi orang-orang yang semakin mencintai dan mengasihi Tuhan. Kita pun dapat menjadi orang-orang yang rela untuk terus diproses dan dibentuk Tuhan agar menjadi makin serupa Yesus Tuhan kita. Pun kita juga dapat menjadi orang-orang yang dengan rela menyediakan diri kita untuk mau dipakai-Nya menjadi pekerja di ladang-Nya, karena tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Sekaranglah saatnya bagi kita saudara untuk dapat benar-benar mengalami kebangunan rohani yang maksimal melalui berbagai media dan sarana yang Tuhan sediakan bagi kita, terlebih khusus melalui berbagai sarana dan media yang tersedia di gereja yang dapat mengarahkan kita menjadi lebih dekat dan semakin dekat kepada Tuhan. Dan juga yang dapat mengarahkan kita menjadi kudus sebagaimana Dia, Tuhan Allah kita kudus dan menjadi sempurna sebagaimana Dia, Tuhan Allah kita sempurna. Oleh karena itu jangan pernah sekali pun meninggalkan persekutuan ibadah. Bertekunlah dalam doa dan pengajaran rasul-rasul. Teruslah meminta kepada Tuhan agar kita memiliki hati yang bijaksana. Demikian pun agar kita memiliki hati yang mau terus memuji dan mempermuliakan nama Tuhan. Terus alami kuasa Roh Kudus di dalam hidup kita. Terus alami kuasa Allah melalui dan di dalam setiap pujian kita kepada-Nya. Mari memuji dan menyembah Dia.Marilah kita menjadi penyembah-penyembah yang benar di hadapan-Nya. Mari bermazmur bagi-Nya senantiasa. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
INSPIRASI SANG GEMBALA
http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_305_1465471618.jpg
Bulan Juni 2016 merupakan waktu berduka yang mendalam bagi Gereja Kristen Indonesia termasuk juga kita sekalian, karena salah seorang pendeta yang sudah melayani sekian lama di GKI hingga telah memasuki masa emiritusnya sampai dengan sekarang usianya mencapai 64 tahun pada saat Tuhan memanggilnya kembali ke haribaan-Nya dengan cara-Nya. Ya! http://www.satuharapan.com baru-baru ini memuat berita tentang wafatnya Pdt.Em.Peter Then dalam usianya sebagaimana tersebut di atas karena terseret ombak di Bali. Lebih lanjut satuharapan.com menyebutkan bahwa niscaya pada saat itu Pdt.Em.Peter Then sedang berada di Pantai Gelak Bali untuk membuang abu kakak iparnya. Dan terjadilah peristiwa naas itu, dimana Pdt Peter Then (alumni STT Jakarta dan saudara kembar dari Pdt.John Then itu) terhempas ombak dan ikut terbawa arus ombak tersebut. Dalam keterangan pers yang saya (*ESTJ) coba cari dan temukan memang tidak disebutkan tanggal pasti kapan peristiwa terseret ombak itu terjadi dan sampai membuat yang bersaangkutan menghembuskan nafas terakhirnya. Yang jelas di sanan diungkapkan bahwa Pdt.Em.Peter Then yang merupakan pendeta emiritus dari GKI Terusan Pasirkoja itu, pada saat sebelum peristiwa terseret ombak itu terjadi sedang menuruni tangga menuju tepi pantai untuk menabur bunga (sumber: tribunnews.com). Dilansir juga dalam berita tersebut bahwa korban meninggal ada dua orang dan salah satunya Pdt.Em.Peter Then. Yang seorang lagi tidak diketahui namanya. Sedangkan istri Pdt.Em.Peter Then, Ibu Ferina Kurniawan bersama puterinya Estherina yang ikut dalam rombongan keluarga yang terdiri dari 25 orang untuk menghadiri tabur abu itu dilaporkan selamat. Turut menjadi sumber berita yang membenarkan peristiwa wafatnya Pdt.Em.Peter Then adalah Pdt.Gomar Gultom (Sekum PGI) dan Pdt.Kuntadi Sumadikarya (mantan ketua Sinode Wilayah GKI SW Jabar. Berikut adalah kutipan kesaksian hidup dari istri Pdt.Em.Peter Then yang saya (*ESTJ) peroleh dari salah satu kiriman Whatsapp:
“Kesaksian dari yang ngikutin kebaktian kemaren...
CI FeI, istri dari Pak Peter Then...Ci Fei ga mau ninggalin TKP sebelum tubuh suaminya ditemukan. Dia ga bisa terima waktu dibilangin warga setempat...belum pernah jasad bisa kembali di tempat TKP. Tapi Ci Fei dan rombongan melakukan pujian penyembahan dan doa terus-menerus. Akhirnya begitu ombak reda muncul tubuh mereka kelihatan seperti diangkat naik.
Melihat itu penduduk setempat bilang bahwa Tuhan kalian hebat. Biasanya mereka-mereka pakai pawang orang pintar dan sebagainya ga balik. Kalau ketemu beberapa hari itu pun di tempat lain.
Luar biasa ya. Sampai akhir hidup Pdt Peter Then tetap menjadi saksi hidup buat orang lain. Mereka menyanyikan lagu Allah kuasa melakukan segala perkara di hampir satu jam. Puji Tuhan! Tuhan kita memang luar biasa!
Ini kesaksian kemarin malam...
Almarhum Pdt Peter Then tutup usia di usia 64 tahun. Sekitar 40 tahun lalu STT Jakarta dihebohkan dengan kedatangan duo kembar Peter Then dan John Then. Kembar identik, suaranya sama, sama-sama ramah, dua-duanya masuk sekolah teologia karena sama-sama mau jadi pendeta. Dua-duanya sama-sama pintar dan pintar main piano. Mungkin hanya mereka berdua pada masa itu yang bisa main piano. Jadi ketika kawan-kawan di STT sedang jenuh, saat mereka mendengar permainan piano duo kembar ini, langsung tahu pasti John dan Peter yang main. Dan mereka merasa sangat terhibur dengan musik yang dimainkan oleh duo kembar ini.
Setelah lulus, yang sebenarnya dipanggil untuk pelayanan di GKI Kebonjati Bandung adalah Pdt.John Then. Namun saat majelis bermaksud menjemput Pdt.John Then ke Solo, yang ada di rumah adalah Pdt.Peter Then. Dan malah Pdt.Peter Then yang dibawa ke Bandung. Gagal paham kayanya majelisnya...hehehe. Tapi bersyukur banget. Karena kesalahpahaman itu akhirnya Pdt Peter lah yang ditempatkan di Bandung dan kami diberi kesempatan untuk mengenal beliau.
Setelah enam tahun melayani di GKI Kebonjati beliau pindah ke GKI Pasirkoja. Hingga beliau tutup usia beliau tetap setia melayani di situ. Beliau orang pertama yang mengadakan persekutuan bagi tuna rungu di gerejanya. Bahkan ada komisi tuna rungu juga di sana yang melayani hingga saat ini. Menurut mereka Pdt Peter adalah sosok yang penuh teladan, guru, sahabat, pembimbing, penyemangat dan entah berapa banyak lagi predikat yang beliau sandang karena pengabdiannya. Proud of you, Sir.
Khotbah terakhir beliau di GKI Pasirkoja tanggal 5 Juni 2016 kemarin. Seharusnya tema GKI adalah “Allah Melawat Umat-Nya.” Namun beliau meminta izin kepada majelis untuk mengubah tema khotbah Hari Minggu itu menjadi “Jangan Menangis.” Mungkin beliau sudah mendapat firasat bahwa akan dipanggil pulang oleh Bapa. Yang dapat disimpulkan dari khotbah terakhir beliau adalah teruslah bernyanyi dan banyaklah membaca Firman Tuhan.
Baru kali ini datang ke rumah duka dan penatuanya sebanyak itu. Semua rela berdesak-desakan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pdt Peter Then. GKI sungguh berduka dan sangat kehilangan tokoh besar ini. Sungguh pelayanan beliau menyentuh hati banyak orang. Sekarang pak pendeta yang murah senyum ini sudah tiada. Namun pengajarannya akan selalu diingat sepanjang masa.
Bersalaman dengan Pdt John Then tadi langsung seketika seperti melihat Pdt Peter Then. Senyumnya, suaranya, keramahannya, sangat identik. Benar-benar sosok pendeta yang satu ini tidak akan terlupakan.
Selamat jalan pak pendeta. Terima kasih atas pelayanan dan pengabdianmu yang tulus dan membawa nuansa baru bagi seluruh gereja Tuhan di dunia. Perjuangan bapak tidak akan pernah sia-sia. Selamat bernyanyi dan memuji Tuhan di Surga. Sampai waktunya kami akan bertemu bapak di sana. Tuhan memberkatimu Pdt.Em.Peter Then. Sampai berjumpa lagi.”
Jangan bersedih dan jangan menangis, sebagaimana pesan terakhir dari Pdt.Em.Peter Then sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya dari dunia ini dan dari antara kita sekalian. Yakin dan percayalah bahwa ada saatnya dimana kita akan bertemu kembali dengannya di Surga sana. Karena Tuhan kita Yesus Kristus pergi ke sana untuk menyediakan tempat juga bagi kita anak-anak-Nya. Jangan bersedih dan jangan menangis. Kenangkanlah segala kebaikan-Nya yang telah ditunjukkan di dalam dan melalui diri Pdt.Em Peter Then semasa hidupnya. Syukurilah segala kebaikan-Nya yang telah menghadirkan dia di antara kita selama ini. Dan teladanilah segala yang baik daripadanya. Karena dia akan selalu hidup di dalam lubuk hati kita yang paling dalam sekalipun dia kini telah tiada. Mari kita ucapkan bersama-sama selamat jalan pak pendeta. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)